Puisi-puisi Karya Agus Widiey

Hujan Berakhir di Jendela

akhirnya hujan ini berakhir
di tubuh jendela
tempat kita menatap masa depan
dan terkubur akan kenangan
kaca-kaca terlihat rabun kembali
setelah hujan mengakhiri
dengan isyarat genangan
becampur debu pilu-sembilu
bayangan becermin pada cahaya
dan kita mengenang dingin yang renta
serta sungai air mata purba
hujan berakhir di jendela
tapi kita, tak pernah berakhir
meski cinta telah sampai ke hilir
mengalirkan kenangan dari perasaan.

Sumenep, 2021

Sekuntum Rindu Tak Pernah Layu

sekuntum rindu tak pernah layu
mekar di tubuh waktu
menebarkan harum ke dadaku
meski angin, ingin menggugurkan,
akar cintaku tak akan pernah tumbang
sebab, ia telah kekar dalam harapan.

Sumenep, 2021

Napas Penyair

napas penyair menghembuskan kata-kata
yang keluar sebagaimana udara
yang menyusup ke seantero dunia
sementara orang-orang menatapnya
selebihnya ada yang ikut merasakannya
dari waktu ke waktu tak pernah mati
napasnya bertalu-talu melahirkan sebilah puisi.

Sumenep, 2021

Manuskrip Bayang-Bayang

sebelum jarak gugur di hati
engkau bayang-bayang
becermin pada sunyi
rupanya kenangan lebih panjang
melebihi usia musim
seperti engkau yang masih
menyisih luka dan tangis purba.

Batuputih, 2021

Melankolia Sebuah Hati

O,
Sunyi yang gemar membaiat rindu
ceburkan aku pada kegelisahan
meski tanpa kabar, tanpa temu, tanpa tatap
batas-batas tak pernah menetas
jarak mencium bibir waktu

O,
meski cahaya lupa akan yala
setidaknya ceruk hati basah
dan serbuk kata-kata absah
melahirkan sajak melankolia.

Sumenep, 2021

———————————–
Agus Widiey, Lahir di Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur, 17 Mei 2002. Sekarang masih tercatat sebagai santri PP Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep, Madura. Puisi-puisinya tersiar dalam berbagi media. Antologi puisi bersamanya antara lain Rumah Sebuah Buku (2020), Hidup Itu Puisi (2020), Subuh Terakhir (2020), Seruling Sunyi Untuk Mama (2020), Sumpah Pemuda (2021), Merapal Jejak (2021), dan Goresan Kenangan (2021). Juga pernah memenangkan lomba menulis Majelis Sastra Bandung tahun 2021. ***

Baca: Puisi-Puisi Karya J. Akid Lampacak

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.