Cerpen Ediruslan Pe Amanriza: Sang Pemburu

ORANG-ORANG ladang mengenalnya sebagai pemburu. Barangkali karena dia selalu mengembara dalam belukar dan semak-semak. Dan tanda-tanda kearah itu semakin terbina oleh beberapa bilah pisau yang senantiasa bergantung di pinggangnya, meskipun ia sama sekali tanpa senjata api. Dia Cuma memakai sepatu laras tinggi dan memasukkan kaki celananya ke dalam laras sepatu itu. Rambutnya gondrong mencecah sampai kebahu. Pakaiannya kotor, sarat oleh daki dan barangkali semakin terasa sejuk dibadanya. Wajahnya kelihatnya kusut. Gurat-gurat hitam semakin jelas terturis di mukanya, meskipun tanda-tanda ketuaan itu terlindung bayangan topi pandan lebar di kepalanya. Penampilannya memang meyakinkan sebagai pemburu, dan dia memang dipanggil sebagai pemburu.

Tak seorang pun yang tahu dia datang dari mana. Cuma, kalau dia berjalan dari arah utara dan singgah di sebuah kampung, orang-orang kampung itu lantas mengatakan dia lelaki dari utara. Begitu pula kalau dia datang dari arah barat, timur, atau arah yang dikenal sebagai penjuru mata angina lainnya. Sebuah sebutan yang gagah dan fantastis.

Predikat pemburu memang lebih lekat kepadanya. Dan melihat keadaannya dia mau tak mau harus dipanggil sebagai pemburu, meskipun kadang-kadang sebutan itu membuatnya menjadi risih sebab predikat itu memang tak sepadan dengannya. Sebenarnya secara diam-diam diakuinya bahwa dia sesungguhnya tidak layak dipanggil sebagai pemburu. Seorang pemburu semestinya harus dapat membuktikan hasil buruannya. Sementara dia sendiri belum pernah mendapatkan seekor binatang pun. Pisau yang tergantung di pinggangnya belum pernah merasakan betapa segarnya darah binatang buruan. Jadi sebenarnya gelar pemburu tidak layak di sandangnya. Tapi orang-orang kampung tetap memanggilnya “Pak Pemburu!” dan seruan itu membuatnya kian hari kian bertambah gundah. Betapa tidak, bukankah dengan demikian dia hanya menyandang predikat kosong. Suatu keadaan yang memalukan, sungguh dia benar-benar merasa malu, dan perasaan itu tidak saja senantiasa menggodanya tapi sekaligus juga mendesaknya untuk benar-benar menjadi pemburu. Dia harus mempertanggungjawabkannya. Bukan kepada siapa-siapa. Bukan kepada orang-orang kampung, sebab orang-orang bias saja dikibuli. Bukankah tidak seorang pun diantara mereka yang pernah tahu bahwa ia tak pernah mendapatkan seekor binatang buruan pun. Tapi dirinya? Bukankah dia tidak dapat mendustai dirinya sendiri.

“Tapi bagaimana caranya? Bukankah untuk membuktikan bahwa aku ini benar-benar seorang pemburu adalah pekerjaan yang berat. Buktinya, telah tiga puluh lima tahun lamanya aku mengembara dalam hutan belantara dan semak-semak, tak pernah aku berhasil menangkap seekor burung pipit sekalipun. Atau sebaliknya aku terus terang tapi…” katanya ragu-ragu dalam hati. “Kalau kukatakan kepada orang-orang kampung itu bahwa aku ini sebenarnya bukan pemburu, barangkali mereka mau mengerti, tapi bila mereka menanyakan sesungguhnya aku siapa, bagaimana aku menjawabnya,” katanya lagi semakin ragu-ragu dalam hati.

Dia mulai berpikir keras, mencoba merekat sisa kenangan masa lalunya. Tapi selalu saja masa tiga puluh tahun kebelakang tak mampu diloncatnya. Sementara dalam kurun waktu tiga puluh lima tahun itu seruan “Pak Pemburu!” terus diteriakkan orang-orang kampung sepanjang hari. Tiba-tiba ia terkenang masa mudanya. Suatu waktu dulu, di kampung tepat kelahirannya, ia pernah dikenal sebagai pemain tonil. Ia ingat sekarang, betapa orang-orang kampungnya menyenangi permainannya dalam setiap pementasan yang dilakukan rombongan sandiwaranya. Ia ingat betapa penonton selalu mengelu-elukannya begitu ia tampil di panggung dan menerima sanjungan serta ucapan seusai pertunjukan. Beberapa tahun lamanya ia dipanggil sebagai aktor. Aktor ternama. Tapi sekarang untuk kembali pada sebutan itu, ia sudah kelewat tua. Ia sudah tidak pantas lagi disebut sebagai pemain tonil. Lagi pula pekerjaan itu sudah lama tak dilakukannya. “Ah, sudahlah titik. Lupakan saja masa lalu itu,” katanya dalam hati sambil merebahkan diri di rumput-rumput pematang.

Malam sudah jatuh. Malam ini Ia benar-benar ingin istirahat. Total. Beberapa kali ia berusaha mencoba mengosongkan pikirannya sambil memejamkan mata. Ia ingin tidur dan melupakan segalanya. Tapi ia tidak bias tidur. Pikirannya tidak bias kosong. Kini ia teringat kepada seorang perempuan tua yang berkunjung bersamanya suatu sore ke sebuah kuburan. Ketika itu ia masih kanak-kanak. Masih terngiang-ngiang di telinganya, apa yang diucapkan perempuan itu kepadanya. “Ini adalah kuburan ayahmu,” ujar perempuan itu sambil terisak. Perempuan itu adalah neneknya. Senja berikutnya, neneknya membawanya pula kedua kuburan lain. Dan di sana perempuan tua itu juga berkata kepadanya, “Ini adalah kuburan ibumu, dan itu kuburan ayahmu,” ucapan yang membuatnya tercengang. Ia menatap perempuan tua itu dengan heran. Tapi perempuan dengan cepat dapat menangkap pikirannya, dan segera menceritakan sesuatu kepadanya.

“Waktu itu perang. Ibumu tergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh kedua lelaki itu, sebagai palang merah. Setelah berbulan-bulan dikejar musuh, pasukan itu akhirnya musnah. Yang tersisa hanyalah mereka bertiga. Ibumu dan kedua lelaki itu. Mereka terus juga mengembara hingga pada suatu hari mereka diserang musuh. Kedua lelaki itu mati dalam penyergapan, tapi ibumu selamat dengan benih kedua lelaki itu dalam kandungannya. Ibumu tak dapat memastikan mana yang lebih dulu diantara kedua lelaki itu yang memberikan cintanya kepadanya. Akhirnya ibumu berketetapan bahwa kedua lelaki itu adalah ayahmu yang kelak harus diberitahukan kepadamu setelah engkau dewasa. Terimalah mereka sebagai ayahmu tanpa menyesali masa lalu mereka yang kelabu,” tutur perempuan tua itu sambil menyapu air mata yang jatuh menitik pipinya dengan ujung kerudung. Ia masih kanak-kanak. Ia tak mengerti apa yang telah diucapkan perempuan tua itu. Ia hanya tercengang dan menatap wajah neneknya yang keriput. Tiba-tiba ia pun iba melihat kesedihan perempuan tua itu. Kemudian perempuan tua itu membimbing tangannya. Mereka segera meninggalkan tanah perkuburan itu, sementara senja semakin temaram.

Setelah perang usai dan keadaan aman, orang-orang kampung memindahkan kedua kuburan lelaki itu ke taman pahlawan. Masih segar dalam ingatannya, ia dan neneknya hadir dalam upacara pemindahan itu, dan kemudian menerima sejumlah hadiah dari pak lurah. Sejak hari itu orang-orang kampung menyerunya sebagai anak pahlawan. Tapi gelar itu tak lama didengarnya, sebab setelah neneknya meninggal ia pun pergi mengembara.

Ia duduk kembali. Malam kian sepi. Dalam hati tak henti-hentinya ia menyebut ketiga gelar yang pernah diterimnya. Anak Pahlawan? “Ah, ini tidak menarik. Kedua lelaki itu dapat kuterima sebagai ayahku karena itu adalah nasibku. Tapi untuk menyebut mereka pahlawan aku masih ragu-ragu. Nenek tidak pernah menceritakan bahwa mereka pernah membunuh musuh. Soal mereka kemudian dipindahkan ke taman makam pahlawan, itu sebagai anak pahlawan dari orang yang bukan pahlawan,” ujarnya dengan jijik.

“Aktor? Pemain Tonil? Hoii…! Malulah! Bukankah kau sudah kelihatan tua. Sudah bangkotan! Lagi pula kau sudah tiga puluh lima tahun tak naik panggung,” serunya, mengejek dirinya sendiri. “Pemburu pemburu! ini hebat. Sepatuku, rambut, pisau-pisau dan pakaianku, pengembara atau paling tidak angan-anganku, menunjukkan tanda-tanda bahwa aku adalah seorang pemburu. Soalnya lagi sekarang, aku harus membuktikan bahwa aku adalah benar-benar seorang pemburu. Sebab untuk disebut sebagai pemburu orang harus telah pernah mendapatkan seekor binatang atau lebih sebagai hasil buruan. Ah, itu gampang. Itu perkara mudah.” Sambil tertawa ia berdiri. Kemudian berjalan pelan-pelan dalam gelap malam menuju cahaya api dari kampung.

Ia sampai di kampung. Sepi. Semuanya sudah tertidur lelap. Ia menyelusup sambil memainkan matanya dalam gelap. AKhirnya ia menemukan sebuah kandang. Ia membuka pintu kandang itu lalu menyuruk kedalam. Dalam gelap malam Ia dapat meraba kaki seekor binatang. Dengan cepat ia mencabut pisau yang tergantung di pinggangnya, lalu menghujamkan tikaman berkali-kali di tubuh binatang itu. Kambing itu pun mati dan keribut itu timbul di kandang itu. Dengan cepat ia menyeret kambing itu keluar dan memikulnya. Ia pun segera berlalu.

Sepanjang kampung yang dilaluinya semua orang melihatnya menyandang seekor binatang buruan dan anak-anak mengikutinya sambil berteriak: “Pak pemburu sudah pulang. Hidup pak pemburu! Hidup pak pemburu!”

Ia tak ingat lagi berapa kampung yang sudah dilewatinya beberapa hari, berapa bulan atau beberapa tahun lamannya sudah ia berjalan sembari memikul binatang buruannya itu. Tapi bangkai kambing itu sudah lunak dibahunya dan berbau, sementara ia sendiri pun sudah mulai lelah. Namun sekarang ia sudah puas. Ia benar-benar menjadi pemburu, dan orang-orang kampung sudah menyaksikannya.

Suatu pagi ia kedapatan mati di pinggir kampung di sisi bangkai kambing yang kian membusuk. Orang-orang kampong bersepakat untuk menguburkannya di pinggir kampung dan kemudian mereka menyebutkan kuburan itu sebagai kuburan “Pemburu Sejati”. ***

*) Dikutip dari buku “100 Tahun Cerpen Riau”

————————
Edi Ruslan PE Amanriza, lahir di Pekanbaru pada tanggal 17 Agustus 1947. Wafat pada 3 Oktober 2001. Adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Mengawali proses kreatifnya sebagai pengarang sejak duduk di bangku SMP, tetapi secara sungguh-sungguh baru ia lakukan sekitar tahun 1967. Sejumlah karyanya berupa puisi dan cerpen tercatat pernah dimuat di beberapa media massa. Karyanya dalam bentuk kumpulan puisi yang telah diterbitkannya, antara lain, Vogabon (1975), Surat-Suratku Kepada GN (1981), Nyanyian Wangkang (1999), sebuah antologi bersama penyair Taufik Ikram Jamil, Antara Mihrab dan Bukit Kawin (1992). Sedangkan karya-karya dalam bentuk roman atau novel yaitu, Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Ke Langit (1993), Jembatan (Kekasih Sampai Jauh), Perang Bagan dan Stasiun di Kaki Bukit. Selain itu, ia juga menerbitkan satu-satunya kumpulan cerpennya, Renungkanlah Markasan (DKR, 1997). Dua novelnya, Jakarta di Manakah Sri dan Di Bawah Matahari, diterbitkan di Kualalumpur, Malaysia. Sementara roman-romannya yang lainnya diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta. *

Baca : Cerpen Dewi Lestari: Malaikat Juga Tahu

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]