Cerpen Fatih Muftih: Bangkitnya Surau Kami

Ilustrasi

TERIK matahari masih mengguyur langit Tanjungpinang siang ini. Kota yang juga merupakan ibukota Kepulauan Riau ini jika siang panasnya memang bukan main. Belum lagi ditambah dengan butiran debu yang berasal dari bukit-bukit bauksit yang sedang disengat kobelco menambah sesaknya udara panas kota yang juga berjuluk Kota Gurindam.

Namun, keadaan itu semua tidak mematahkan semangat seorang remaja berbaju kurung (baju koko) untuk pergi ke surau menunaikan ibadah sholat dzuhur berjamaah. Surau tua yang atapnya sudah tidak lagi utuh. Jika ditanya tentang dinding dan warna catnya, sudah bagaikan kulit jagung yang terbakar oleh sengatan bara api. Warna putih yang dulu mendominasi kini sudah mengelupas memunculkan kembali warna asalnya. Untung saja tempat wudhu yang juga sudah lapuk masih mampu mengalirkan air bagi setiap umat muslim yang ingin menunaikan ibadah sholat.

Remaja itu dengan suaranya yang sangat pas-pasan memekikkan panggilan semesta, yang dilantunkan untuk para pekerja, para siswa, para guru, juga ibu-ibu rumah tangga untuk meluangkan waktunya sejenak untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur sebagai menu sebelum menuju meja makan.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. La Ilaha illallah.

Sembari menunggu jamaah yang lain berdatangan, remaja itu menyibukkan dirinya dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Usai membaca kitab suci, remaja itu juga menyempatkan dirinya untuk menyapu surau yang akan digunakan untuk sholat.

Sepuluh menit berselang, belum satu jamaah pun yang datang. Termasuk imam surau. “Ke mana ia,” tanyanya dalam hati. Tepat setelah lima belas menit menunggu, bukan imam surau yang datang melainkan seorang Atok. Atok Mahmud namanya. Akhirnya, iqomah pun dikumandangkan dan sholat ditunaikan dengan komposisi dua orang. Atok Mahmud sebagai imam dan remaja itu sebagai makmumnya.

Begitulah keadaan Surau Al-Mutaqin. Selalu lengang dan senantiasa berdebu alu akibat ditinggal para muttaqin (orang-orang taqwa) yang bernaung di dalamnya.

Usai sholat, remaja itu pulang dengan hati bertanya-tanya. Mengapa tidak ada satu pun warga yang peduli dengan nasib surau Al-Muttaqin. Padahal surau ini terletak di tengah-tengah perumahan warga. Namun tak satu pun dari penduduk yang mau beribadah di sana. Kebersihan dan keindahan surau pun tidak lagi terperhatikan.

Pernah tersiar kabar surau ini akan digusur, sebab di ujung jalan sudah berdiri Masjid Al-Hikmah. Jadi apa gunanya memiliki surau, hanya merusak pandangan mata saja. Begitu selentingan yang pernah ia dengar dari salah seorang warga.

Remaja itu bernama David. Jangan kira dia adalah seorang anak keturunan Cina atau golongan dari orang-orang berada. Ia asli Padang, yang merantau ke Tanjungpinang mengadu untuk nasib. Ia hidup sendiri di sebuah kos-kosan sederhana. Pagi hari ia bekerja sebagai seorang loper Koran, sore harinya ia selalu sibuk dengan urusan kuliahnya. Ia kuliah di FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji Program Studi Bahasa Indonesia semester tiga. Perjalanan menuju sarjana baru saja ia mulai.

Walaupun hidupnya sangat sederhana, bahkan jauh dari kata mewah, akan tetapi tidak menghalangi tekadnya untuk mempertahankan keutuhan Surau Al-Muttaqin. Entah dari mana ia mendapatkan dana untuk merenovasi surau itu. Dia hanya percaya pada Allah. Pasti di setiap jengkal bumi yang diciptakan-Nya terdapat rejeki bagi makhluknya. Begitu yang ia yakini.

Hari ini David memiliki agenda untuk menemui Pak Udin, Ketua RT yang juga sekaligus ketua pengurus Surau Al-Muttaqin. David ingin menanyakan tentang nasib kelanjutan surau yang berada di tengah perumahan warga itu.

“Saya sebenarnya masih ingin melihat surau itu tetap berdiri gagah sebagai jantung perumahan kita, Nak David. Akan tetapi seperti yang Nak David lihat, surau itu kini tidak lagi terurus. Yang jadi kendala sebenarnya adalah dana. Pak RW dan beberapa tokoh masyarakat juga terus mendesak saya untuk segera mengambil sikap atas surau ini. Apakah memang tetap dipertahankan atau tidak,” jelas Pak Udin pada David.

“Waktu yang mereka berikan untuk Bapak berpikir sampai kapan?” tanya David.

“Sekitar satu bulan inilah, Nak. Bapak juga bingung. Apalagi masyarakat sekitar juga terus meminta Bapak untuk merobohkan surau itu. Bapak sekarang benar-benar pening,” keluh Pak Udin.

“Pak, apa pun yang terjadi surau itu harus tetap berdiri, karena surau itu satu-satunya tempat ibadah yang paling dekat dari lokasi perumahan warga. Jika yang dekat saja banyak dari warga yang tidak berjemaah, apalagi tempat ibadah umum kita akan dipindah ke masiid di ujung jalan,” kata David.

David melanjutkan, “Walaupun saya di sini hanyalah sebagai seorang loper koran dan mahasiswa, perkenankanlah saya untuk ikut turut memikirkan kelangsungan surau ini, Pak. Saya akan membantu sebisa saya. Bukankah selama ada niat baik akan ada jalan yang bisa ditempuh?”

“Bapak senang sekali mendengarnya. Ternyata masih ada remaja yang mau memikirkan surau ini. Akan tetapi, Nak, seperti yang Bapak katakan, kita tidak memiliki waktu banyak untuk menyelamatkan surau itu. Kurang lebih hanya sekitar satu bulan.”

“Insya Allah saya bisa menghasilkan sesuatu dalam sebulan ini untuk menyelamatkan surau kita, Pak …” kata David.

Kini David sudah mendapat lampu hijau untuk membantu surau. Akan tetapi ada satu yang masih sangat mengganjal di otaknya. Uang. Bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang untuk merenovasi surau tersebut. Sambil melangkahkan kaki menuju kamar kosnya, dia terus menyenandungkan lafaz La haula wa laa quwwata illa billah. Semua aku kembalikan padamu, ya Allah …

***

“Bagaimana nak David?”

Bunyi short message service (sms) yang David terima dari Pak Udin. David sudah paham apa yang dimaksud Pak Udin. Apalagi kalau bukan soal dana yang sepeser pun belum juga ia dapatkan. Padahal waktu sudah berjalan di hari kedua puluh lima.

“Insya Allah, Pak. Semuanya akan baik-baik saja. Mohon doanya,” David membalas sms Pak Udin.
Usai menerima sms Pak Udin, kepala David berputar hingga 360 derajat. Mencari-cari arah mana yang paling pas untuk mendapatkan uang. Sedangkan waktu terus berjalan. Dengan raut muka sedikit penuh keputusasaan, David membuka buku tabungannya. Yang tertera di kolom saldo hanya angka angka lima yang juga diikuti oleh lima digit angka nol. Itu adalah uang yang ia sisihkan dari setiap gaji bulanannya.

Dengan uang segini apa yang bisa aku lakukan, pikirnya dalam hati. Aku harus mencari lebih banyak lagi dari ini. Jika yang terkumpul hanya segini aku yakin, surau itu akan diratakan. Uang segini hanya cukup untuk membeli keran air ….

Dalam hatinya ia berdoa, “Ya, Allah, ridloilah usaha hamba untuk menjaga surauMu ini …. Aku percaya, dengan ridlo-Mu semuanya akan menjadi terasa lebih mudah. Amin …”

Allah Maha Mendengar dari setiap doa hamba-Nya. Suatu malam, usai berlatih membaca puisi di rumah sahabatnya di Jl M.T Haryono Km 3, David mengalami sedikit musibah. Ban depan motor Astrea Grand keluaran tahun 1996 miliknya terkena paku tepat di depan SPBU di Km 3. Jam tangannya sudah menujukkan pukul 01.00 dini hari. Wah, ke mana aku akan menambal ban dalam jam segini, David mulai risau.

Tepat di tikungan menuju arah Hotel Bintan Plaza, ia melihat lampu remang-remang menyala. Tidak salah lagi, itu pasti tukang tambal ban. David pun bergegas menuntun motor tuanya ke arah sumber cahaya tersebut. Benar, sumber cahaya itu memang tukang tambal ban yang masih mengais rezeki di tengah ngilu dinginnya udara malam Tanjungpinang. Akan tetapi David harus sabar mengantri karena tukang tambal ban itu juga sedang menangani “pasien”, sebuah motor metik biru milik perempuan yang duduk di ruang ban tersebut. .

Perempuan itu memperkenalkan dirinya pada David. Namanya Mila. Penampilannya cukup ‘berani’ karena bisa menggugah gairah lelaki mana pun yang melihatnya. Mila mengenakan atasan t-shirt ketat berwarna putih dengan bawahan short pan berbahan jeans. Tergeletak di sampingnya jaket kulit berwarna hitam.

“Dari mana, Kak? Pulang kerja ya?” tanya David basa-basi.

“Ah, jangan panggil kak, panggil saja Mila. lya, tapi nasib lagi sial. Ban malah bocor. Kamu sendiri dari mana jam segini? tanyanya balik.

“Tapi lebih sial lagi jika kita tidak menemukan tukang tambal ban. Untung saja di sini masih buka. Saya habis belajar di rumah teman.”

Obrolan pun berlanjut. Bahkan Mila tidak segan menunggu hingga ban motor David selesai ditambal. Awalnya David ingin langsung berpamitan karena malam sudah semakin larut, namun mila melarangnya, karena ia masih ingin banyak berbincang dengan David.

Rumah makan Padang Atta di Jalan Gatot Subroto pun dipilih sebagai tempat melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda di tukang tambal ban.

Lama berbincang ke utara selatan membuat mereka lupa jika azan subuh sebentar lagi akan berkumandang. Baik David atau pun Mila sama-sama merasa asyik. Mungkin karena mereka berdua sama-sama berdarah Padang. Jadi yang dibicarakan masih seputar kampung halaman. Pertemuan singkat malam itu pun diakhiri dengan bertukar nomor handphone.

Tepi laut menjadi tempat pertemuan mereka kali kedua. Cappucino panas menjadi pelengkap ditemani angin laut yang menggoyangkan ombak.

“Sepertinya kamu sedang menyimpan masalah, Vid?” tanya Mila.

“Sok tahu kamu. Ya, aku memang sedang ada masalah. Tapi bukan masalah pribadi,” kata David.

“Lantas?”

David pun menceritakan masalah yang menimpa surau di tempat dia tinggal. Dari awal hingga akhir, yang keberadaannya kini tinggal menghitung hari. la juga menambahkan bahwa ia telah berjanji pada ketua RT akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan dana untuk biaya renovasi. Namun, hingga kini ia belum juga mendapatkan dana yang dibutuhkan. Proposal permohonan bantuan yang disodorkan pada instansi pemerintah juga masih belum mendapatkan kabar.

“Sungguh mulai hati kamu, Vid. Tidak kusangka masih ada orang seperti kamu yang memikirkan lingkungan sosialnya,” puji Mila.

“Aku hanya mencoba untuk berbuat baik saja ….”

Lama terdiam, tiba-tiba Mila mengeluarkan amplop cokelat dan menyodorkan pada David.

“Apa ini, Mil?” tanya David tersentak.

“Vid, aku tahu kamu pasti tahu siapa aku sebenarnya dan apa yang aku tiap malamnya. Tapi aku percaya kamu. Yang terpenting sekarang menyelamatkan surau itu dari penggusuran. Aku tahu itu uang haram. Bukan uangnya yang haram, melainkan caraku mendapatkannya yang haram.”

Ia menerawang, air mata mulai membasahi pipi Mila. Entah apa yang ia pikirkan.

“Sebenarnya bukan kehendakku menjadi seperti ini. Entahlah …. Hanya itu jawaban yang ku tahu. Aku yakin dan sangat percaya Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Aku tahu dalam hatimu pasti bertanya, `bolehkah uang ini digunakan untuk-membangun surau?’ Boleh atau tidak aku tak tahu. Tapi yang ku tahu Allah, Tuhan kita, selalu memberikan kesempatan buat hamba-Nya untuk berbuat baik. Sekarang itulah yang kuminta padamu, Vid. Wujudkan kesempatanku untuk berbuat baik.”

Isak tangis pilu Mila semakin menjadi. Ia buru-buru menyeka air matanya mengetahui ponselnya berdering. Sesaat setelah itu mematikannya, ia berpamitan pada David karena ada urusan yang harus diselesaikan. Sebelum meninggalkan tepi laut, ia membisikkan sesuatu pada David, “Doakan aku. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.”

Motor metik-nya memecah keheningan malam di tepi laut, membuyarkan lamunan David yang sedang menggenggam amplop cokelat tebal.

***

Petang ini, tiga bulan sudah David menjalankan tugas barunya menjadi guru ngaji selepas sholat maghrib. Tentu saja bukan di masjid, melainkan di surau tercinta. Al-Muttaqin. Surau itu kini telah bangkit kembali . Seperti mengalami reinkarnasi.

Walaupun pada awalnya uang yang David dapatkan sempat ditentang oleh Pak Udin, namun setelah mendengarkan penjelasan David, beliau pun mengerti. Sumber dana renovasi pun. Renovasi pun dimulai.

Uang dari Mila seolah seperti sebuah induk yang selalu diikuti oleh anak-anaknya. Proposal yang dikirimkan David juga mendapat respons yang baik. Bantuan dari pemerintah kota dan pemerintah provinsi turun bergulir. Surau Al-Muttaqin kini terlahir kembali.

Bukan hanya bentuk fisiknya saja yang mengalami renovasi, david juga merenovasi kegiatan rohaninya. Selain membentuk kegiatan pengajian bulanan kecil-kecilan untuk ibu-ibu, David juga mengajak anak-anak kecil sekitar surau untuk mengaji selepas maghrib sembari menunggu isya datang.

Pada saat mengajar, ternyata ada seorang murid bernama Mila. Alam bawah sadarnya langsung mengakses ingatan tentang Mila yang ditemuinya di tukang tambal ban malam itu. Mila yang Mila yang menyebabkan semuanya jadi seperti ini.

Usai sholat isya, dia duduk di beranda surau yang kini lebih luas dari sebelumnya. Dia kembali mengingat masa-masa awal kali bertemu dengan Mila. Senyumnya, tawanya, dan wangi parfumnya. Aku harus mengajak Mila melihat kondisi Surau Al-Muttaqin saat ini. Pasti dia akan bangga, pikirnya dalam hati.

David mencari Mila ke komplek Bintan Plaza, tempat di mana ia kali pertama bertemu. Ia coba menghubungi melalui ponsel berkali-kali, namun nomor itu tidak aktif. Tidak tahu ke mana lagi ia harus mencari. Ada berapa banyak nama Mila di sini? Dia memutuskan untuk berjalan di teras-teras tempat hiburan yang ada di depannya.

Seorang wanita dengan pakaian ketat dipadu dengan rok mini mendatanginya. Sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik David.

“Malam, Bang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Maaf, Kak. Saya sedang mencari perempuan bernama Mila. Dia berkerja di sekitar sini. Kakak kenal?”
“Wah, ada tiga perempuan bernama Mila di sini. Mila yang mana?”

“Dia mengendarai motor metik berwarna biru ….”

“Oh, saya tahu. Tapi …” tiba-tiba ucapan perempuan itu terputus. Ia memilih untuk menyulut kembali rokoknya.

“Kenapa, Kak?” jantung David berdegup menanti perempuan itu.

“Mila yang Abang cari itu sudah meninggal dua hari akibat kecelakaan di Jalan Wiratno. Abang.ini langganannya ya?

Seketika David terdiam dan meninggalkan perempuan itu yang masih memanggilnya. Telinga David sudah terasa tuli mendengar berita yang didengarnya. Mila kini telah pergi dan David merasa sangat menyesal belum sempat mengajaknya ke Surau Al-Muttaqin.

Hanya selaksa doa yang pernah David janjikan pada Mila menghibur hatinya. “Ya, Allah, Tuhan yang mengetahui mana yan terbaik dan terburuk bagi hamba-Nya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Mila. Entah ini benar atau salah, ia adalah hamba-Mu yang telah tersesat. Dan ia kini telah mendatangi-Mu. Ya, Allah, sucikanlah badan-Nya dari hinanya dunia dan bangunkanlah untuknya rumah di surga-Mu sebagaimana ia telah membangunkan surau buat kami di dunia.

Tak terasa air matanya berlinang, air mata untuk seorang pelacur yang kini telah tiada. Pelacur yang bersih hatinya, pelacur yang bagi dirinya sangat mulia. Tanpa sadar ia kembali menadahkan tangan, berdoa agar Allah memuliakan pelacur di surga-Nya. ***

Tanjungpinang, 27 November 2010

*) Cerpen ini dikutip dari buku “100 Tahun Cerpen Riau”

————–
Fatih Muftih. Lahir di Banyuwangi. Kini sedang merantau ke Tanjungpinang. Selalu percaya dan yakin pada tiap mimpinya. Targetnya paling dekat adalah menikmati secangkir hot cappuccino Starbucks di Madison Square Garden, New York bersama gadis impiannya. Salah satu karya kumpulan cerpennya yang populer adalah Takkan Melayu Hilang Di Jawa. Selain menulis cerpen, Fatih Muftih juga penulis puisi esai. Kumpulan esai terbaru berjudul Mengapa Mario Menghidupkan Raja Ali Haji. ***

Baca: Cerpen Adam Yudhistira: Orang-Orang Pabrik

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]