The Little Black Fish

Ilustrasi

OLEH: SAMAD BEHRANGI

[bagian 2]

LEMBAH itu meliuk-liuk dan berliku-liku. Suak itu makin ke hilir kian dalam dan lebar. Tapi kalau kalian melihat ke bawah ke arah lembah dari ketinggian puncak gunung, suak itu hanya akan tampak seperti sehelai benang putih yang tergerai. Pada suatu tempat, sebongkah besar patahan batu gunung yang jatuh ke dasar lembah membelah aliran menjadi dua cabang. Seekor kadal besar seukuran tangan manusia tampak lagi bersantai di atas batu itu. Dia sedang menikmati kehangatan sinar matahari dan tengah memperhatikan seekor kepiting yang sedang beristirahat di pasir di dasar kali di bagian yang dangkal. Kepiting itu tengah melahap seekor kodok yang berhasil ditangkapnya.

Little Black Fish yang tiba-tiba melihat sang kepiting, menjadi cemas dan ketakutan, menyapanya dari kejauhan. Sang kepiting menjeling sekilas pada Little Black Fish dan berkata,

“Sungguh kamu ikan yang sopan. Mari mendekat, Nona Kecil. Ayo!”

“Aku akan pergi untuk melihat dunia,” sahut Little Black Fish, “dan aku takkan pernah mau tertangkap olehmu, Tuan!”

“Nona Kecil, kenapa kamu begitu cemas dan takut?” tanya sang kepiting.

“Aku tidak cemas dan juga tidak takut. Aku berbicara tentang semua yang pernah aku lihat dan mengerti.”

“Baiklah kalau begitu.” sahut sang kepiting pula. “Katakanlah padaku apa yang telah kamu lihat dan mengerti yang membuat kamu berpikir aku akan menangkapmu?”

“Jangan coba-coba menipuku!”

“Apa yang kamu maksudkan adalah sang kodok ini?” tanya si kepiting kemudian. “Betapa naifnya kamu, Nak! Aku punya masalah dengan kodok ini; itulah alasan mengapa aku memburunya. Apa kamu tahu, mereka pikir merekalah satu-satunya makhluk di dunia ini, yang dengan begitu berarti mereka sungguh beruntung. Aku hanya ingin membuat mereka mengerti siapa tuan yang sebenarnya di dunia ini! Jadi, kamu tak perlu takut, Manis. Kemarilah. Ayo.”

Selagi sang kepiting berbicara ia beranjak perlahan ke arah Little Black Fish. Gaya berjalannya terlihat begitu lucu yang membuat si ikan kecil tak dapat menahan tawa dan berkata,

“Makhluk yang malang! Kau bahkan tak tahu bagaimana cara berjalan. Bagaimana bisa kau sudah belajar mengendalikan dunia?”

Little Black Fish menjauhkan diri dari sang kepiting. Sebuah bayangan jatuh ke permukaan air dan tiba-tiba saja suatu hembusan yang keras menekan sang kepiting ke dalam pasir. Sang kadal tertawa begitu keras melihat ekspresi wajah sang kepiting sehingga membuatnya tergelincir dan hampir jatuh ke dalam air. Wajah yang kaget dan ketakutan. Sang kepiting tak sanggup berdiri.

Little Black Fish melihat seorang penggembala muda sudah berdiri di bibir air memperhatikan dia dan sang kepiting. Sekawanan domba dan kambing telah mendatangi permukaan air dan menyorongkan moncongnya minum dengan lahap. Lembah itu pun penuh dengan suara-suara ‘meh meh’ dan ‘bah bah’.

Little Black Fish menunggu hingga domba-domba dan kambing-kambing itu menyelesaikan minum mereka dan pergi, kemudian menyapa sang kadal.

“Kadal yang baik, aku adalah seekor ikan black fish yang sedang pergi mencari ujung aliran suak ini. Aku pikir kau pastilah makhluk yang bijaksana, jadi, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu.”

“Tanyalah apa yang kamu inginkan.”

“Sepanjang perjalanan ini, banyak sekali yang telah menakut-nakutiku tentang burung pelikan, ikan todak, dan bangau. Kautahu sesuatu tentang mereka?”

“Ikan todak dan bangau,” ulang sang kadal, “mereka tidak akan ditemukan di daerah sini, terutama ikan todak yang tinggalnya di laut. Tapi pelikan mungkin, agak jauh di bawah sana. Hati-hatilah, dia dapat memperdayai dan menangkapmu ke dalam kantungnya.”

“Kantung apa?”

“Di bawah tenggorokannya,” jelas sang kadal, “burung pelikan punya sebuah kantung yang dapat menampung banyak air. Saat pelikan berenang, ikan tanpa menyadarinya kadangkala ikut masuk ke dalam kantungnya dan terus meluncur ke dalam perutnya. Tapi kalau pelikan tak lapar, dia bisa menyimpan ikan di dalam kantungnya itu sementara waktu untuk dimakan kemudian.”

“Kalau seekor ikan masuk ke dalam kantung itu, apakah ada cara untuk keluar kembali?”

“Tidak ada. Kecuali kalau dia dapat merobek kantung itu.” jawab sang kadal. “Aku akan memberimu sebilah belati yang dengan begitu bila kamu tertangkap olehnya kamu dapat menggunakannya.”

Sang kadal kemudian merangkak ke dalam rekahan batu dan lalu kembali dengan sebilah belati yang sangat tajam. Little Black Fish menerima belati itu dan berkata,

“Kau sungguh baik sekali! Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih.”

“Tidak perlu berterimakasih kepadaku. Aku masih punya banyak belati yang seperti itu. Saat tidak ada apa pun yang harus kulakukan, aku biasa duduk-duduk dan membuat belati seperti itu dari sehelai ilalang, dan kemudian memberikannya ke ikan yang pintar seperti dirimu.”

“Apa?” Little Black Fish kaget. “Ada ikan lain yang lewat di sini sebelum aku?”

“Banyak. Mereka biasa berkelompok, dan mereka sering membuat nelayan kerepotan.”

“Maafkan aku kalau bertanya terlalu banyak dan cerewet, tapi tolong ceritakan padaku bagaimana mereka itu bisa membuat para nelayan kerepotan?”

“Begini,” jawab sang kadal, “mereka mengecoh secara bersama-sama. Ketika nelayan melemparkan jaringnya, mereka masuk ke dalamnya, menarik jaring itu bersama-sama, dan menyeretnya hingga ke dasar laut.”

Sang Kadal menempelkan telinganya ke rekahan batu, mendengar, dan kemudian berkata,

“Aku harus pergi sekarang. Anak-anakku sudah bangun.”

Sang kadal pun pergi masuk ke dalam rekahan batu itu. Little Black Fish tak punya pilihan lain selain pergi juga. Tapi ada banyak pertanyaan yang terus menerus terngiang-ngiang di dalam benaknya. “Benarkah bahwa sungai kecil ini mengalir ke laut? Apa benar ikan todak suka membunuh dan memakan apa pun yang didapatnya? Mengapa bangau adalah musuh ikan?”

Little Black Fish melanjutkan perjalanannya dan bertanya-tanya. Sepanjang perjalanan dia melihat dan mempelajari berbagai hal baru. Bagaimana dia suka berjungkir-balik, jatuh terguling-guling di air terjun, dan kemudian berenang lagi. Ikan kecil itu merasakan kehangatan matahari dan kian tumbuh kuat. Pada sebuah tempat seekor rusa minum dengan tergesa-gesa. Little Black Fish menyapanya,

“Rusa yang cakep, mengapa kau tampak tergesa-gesa?”

“Seorang pemburu sedang mengejarku.” jawab sang rusa. “Aku sudah tertembak sebuah peluru – tepat di sini!”

Little Black Fish tidak dapat melihat lubang peluru, tetapi dari gaya berjalan sang rusa yang terpincang-pincang itu dia tahu bahwa rusa itu telah mengatakan yang sebenarnya.

Pada sebuah tempat lainnya beberapa ekor kura-kura terlihat sedang tidur-tiduran di bawah hangatnya sinar matahari. Di tempat lainnya pula terdengar suara bising yang riuh dari ayam-ayam hutan, berbeleng-beleng menerobos lembah. Aroma rerumputan pegunungan mengapung merasuk udara dan meresap ke dalam air. Pada sore hari itu Little Black Fish sudah mencapai sebuah tempat di mana lembah itu melebar dan suak itu melintang di tengah-tengah semak belukar. Ada banyak sekali air yang membuat Little Black Fish merasakan saat-saat yang menyenangkan.

Kemudian dia bertemu dengan sekawanan ikan lainnya. Little Black Fish belum pernah bertemu dengan ikan-ikan lainnya sejak meninggalkan rumah. Beberapa ikan imut mengelilingi Little Black Fish dan berkata,

“Kau pastilah ikan baru di sini!”

“Ya,” jawab Little Black Fish, “aku memang baru di sini. Aku datang dari tempat yang jauh.”

“Kau akan pergi ke mana?” tanya ikan-ikan imut itu.

“Aku pergi untuk menemukan ujung aliran suak ini.”

“Suak yang mana?”

“Suak di mana kita berenang di dalamnya ini.”

“Kami menyebutnya ‘sungai’.” jelas si ikan imut.

Little Black Fish terdiam.

“Tidakkah kau tahu bahwa burung pelikan tinggal di sepanjang perjalanan?” tanya satu di antara ikan imut itu kemudian.

“Ya, aku tahu.”

“Apa kau tahu bagaimana besarnya kantung mereka?” tanya yang lainnya.

“Aku juga tahu itu.”

“Dan meskipun begitu, kau masih juga mau pergi?” desak yang lainnya lagi.

“Ya.” jawab Little Black Fish. “Apa pun yang terjadi, tetap aku harus pergi.”

Segera desas-desus menyebar di antara seluruh ikan bahwa telah datang seekor anak ikan black fish dari tempat yang jauh dan dia ingin terus berenang untuk menemukan ujung dari aliran sungai itu. Dan anak itu bahkan tidak takut dengan pelikan! Beberapa ikan imut lalu tergoda untuk ikut pergi bersama, tapi kemudian tak jadi karena mereka takut. “Kalau di sana tak ada burung pelikan, kami pasti akan pergi bersamamu. Kami takut dengan kantungnya.”

Sebuah desa terletak di sisi sungai. Perempuan-perempuan dan para gadis desa sedang mencuci piring dan pakaian di sungai itu. Little Black Fish mendengarkan obrolan mereka beberapa saat dan memperhatikan anak-anak mandi; dan kemudian pergi. Dia kemudian berenang terus dan terus dan terus, makin jauh, hingga malam jatuh. Kemudian beristirahat di bawah sebuah batu untuk tidur. Tengah malam dia terbangun dan melihat berkas cahaya bulan menembus ke dalam air dan menerangi segalanya. Little Black Fish sangat menyukai bulan. Pada malam-malam ketika cahaya bulan memancar ke dalam air, dia biasa merangkak keluar dari bawah lumut dan bercakap-cakap dengannya. Tapi sang induk akan selalu terbangun, menariknya ke bawah lumut, dan menyuruhnya tidur kembali.

Little Black Fish kembali melihat bulan dan berkata,

“Halo, bulanku tersayang.”

“Halo, Little Black Fish. Apa yang membawamu sampai kemari?”

“Aku sedang berkelana keliling dunia.”

“Dunia sangat besar.” kata sang bulan. “Kau takkan dapat bepergian ke semua tempat.”

“Tak masalah. Aku hanya akan pergi ke mana aku bisa.”

“Aku ingin tinggal bersamamu sampai pagi,” kata sang bulan lagi, “tapi segumpal awan besar yang hitam sedang bergerak ke arahku untuk menghalangi cahayaku.”

“Bulan yang baik! Aku begitu menyukai cahayamu. Aku berharap kau akan selalu menyinariku.”

“Nona Kecil tersayang, yang benar adalah, aku tidak memiliki sinar sendiri. Matahari yang memberiku cahaya dan aku memantulkannya ke bumi. Katakan padaku, apakah kau pernah mendengar bahwa manusia ingin terbang tinggi dan hinggap padaku dalam beberapa tahun ini?”

“Itu tak mungkin.” seru Little Black Fish.

“Itu memang pekerjaan yang sulit,” kata sang bulan pula, “tapi apa pun yang mereka inginkan, umat manusia dapat ….”

Sang bulan tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Awan gelap itu sudah mendekat dan menutupi wajahnya.

Malam menjadi gelap kembali, dan Little Black Fish kembali sendiri. Dia melihat ke kegelapan dengan keheranan dan ketakjuban selama beberapa saat, kemudian beranjak ke bawah sebuah batu dan tidur. (BERSAMBUNG)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews