Surat Pendek buat Ibu di Kampung
Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman
Jangan pernah mengunjungiku
Agar aku bisa tiba-tiba merindukanmu di antara hal-hal yang teratur
Agar aku memiliki satu hal indah yang bisa membuat dadaku bersedih sebelum tidur
Memeluk diri sendiri dan tidak memimpikan apa-apa selain masa silam di rahimmu
Pulang ke Dapur Ibu
Aku hidup di antara orang-orang yang memilih
Melakukan usaha lebih keras untuk menyakiti orang lain
daripada menolong diri sendiri
Aku ingin pulang ke dapur ibuku
Melihatnya sepanjang hari tidak bicara
Aku ingin menghirup seluruh kebahagiaannya
yang menebal jadi aroma yang selalu membuat anak kecil dalam diriku kelaparan
Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku
Aku akan menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya
di halaman belakang untuk makan malam yang lengang
Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku makan tanpa bernapas
Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum
Aku ingin menyimak seluruh kata yang tidak ia ucapkan
Aku ingin hari-harinya sibuk menebak siapa yang membuatku tiba-tiba suka bernyanyi di kamar mandi
Jangan Bertanya Kenapa
Jika kau ingin menyembunyikan kesedihanmu
Aku akan berada di dasar paling gelap lautan
—atau hidup, apa bedanya?—
Sebagai jutaan hewan kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu dengan cahaya
Jika kau ingin terbang tanpa angin tapi langit membuatmu takut
Aku akan jadi kebebasan dan sayap yang tidak pernah lelah mengepak di punggungnya
Jangan bertanya mengapa
Setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak diberi pertanyaan
Kelak
Kau tahu
Menjadi Hantu
Aku ingin tidur seharian di sepatumu
Saat kau pergi ke kantor menggunakan sepatu lain
Menunggumu di rumah tanpa mengeluh
Aku ingin jadi warna kesukaanmu melingkari lehermu
Berpura-pura sebagai selendang
Karena seorang pria lain tidak putus menginginkan dadamu
Aku ingin mendengkur bagai ular sawah atau angin di sudut kamar
di tumpukan pakaian kotormu
Mereka hangat, dekat, mendekap, dan masih beraroma kita
Pukul 4 Pagi
Tidak ada yang bisa diajak berbincang
Dari jendela kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal
Lampu-lampu kota bagai kalimat selamat tinggal
Kau rasakan seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu
Kau berdoa: semoga kesedihan memperlakukan matanya dengan baik
Kadang-kadang, kau pikir
Lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang
Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu
Mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan
Dirimu tidak pernah utuh
Sementara kesunyian adalah buah yang menolak dikupas
Jika kaucoba melepas kulitnya
Hanya akan kau temukan kesunyian yang lebih besar
Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.
Bermain Petak Umpet
Kututup mata di depan, atau barangkali di belakang, pohon
mangga dan menghitung satu dua tiga empat lambat hingga
sepuluh. Kubiarkan kau berlari, menemukan jarak dan
tempat sembunyi. Kutahu, di suatu tempat, kau cemas
menunggu.
Rasanya baru dua tiga bulan, bukan sepuluh, anak-anak
belum sempat menggalkan diri dari kita. Tapi, di antara
pohon mangga tempatku terpejam menghitung dan sunyi
tempatmu bersembunyi, telah dibentangkan jalanan. Di
dadanya, orang-orang asing dan mesin-mesin lalu-lalang
lebih cepat dari waktu, saling kejar mencari dan mencari
dan mencari dan mencair jadi apa dan kenapa dan kapan.
Kau, meski tak lagi bersembunyi, tidak juga kutemukan.
Barangkali kau suntuk menunggu, dan aku mulai cemas
kehabisan lagu yang untuk kunyanyikan.
————————–
M Aan Mansyur, lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982, merupakan penulis puisi dan cerpen. Beberapa karya kumpulan puisi berjudul Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Melihat Api Bekerja (2015), Tidak Ada New York Hari Ini (2016), Cinta yang Marah (2017), Sebelum Sendiri (2017), Perjalanan Lain Menuju Bulan (2017), Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (2020), dan Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (2021). Kumpulan cerpen Kukila (2012). *
Baca : Puisi-Puisi Klasik Karya Toto Sudarto Bachtiar






