Oleh: sulong a’dzam shuhuf
ALAMAYA kian sekarat.
Profesor Idris sudah lama mengingatkan, tetapi Doktor Khoen tidak pernah mendengarkan. “Dia sehat sekali. Dia sangat kuat.” begitu selalu dikatakan peraih beberapa kali nominasi Nobel Prize itu. Tetapi bulan-bulan belakangan kenyataan berkata lain. Alamaya tetap tergeletak lemas. Sering bernapas tersengal, meski sudah dibantu ventilator. Kulit mengeriput dan kering terpapar AC. Putih mata dengan alur memerah seperti liuk anak sungai di dataran gambut. Suara sudah lama hilang, tersangkut di kerongkongan yang lengang. Dan enam bulan terakhir ini akhirnya terpaksa diisolasi total dalam ruangan berbungkus plastik.
Positif terinfeksi virus Tiara-24.
ALAMAYA napasnya tersengal, jantungnya berdenyar.
Penyesalan selalu datang lambat. Dr Khoen tak pernah mengira akan begini padahnya. Mulanya dia terlalu yakin pada kemampuan yang dimilikinya. Sebagai seorang ilmuwan nanobioteknologi terkemuka, dia pikir dia akan dapat menyelesaikan masalah kesehatan Alamaya dengan mudah. Semudah kerja-kerja dan penemuan yang pernah ditanganinya. Semudah rangkaian rumus dan sisik-melik laboratorium. Semudah jalan hidupnya hingga saat itu. Nyatanya kejeniusannya akhirnya mengkhianatinya. Belasan hak paten, puluhan piagam piala dan plakat; sekarang menertawainya. Justru di saat-saat ia paling membutuhkan, IQ-nya merosot seratus angka.
Idiot!
ALAMAYA terendam dalam kolam kelam.
Virus Tiara-24 mewabah dunia nyaris setahun belakangan. Jadi pandemi. Tetapi lucunya sebagian ilmuwan berkelakar bahwa Tiara-24 adalah jenis virus yang pemalas. Lamban. Dan sejauh ini relatif tidak mematikan. Masa inkubasi 40 hari. Setelah itu pasien hanya bisa terbaring karena yang diserang pertama kali setelah pernapasan adalah otot-otot kaki. Efeknya mirip polio, tetapi bukan. Orang yang diserang pada mulanya tanpa gejala yang khas, selain flu dan batuk biasa. Karena itu penyakit ini dengan mudah mewabah cepat ke seluruh dunia karena tak banyak yang benar-benar menyadarinya, sehingga sejak itu sudah 500 juta orang yang tergeletak tanpa daya. Memang, Tiara-24 tidak langsung membunuh.
Ekonomilah yang membunuh.
ALAMAYA terajam dalam geram jeram.
Pasien 0 tidak pernah ditemukan. Penyakit ini konon mula diketahui keberadaannya di sebuah kota di pedalaman Pulau Sumatera. Tidak heran, karena di negeri itu pencatatan tak pernah benar; atau mungkin semua merasa benar. Alamaya sendiri terinfeksi setelah pulang tugas meliput upacara serah-terima Ladang Minyak terbesar di negeri itu dari pengelola lama ke pengelola baru setelah seabad berlalu. Sebagai seorang jurnalis ia pasti banyak sekali berinteraksi dengan orang-orang, termasuk yang belum dikenalnya. Mulai dari pejabat negara hingga rakyat jelata. Jadi, dia tidak tahu dari siapa kapan persisnya dan bagaimana bisa terinfeksi. Tahu-tahu berpuluh hari kemudian ia tak bisa bangkit lagi.
“Saya yakin penyakit itu ada hubungannya dengan gawai.” kata Prof Idris.
ALAMAYA matanya terpejam mimpi semalam.
Namun tak satu pun dokter di dunia yang sepakat dengan orang tua itu. Tentu saja. Gelar profesor hanyalah kelakar yang disematkan Dr Khoen pada Idris yang telah menjadi pembantunya sejak masa orang tuanya. Tapi memang Idris tua sedari dulu sepertinya punya bakat menjadi ilmuwan, atau sekurang-kurangnya tukang utak-atik. Khoen kecil ingat, orangtuanya dulu tak pernah kesulitan bila ada alat yang rusak karena Idris akan memperbaikinya, atau barang yang remuk karena Idris akan membentuknya – kadang menjadi sesuatu yang lain sama sekali; tetapi tetap berguna. Sejak bersamanya Dr Khoen sering meminta bantuan Idris bila sedang bekerja di laboratorium pribadinya, dan di situ tak jarang ide Prof Idris suka berloncatan secara mengejutkan dari benak yang sesungguhnya mulai uzur itu.
“Jangan melawak, Prof.” sergah Dr Khoen kengkadang.
ALAMAYA bukan tentang dirimu, tentu bukan.
Tetapi sejak berbulan belakangan Dr Khoen tak mampu menyergah orang tua itu lagi. Ia hanya diam. Ia pun sudah jarang ke laboratorium pribadinya, apalagi ke tempatnya biasa bertugas. Sekarang ia tak pernah jauh dari Alamaya. Ruangan steril. Kelambu plastik. Aroma desinfektan. Perangkat kedokteran. Itu semua ada di sebuah ruangan besar di rumahnya yang juga besar di sebuah kota besar di pulau besar yang berada di tengah-tengah selat yang besar di sebuah negara besar. Dr Khoen tidak pernah mengizinkan Alamaya dibawa ke rumah sakit rujukan sesuai protokol kesehatan. Petugas semula berhari-hari dan dengan berbagai cara coba membujuknya, bahkan dengan sedikit ancaman hukum yang berlaku; tetapi ia tidak peduli.
“Aku akan merawatnya sendiri!” sergahnya pada mereka.
ALAMAYA hanya hikayat dunia maya.
“Aku, Dr Khoen. Aku sendiri yang akan menemukan obatnya!” radangnya. Kenyataannya sekarang, Idris tua hanya dapat menggeleng-geleng. Memang, selama beberapa bulan Dr Khoen terus berkutat di laboratoriumnya, merajang berbagai rumus, ramuan, dan teknologi; tetapi semua hasil nihil. Begitu coba diaplikasikan ke Alamaya, negatif; bahkan kadang menyeret efek samping. Alamaya tetap saja tak sadarkan diri. Napas tersengal-sengal. Dan otot-otot tungkai terus saja kian menyusut dan melunglai. Kecewa mulai merambat kepala. Putus asa mulai menggerogot jiwa. Ilmuwan ternama tiada daya. Bahkan ribuan robot nano pun percuma. Dr Khoen sekarang hanya bisa meringkuk di sisi ranjang besi itu, berbataskan plastik bening, meratapi ketololannya.
“Sayangku ….” rintihnya.
ALAMAYA merayakan kehadiranmu nan tiada nyata.
Di luar, dunia terus saja berputar, tetapi sekarang dengan cara yang absurd. Orang-orang nyaris tak lagi dapat saling bertemu, kalau masih ingin hidup sehat selalu. Nyaris semua kegiatan antar-manusia berlangsung di alam virtual. Seminar, diskusi, transaksi, rapat kabinet, persidangan, hingga sekadar ngobrol, semuanya berlangsung di dunia maya. Bahkan juga merampok dan mencuri; siapa bilang tak bisa! Menyebarkan dusta dan kebencian, begitu mudahnya. Berita buatan dan manipulasi informasi. Pasar saham kesulitan mendapatkan pegangan di tengah tsunami angka-angka yang berhamburan. Mata uang tradisional juga nyaris tak berfungsi karena orang-orang mulai tak percaya. Mereka pindah ke uang virtual, tetapi itu pun mungkin hanyalah sekadar kebohongan besar.
Idris tua pun hanya dapat memandang dengan sedih semua gejolak dunia di layar virtual seluas bidang dinding itu.
ALAMAYA menjerit tetiba kepada dunia: Tidak!; lengkingnya.
Tak ada satu pun ilmuwan dan pemimpin dunia yang peduli dengan orang tua itu. “Dunia menuju era baru.” kata mereka dengan bangga. “Evolusi. Atau bahkan revolusi! Kita bukan menjadi X-Men, tetapi ilmu dan teknologilah yang menjadikan kita übermensch!” Lalu, “Secara ironis, kita mungkin harus berterimakasih kepada virus Tiara-24, karena telah berhasil memicu, bahkan memacu kita ber[r]evolusi ke tahap selanjutnya.” Tapi sayangnya tak ada di antara mereka yang benar-benar berhasil menciptakan vaksin anti-Tiara-24. Memang, sejak berbulan, sudah puluhan vaksin dan obat yang diklaim dapat meredam Tiara-24. Ilmuwan-ilmuwan memproklamirkannya dengan bangga, perusahaan-perusahaan farmasi memproduksinya besar-besaran, negara-negara pun mengedarkannya dengan penuh semangat; tetapi tak ada yang benar-benar berdaya-guna.
“Ini hanya bisnis!” desis seseorang di akunmayanya.
ALAMAYA kalianlah yang sedang sekarat!
Setelah berbulan, Dr Khoen bukan lagi Dr Khoen. Ia sudah seperti kembara lara di lebuhraya. Idris tua nyaris tak lagi mampu berkata apa. Apa yang membuat orang tua masih memiliki harap, sesekali dilihatnya Dr Khoen masih terhubung dengan dunia luar. Kadang melalui audio-call, kadang melalui video-call, atau melalui holo-call. Kalau waktu awal-awal dulu masih ada dengan sejawat kerjanya, temannya yang tak banyak itu, atau kolega sesama ilmuwan, satu-dua saudara; belakangan Idris tua melihat ada perubahan – dia seperti kembali menjadi remaja! Perilakunya maksudnya, bukan kegembiraannya. Suka berswafoto, seringkali dengan latar Alamaya; atau berbicara sendiri di depan gawainya dengan mimik kadang lucu kadang serius. Merekam sembari menari-nari menyanyi-nyanyi atau tingkah konyol lainnya. Sekali-dua waktu di laboratoriumnya, ia merekam berbagai kegiatan dogolnya di sana, dengan piagam-piagam itu, plakat-plakat, piala-piala, ….
“Tahun depan, aku, Dr Khoen. Nobel, come to daddy!” teriaknya.
ALAMAYA menggarami diri menjadi suci.
Idris tua tahu semua kegilaan itu diunggahnya ke laman maya. Kandidat Nobelis itu bagai bermalih menjadi remaja pancaroba. Mempertontonkan kesedihannya. Mengumbar kejengkelannya. Mendistribusikan kekonyolannya. Menyebar kedunguannya. Melagakkan keilmuwannya. Tetapi yang terlihat oleh orang tua itu tak lebih dari sekadar rangkaian keperihan. Ia ingin mengingatkan, tetapi tak tahu caranya, dan mungkin juga untuk saat ini tiada berguna. Anehnya sekarang justru jutaan like dan comment menumpuk di akun Dr Khoen, entah dari siapa dan mana serta untuk apa. Idris tak pernah mampu mengerti, angka 70-an usianya agak mencegahnya untuk paham perilaku dunia semasa. Tetapi yang terlihat oleh Idris tua tetap saja tak lebih dari sekadar rangkaian kepelikan. Dan rantaian kegilaan.
“Zaman yang kian kesetanan.” keluhnya.
ALAMAYA kusendiri, kian menjadi-jadi.
Nyaris setahun. Dr Khoen seperti tetiba terbangun. Sejak itu ia terus berada di laboraoriumnya dengan tekun. Mencorat-coret papan tulisnya dengan rangkaian rumus yang bikin Idris tua semakin pikun. Mencampur-aduk berbagai ramuan herbal dan zat kimia. “Ya, elektromagnetik. Medan elektromagnetik.” gumamnya sembari tersenyum ke arah Idris tua. Lalu ia membuat jutaan nanobiorobotik, dikalibrasi dengan program komputernya. Ditambah algoritma. Lalu simulasi CGI. Gagal. Hitung lagi. Bikin lagi dengan sedikit perubahan. Simulasi. Gagal. Hitung lagi. Bikin lagi dengan sedikit perubahan. Simulasi. Gagal. Hitung lagi. Bikin lagi dengan sedikit perubahan. Simulasi. Gagal. Hitung lagi. Bikin lagi dengan sedikit perubahan. Simulasi. Gagal. Gagal? Tidak. Komputernya macet. Berhasil? Tidak juga. Hanya baru sampai angka 99,99; lalu berhenti. Tapi ia tak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Ini harus berhasil!” jeritnya gembira, meski tanpa didahului “Aha!”.
ALAMAYA menjadi JADI.
Dr Khoen meyakinkan dirinya yakin. Ia tak bisa menunggu lebih lama, sementara dunia luar mungkin runtuh. Idris juga sudah tidak tahu lagi, karena tak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan. Setiap berita ada seterunya. Setiap kabar ada kuburnya. Entah mana yang bisa dipercaya. Mungkin benar dunia luar sudah mulai runtuh, karena ekonomi nyaris lumpuh, dan teknologi lempuh. Selumpuh 500 juta – atau sekarang sudah 1000 juta? – pengidap virus Tiara-24. Tiada yang tahu. Ini sudah seperti banjir Nabi Nuh II, mempelasah seluruh umat manusia. Kendati, siapa yang akan jadi nabi? Mungkin aku; pikir orang tua itu. Karena aku adalah datuk moyangnya; gumamnya getir.
“Dan Idris, Prof, lihatlah!” jerit Dr Khoen. “Setelah ini dunia akan selamat! Selamat! Dan dunia akan memuja kita! Memuja! Ha ha ha ….” Lalu lelaki tua itu melihat Dr Khoen mulai menyuntikkan sesuatu ke dalam selang infus itu. Hati-hati sekali. Perlahan-lahan sekali. Beberapa menit kemudian terlihat Alamaya mulai bergerak-gerak, menyentak-nyentak ….
01000100 01100001 01101110 00100000 01000001 01101100 01100001 01101101 01100001 01111001 01100001 00100000 01110000 01110101 01101110 00100000 01110011 01101001 01110010 01101110 01100001 00100000 01101101 01100101 01101110 01101001 01101110 01100111 01100111 01100001 01101100 01101011 01100001 01101110 00100000 01100100 01110101 01101110 01101001 01100001 00101110
01000100 01100001 01101110 00100000 01000001 01101100 01100001 01101101 01100001 01111001 01100001 00100000 01110000 01110101 01101110 00100000 01101011 01110101 01100001 01110011 01100001 00100000 01101101 01100101 01101110 01101010 01100001 01100100 01101001 00100000 01100100 01110101 01101110 01101001 01100001 01111001 00101110
01000100 01100001 01101110 00100000 01000001 01001100 01000001 01001101 01000001 01011001 01000001 00100000 01110000 01110101 01101110 00100000 01101010 01100001 01100100 01101001 01001100 01000001 01101000 00100000 01000001 01001100 01000001 01001101 01000001 01010100 01001001 00101110 ***
Payungsekaki, 20|26.
———————————–
Sulong A’dzam Shuhuf adalah namapena. Menulis cerpen, novel, esai, dll yang – dengan menggunakan nama asli atau namapena lainnya – antara lain pernah dipublikasikan di Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kiblat, Riau Pos, Batam Pos, dll. Buku yang sudah diterbitkan al: Nubuat (novel, meraih Penghargaan Utama GANTI AWARD IV 2008), Benang Merah Keajaiban (novel), Menuju Metropolis (planologi), Risalah Jebat (kitab puisi, meraih Buku Pilihan ANUGERAH SAGANG 2017), dan sejumlah cerpen/puisi/esai yang termuat dalam beberapa buku antologi bersama. Naskah novelnya yang terbaru, Sophie: selikat haroem getah melajoe berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu novel terpilih dalam UNNES International Novel Writing Constest 2017, yang diikuti oleh 299 naskah novel dari seluruh dunia Sejumlah naskah novel (termasuk novel u/ remaja), antologi cerpen, dan humor dalam upaya penerbitan. Surel: [email protected]. Terakhir menerbitkan novel berjudul Matinya Toean Presiden, akhir 2024 lalu. *
Baca: Digigit Ular Kobra






