CERPEN: Mengukir Namamu di Langit

Ilustrasi

Oleh: Khairul A. El Maliky

MATAHARI menjelang terbenam menusuk pelukan awan kemerahan yang menghiasi langit kota, seperti cat air yang dioleskan dengan lembut oleh tangan seorang seniman ulung. Udara sore yang masih hangat membawa aroma bunga kamboja dari halaman depan Dinas Sosial kota, sementara suara-suara masyarakat yang datang untuk menerima bantuan sosial memenuhi ruang tunggu yang sederhana. Alzam berdiri di tengah kerumunan, tangan kanannya menopang bahu saudaranya yang lebih muda, Badrus, yang sedang mengurus berkas administrasi untuk mendapatkan bantuan sembako dan beasiswa pendidikan. Pakaian kerja Alzam yang sudah mulai aus masih terlihat rapi, mencerminkan sifat pria berusia tiga puluh dua tahun itu yang selalu menjaga diri dengan baik meskipun kehidupannya tidak selalu berjalan mulus.

Sudah dua tahun lamanya rumah tangganya dengan Dewi, istri pertamanya, mengalami keretakan yang semakin dalam. Perbedaan pandangan hidup dan tuntutan ekonomi yang tidak kunjung terpenuhi membuat hubungan mereka hanyut dalam lautan kesalahpahaman dan keheningan yang menyakitkan. Alzam mencoba segala cara untuk memperbaiki kondisi rumah tangganya—dari berbicara dengan tulus hingga mencoba memberikan perhatian ekstra pada istri dan anaknya. Namun, setiap upayanya seolah menghantam tembok yang begitu tebal, tanpa ada sedikitpun celah untuk masuk dan menyentuh hati Dewi yang sudah mulai membeku seperti es di musim dingin.

Pada hari itu, ketika dia sedang menunggu Badrus yang masih sibuk berbicara dengan petugas, pandangannya tiba-tiba terpaku pada sosok seorang gadis yang sedang bergerak di antara masyarakat penerima bantuan. Gadis itu mengenakan baju kantor warna hijau lumut dengan rompi kuning yang mencolok, membawa kamera DSLR yang tergantung di lehernya dengan tali yang sudah mulai aus. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi dengan jepit rambut berwarna emas, dan wajahnya yang cantik dengan paras lembut selalu disertai senyum hangat setiap kali dia mengambil gambar masyarakat yang datang. Setiap gerakannya tampak anggun dan penuh perhatian—dia tidak hanya mengambil foto sebagai tugas, melainkan seolah merakam setiap cerita yang ada di balik wajah setiap orang yang menerima bantuan.

Alzam merasa seperti sedang terkena mantra ajaib. Jantungnya yang biasanya berdetak dengan tenang kini berdebar kencang seperti kuda yang sedang berlari di medan terbuka. Dia tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang membuatnya merasa begitu terpikat pada gadis yang tidak dia kenal namanya itu. Mungkin adalah senyumnya yang penuh kasih sayang, atau matanya yang cerah seperti bintang di malam hari, atau mungkin adalah cara dia berinteraksi dengan setiap orang dengan penuh rasa hormat dan penghargaan. Apa pun itu, Alzam tahu bahwa hatinya yang sudah lama merasa dingin dan hampa mulai kembali berdenyut dengan kehidupan yang baru.

“Pak, bolehkah saya mengambil foto Anda dan saudara Anda ya? Ini untuk dokumentasi bantuan sosial dari pemerintah,” suara gadis itu terdengar lembut seperti musik yang menyentuh hati. Alzam terkejut dan segera mengangguk dengan wajah yang sedikit memerah karena terpaku pada kecantikannya. Gadis itu menyesuaikan sudut kamera dengan cermat, mengambil beberapa bidikan dengan tangan yang stabil dan terampil. Setelah selesai, dia memberikan senyum yang membuat hati Alzam bergetar dan kemudian pergi untuk mengambil gambar orang lain.

Alzam ingin sekali menghentikannya untuk bertanya nama dan nomor kontaknya. Namun, sebelum dia bisa melakukan itu, Badrus sudah datang menghampirinya dengan senyum bahagia, memberitahu bahwa administrasi bantuan sudah selesai dan mereka bisa pulang. Alzam terpaksa mengikuti saudaranya, namun pandangannya tetap terpaku pada sosok gadis itu yang semakin jauh. Saat mereka keluar dari Dinas Sosial, dia melihat gadis itu sedang berbicara dengan seorang rekan kerjanya, tertawa dengan suara yang terdengar seperti gemericik air sungai. Dan kemudian, mereka berpisah—Alzam pergi dengan hati yang penuh dengan rasa penasaran dan sedikit kesedihan karena tidak mendapat kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

***

Setelah itu hari, Alzam merasa seperti kehilangan bagian penting dari dirinya. Dia seringkali terdiam sendiri, memikirkan sosok gadis itu yang namanya tidak dia ketahui. Kadang-kadang dia datang ke depan Dinas Sosial hanya untuk berharap bisa melihatnya lagi, namun gadis itu tidak pernah muncul. Dia tidak tahu apa pekerjaannya selain sebagai fotografer dokumentasi, tidak tahu di mana dia tinggal, dan tidak punya cara apapun untuk menghubunginya. Namun, Alzam bukanlah pria yang mudah menyerah. Dia punya satu keahlian yang selalu menjadi teman setianya sejak masa muda—menulis.

Mulai dari hari itu, Alzam menghabiskan waktu luangnya untuk menulis cerpen yang berjudul Gadis dengan Kamera Emas. Dalam cerpen itu, dia menggambarkan sosok gadis yang penuh kasih sayang dan kebaikan hati, yang bertemu dengan seorang pria yang sedang mengalami masa sulit dalam hidupnya. Dia mengisahkan bagaimana pria itu jatuh cinta pada gadis itu tanpa pernah tahu namanya, bagaimana dia mencoba segala cara untuk menemukan dia, dan bagaimana cinta itu membuat hatinya kembali hidup dengan warna-warni yang indah. Dia menggunakan segala macam majas dan gaya bahasa yang dia kuasai—membandingkan senyum gadis itu dengan matahari pagi, matanya dengan bintang-bintang di langit malam, dan suaranya dengan alunan musik klasik yang memukau hati.

Beberapa minggu kemudian, cerpen itu diterbitkan di sebuah majalah sastra lokal yang sering dia kirimi tulisan. Alzam tidak berharap banyak dari penerbitan cerpen itu—dia hanya ingin menuangkan perasaannya ke dalam kata-kata, agar rasa cinta yang dia miliki tidak hanya tinggal sebagai memori yang menyakitkan di dalam hatinya. Namun, takdir memiliki cara sendiri untuk bekerja. Beberapa bulan kemudian, ketika Alzam sedang duduk di pelataran Masjid Agung kota itu sambil membaca buku puisi setelah shalat Ashar, seseorang mendekatinya dengan langkah yang lembut.

“Pak Alzam? Apakah Anda adalah penulis cerpen Gadis dengan Kamera Emas yang diterbitkan di majalah Bunga Rampai?” suara yang sangat akrab membuat Alzam terkejut dan segera mengangkat kepalanya. Di depannya berdiri sosok gadis yang selalu dia pikirkan setiap hari—gadis dengan kamera yang sudah menjadi inspirasi dalam tulisannya. Kali ini, dia mengenakan baju muslim warna putih dengan kerudung merah marun, membuatnya terlihat lebih anggun dan menawan dari sebelumnya.

Alzam berdiri dengan tergesa-gesa, buku puisi yang dia pegang hampir terjatuh dari tangannya. “Ya… ya betul. Saya adalah orang yang menulisnya. Tapi bagaimana Anda bisa mengenali saya?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar karena kegembiraan yang luar biasa.

Gadis itu tersenyum hangat, sama seperti senyum yang dia ingat dengan jelas. “Nama saya Aida. Saya adalah fotografer yang bertugas di Dinas Sosial kota. Beberapa hari yang lalu, saya membaca cerpen Anda di majalah itu, dan saya langsung tahu bahwa cerita itu tentang saya. Detail-detail yang Anda gambarkan sangat akurat—mulai dari warna baju saya hingga cara saya mengambil foto. Saya merasa seperti sedang melihat diri saya sendiri melalui kata-kata Anda.”

***

Alzam merasa seperti sedang berada di atas awan. Dia tidak pernah menyangka bahwa cerpen yang dia tulis akan sampai ke tangan gadis yang menjadi inspirasinya. Keduanya mulai berbicara dengan lancar, seperti dua orang lama yang sudah tidak bertemu lama. Alzam mengenalkan diri dengan jujur—memberitahu bahwa dia sudah menikah, bahwa rumah tangganya sedang mengalami kesulitan, dan bahwa dia jatuh cinta pada Aida sejak pertama kali melihatnya di Dinas Sosial. Dia tidak ingin menyembunyikan apa-apa dari gadis yang telah mencuri hatinya dengan begitu mudah.

Aida mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa terkejut atau tidak senang. Setelah Alzam selesai berbicara, dia mengambil tangannya dengan lembut dan berkata, “Saya mengerti perasaan Anda, Pak Alzam. Sebenarnya, sejak pertama kali bertemu dengan Anda di Dinas Sosial, saya juga merasa ada yang spesial tentang Anda. Saya melihat bagaimana Anda merawat saudara Anda dengan penuh cinta dan perhatian, dan itu membuat saya merasa kagum. Saya tahu bahwa Anda sudah memiliki keluarga, namun saya juga tidak bisa menyembunyikan perasaan saya terhadap Anda. Cinta datang dengan caranya sendiri, dan kita tidak bisa memilih kapan dan kepada siapa kita akan mencintai.”

Alzam merasa air mata mulai menggenang di sudut matanya. Dia tidak berharap bahwa perasaannya akan diterima oleh Aida, terutama karena kondisinya yang sudah menikah. Namun, Aida dengan lembut mengelus tangannya dan berkata, “Saya tidak meminta Anda untuk meninggalkan keluarga Anda, Pak Alzam. Saya hanya ingin bisa berada di sisimu, memberikan cinta dan dukungan yang mungkin tidak Anda dapatkan dari istri Anda. Saya bersedia menjadi istri kedua Anda, karena cinta yang Anda berikan padaku sudah cukup berharga untuk saya.”

Alzam memeluk Aida dengan erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang membuat hati yang sudah lama merasa dingin kembali terhangatkan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan kesempatan baginya untuk menemukan cinta sejati setelah sekian lama merasakan kesendirian dalam rumah tangganya. Di pelataran Masjid Agung yang penuh dengan kedamaian, dengan langit sore yang masih menghiasi langit dengan warna-warni yang indah, mereka berjanji untuk selalu saling mencintai dan mendukung satu sama lain, tanpa memandang kondisi dan situasi yang ada.

***

Beberapa bulan kemudian, mereka resmi menikah dengan upacara yang sederhana namun penuh dengan kebahagiaan. Meskipun Alzam masih menjaga hubungan dengan Dewi dan anaknya, hati dan perhatiannya lebih banyak pada Aida—gadis yang telah membawa warna-warni baru dalam hidupnya. Setiap malam, ketika mereka sedang duduk bersama di teras rumah mereka sambil menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, Alzam selalu berkata pada Aida, “Saya akan selalu mengukir namamu di langit, agar cinta kita selalu terlihat oleh semua orang dan oleh Tuhan yang telah menyatukan kita.”

Aida hanya akan tersenyum dan memeluknya dengan erat, merasa bahwa dia adalah orang paling bahagia di dunia. Meskipun jalan yang mereka tempuh tidak selalu mulus dan mereka harus menghadapi berbagai tantangan serta kritikan dari lingkungan sekitar, cinta mereka tetap kokoh seperti batu yang telah mengeras selama ribuan tahun. Karena mereka tahu bahwa cinta sejati tidak pernah melihat kondisi atau status seseorang—cinta sejati hanya melihat hati yang tulus dan keinginan untuk selalu bersama, dalam suka maupun duka, hingga akhir hayat mereka. ***

Kutulis cerpen ini untuk gadis yang tak diketahui namanya.

Probolinggo, 13 Maret 2026

——————————-
Khairul A. El Maliky adalah pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa. *

Baca: Bunuh Diri

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews