KETIKA berbicara tentang Kircher, kita jangan melupakan muridnya, Caspar Schott. Schott mungkin tidak sekreatif Kircher, tetapi ia adalah seorang penyusun yang tangguh atas tulisan-tulisan Kircher, namun terkadang agak kurang kritis terhadap kemajuan dalam ilmu fisika. Dalam bukunya Ioco-serium Naturae et Artis (1666) kita dapat menemukan sebuah resep untuk membuat sebuah gerak-abadi alkimia (hlm. 139):
“Propositio XXXII. Mobile Perpetuum Alchymisticum. Accipe amalgamatis (aeris) drachmas v. aut vi. & amalgamatis (stanni) tantundem x. aut xi. & pone supra marmor in cella. Intra spatium quatuor horarum fiet instar olei olivarum. Hoc distilla, & in fine daignem fortissimum: tunc sublimatur substantica sicca. Aqua distillata vicissim reaffundatur in terrae in fundo alembici residuae: & solve quod solvi potest; solutum filtra, deinde distilla: & apparebunt subliffimi atomi; qui in vitro bene clauso in sicco asserventur: Et ecce mirabilia videbis.
Ex Secretis Kircherianis, uiappellatur mobile perpetuum, quod hactenus neque per aquam, neque perignem, aut instrumenta invenieri potuit. Habeturetiam apud Schvventerum in delicijs par. 16, quaest 3, ut tradidimus Mechanica Hydro-pneumatica par. 2, classe 2, machina 14.”
Kalimat penutupnya menarik, manakala ia merujuk pada Athanasius Kircher, dari siapa resep “rahasia” itu didapatkan. Tetapi, tunggu dulu! Tidakkah elo pade melihat adanya kesamaan dengan resep sebelumnya? Kalau tidak, bandingkanlah dengan resep [yang dikatakan berasal] dari Paracelsus yang sudah kita bahas sebelumnya. Hal seperti itu mungkin memang sudah menyebar luas seperti “dongeng sains” pada masa itu, dan tidak seorang pun lagi menanyakan dari mana asalnya dan apakah resep itu dapat bekerja kayak resep Mister Krab. Tetapi dalam kasus ini, ia adalah fenomena yang sama tepat sebagaimana dengan seluruh teori konstruksi MGA mekanis yang [setidaknya sampai dengan saat ini] tidak atau belum terbukti dapat bekerja sebagaimana diharapkan.
Robert Boyle (1627~1691) yang dihormati sebagai salah seorang yang membuat kemajuan besar dalam ilmu fisika dan kimia, juga menjadi salah seorang peneliti yang pertama kali sepenuhnya bekerja di atas dasar metode ilmiah. Boyle adalah seorang yang sangat kaya-raya sehingga memberinya kebebasan untuk mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada pekerjaan-pekerjaan penelitiannya, serta untuk bermurah hati menyokong Royal Society, yang pada masa itu dikenal juga sebagai “Boyle Society”. Ia menjadi terkenal berkat bukunya The Sceptical Chymist (1661) serta tak terhitung berbagai artikel ilmiah, dan tentu saja jangan dilupakan Hukum Boyle yang terkenal itu. Sangat mengherankan, ia ternyata juga pernah menerbitkan sebuah tulisan dalam The Phylosophical Transactions, di mana ia memberikan suatu uraian yang rinci tentang sebuah alat gerak-abadi kimia!
Di situ ia melaporkan bagaimana seorang guru matematika suatu ketika melakukan percobaan mencampurkan suatu larutan di dalam sebuah belanga tembikar yang kemudian dibakar di atas nyala api arang. Mungkin karena kurang berhati-hati atau belum terbiasa, justru larutan tersebut yang kemudian terbakar. Dengan tergesa-gesa sang guru mematikan apinya dan memindahkan belanga itu. Berjam-jam kemudian setelah ditinggalkan, sang guru melihatnya kembali dan mendapatkan larutannya bergerak-gerak cepat ke segala arah di dalam belanga itu. Heran dengan hal itu ia kemudian menceritakannya pada Boyle, yang karena penasaran memintanya untuk membawakan belanga dan larutan itu.
Dalam tulisan itu Boyle menggambarkan dengan cukup rinci bagaimana zat itu terlihat, bagaimana ia bergerak, dan percobaan mana yang ia maksudkan. Boyle terbiasa bekerja dengan cara yang sistematis; ia periksa apakah reaksi tersebut berlanjut bila zat itu dipisahkan dari udara segar dan mengamatinya dengan rinci. Percobaan itu sayangnya terpaksa berakhir manakala belanga itu tidak sengaja pecah dan zat asing itu tumpah ke dalam tanah. Masalah besar kemudian muncul: bahan apa yang digunakan, campuran apa yang dibuat dan bagaimana? [Ini barangkali karena juga ternyata guru matematika itu tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Barangkali juga karena ia hanya mencoba-coba langsung dalam praktek tanpa disertai catatan apapun- sas]. Demikianlah jadinya pertanyaan-pertanyaan itu tetap tak terjawab, dan persoalan itu pun hilang terbawa angin. Tetapi, bagaimana pun tidak diragukan lagi bahwa Boyle tidak berpikir bahwa suatu pergerakan abadi adalah nyata; meski sekalipun “ada” ia berpendapat pergerakan itu hanya terjadi dalam jangka waktu yang [memang cukup] lama, namun kian lama kian melemah seiring berlalunya waktu. [Barangkali apa yang dimaksudkannya itu adalah mirip dengan kasus bandul/pendulum – sas].
Setelah masa Galileo Galilei (1564~1642) alkimia perlahan kehilangan pengaruh dan reputasi. Dunia eksperimen ilmiah yang dapat direplikasi dan direproduksi sudah tidak lagi menyediakan ruang untuk pemurnian mental para peneliti supaya dapat menghasilkan capaian yang berguna. Menariknya, Sir Isaac Newton (1642~1727) si ilmuwan besar itu ternyata juga [setidaknya pada awalnya] berlandasan pada akar alkemistik; hal yang seringkali diabaikan oleh sejarawan terkemudian, agar ketenaran dan reputasinya tetap terjaga baik. Bagaimana pun, Teori Newton tentang gravitasi [semula sempat] dianggap meragukan oleh ilmuwan pada masa itu, karena adanya interaksi jarak jauh antar-massa dianggap sangat kuat berbau alkemistik.
Seorang penulis tak dikenal karena menyingkat namanya dengan L. v. H. menerbitkan sebuah buku berjudul Magia Divina … [dst.] (1745), di mana di dalamnya ia menulis tentang suatu percobaan yang dapat menghasilkan semacam kabut yang muncul ke ketinggian dan bercahaya seperti matahari atau seperti bulan dan bintang-bintang pada malam hari, dan juga yang akan naik dan turun (atau terbit dan tenggelam) seperti kedua sumber cahaya terbesar di dunia itu.
Urainya : “”Pastikan Anda mendapatkan aroma (atau embun?; sas) dari pohon-pohon natal selama dua belas malam, yang menghasilkan setengah atau satu galon air. Simpan ini dengan aman. Pada bulan Maret, kumpulkan juga air yang diberikan oleh kabut dari pohon-pohon atau buah-buahan di ladang, […] Setelah itu, masukkan ke dalam api tingkat kedua, pasang penutup di atasnya dan suling semuanya hingga menjadi sirup kental seperti madu, tetapi jangan lebih agar tidak terbakar, atau semuanya akan terbuang sia-sia. Saring sisa sulingan sehingga hanya tersisa satu galon air beralkohol […] Tetapi perhatikan bahwa, setiap kali Anda meninggalkan gelas tanpa digerakkan, kabut akan naik ke ketinggian yang memiliki cahaya seperti matahari dan di malam hari seperti bulan dan bintang, dan juga akan bertambah dan berkurang seperti 2 cahaya besar di dunia ini.”
Lagi [di dalam buku itu] semua elemen dari tradisi alkemistik dapat ditemukan, dalam usaha membangkitkan sebuah reaksi kimia abadi; meskipun diterbitkan setelah masa Galilei. Masih juga komponen-komponen magis yang menentukan. Uraiannya pun masih menggunakan kata-kata dan makna yang tidak jelas serta kondisi-kondisi astrologi-alkimia merupakan bagian sistematis dari metode itu.
Bahkan fisikawan David Brewster (1781~1868) tidak memiliki masalah untuk menuliskan di dalam Chemical Transaction (1818) uraian tentang sebuah alat gerak-abadi magnetik yang diciptakan oleh shoemaker Spence. Mesin itu mendapatkan gaya penggerak dengan menggunakan suatu “zat hitam” yang tak ditentukan [atau mungkin tak dijelaskan atau mungkin tak dikenal] yang rupanya dapat melemahkan atau menguatkan gaya magnetik sesuai dengan keinginan. Ini [ternyata] adalah gagasan yang sama sebagaimana yang sudah pernah diuraikan oleh Pliny the Elder – dan masih saja digunakan 1.700 tahun setelah kematiannya! Weleh weleh weleh ….
Menurut apa yang diketahui saat kini, lapis philosophorum tidak pernah berhasil didapatkan maupun dibangkitkan. Apakah ini bukti dari kekurangan teknologi kimia pada masa awalnya atau kenyataan bahwa gagasan pemurnian tidak mampu mencapainya? Secara ringkas, alkemis ternyata ada dalam situasi yang sama saja dengan para pencipta MGA. Mereka tahu, hanya ada masalah kecil yang harus diatasi, hanya perlu tambahan uang sedikit lagi, tambah waktu sedikit lagi, atau sebuah suku-cadang dan zat khusus yang – sayangnya – tidak tersedia. Mereka juga mungkin membutuhkan tambahan beberapa buku atau literatur khusus lainnya …. Mereka bekerja dengan penuh keyakinan, ketekunan, dan keranjingan; tetapi tujuan akhir ternyata terlalu sulit untuk dicapai. Bila magnum opus (mahakarya) itu tidak terselesaikan atau tidak tercapai, selalu akhirnya keadaanlah yang disalahkan. Atau pejabat-pejabat kita sekarang bilang: kambing hitam. Tidak pernah tentang ketidakcakapan si penemu atau si pencipta itu sendiri, yang tidak tahu atau kurang mawas diri. Si penemu/pencipta akhirnya hanya menuliskan bagaimana segala sesuatu [tentang perpetuum mobile] harus merujuk kepada gagasannya, tetapi tidak tentang bagaimana seharusnya mereka merujuk pada pengamatan dan hukum alam.
Gagasan-gagasan yang Paralel
Oke Guys, sampai di sini apakah elo menyadari bahwa beberapa gagasan tentang gerak-abadi seringkali direka-ulang dan dimunculkan kembali, hanya saja dalam berbagai macam metode? Yap, begitulah yang terjadi. Satu dari alasannya mungkin terletak dalam masalah pencarian sumber energi baru yang tidak dipahami dengan tepat sebagaimana kita pada saat ini. Setiap sumber energi baru (dalam konsep MGA) seringkali juga membawa penciptanya pada gagasan-gagasan lama yang diperbaharui lagi pada mesin baru ciptaan mereka tersebut dengan harapan dapat mencapai tujuan akhir dari suatu gerak-abadi. Seolah-olah gagasan lama yang coba dilihat kembali itu kekurangan satu-dua sekrup, atau ada bagian yang salah letak.
Lihat beberapa contoh MGA berprinsip gaya-apung berikut ini. Gambar di bawah ini adalah sebuah MGA gaya-apung klasik. Kekuatan gaya-apung diharapkan membuat bagian kincir yang terendam akan tetap terus berputar.

[GBR. 37]
Gagasan yang sama juga mengilhami alat berikut ini dengan menggunakan kekuatan magnet. Di sini suatu rantai besi [diharap] akan terus bergerak dengan kekuatan gaya magnet dan gravitasi.

[GBR. 38]
Eksperimen Otto von Guericks dengan gesekan elektrisitas membawanya pada penemuan alat berikut ini. Sebuah bola terbuat dari material berisolasi berputar di dalam suatu selubung listrik. Pergerakan itu dipicu oleh pembangkit listrik statik.

[GBR. 39]
Dan akhirnya, sebuah alat yang tidak pernah terbukti ada [dan sepertinya tidak mungkin dapat] digunakan sebagai sumberdaya energi. Herbert George Wells (1866~1946) menemukan [atau lebih tepatnya: mengkhayalkan] alat yang disebutnya sebagai “cavorite” di dalam novelnya The First Men on the Moon, yang terlindungi dari gaya gravitasi. Bob Schadelwald mengambil konsep ini dan menawarkan sebuah dasar gerak-abadi berdasarkan cavorite. Diskusi kenapa alat ini tidak dapat bekerja bisa ditemukan dalam situsnya Kevin Kilty atau dalam Museum of Unworkable Devises.

[GBR. 40]
Nah, sudahkah elo pade menemukan kesamaan konsep dasar dalam alat-alat di atas? Sumberdaya energi dan material yang digunakan memang berbeda-beda, tetapi dalam semua mesin itu, prinsip gaya-apung asimetris-lah yang sama-sama diterapkan, yang dengan demikian dengan suatu cara rotor diharapkan dapat bekerja yang – sayangnya – pada kenyataannya tidak terjadi. (BERSAMBUNG)

