Tekno  

Perpetuum Mobile: Dalam Sejarah Gagasan dan Konsep (Penggal 08)

PHILIPP Aureolus Theophrastus Bombastus von Hohenheim (1493~1541), yang lebih dikenal sebagai Paracelsus, membuat sedikit kegemparan dengan pengobatan konvensional pada masanya, ketika ia dengan terus terang menentang para dukun dan memperkenalkan metode pengobatan ke dalam terapi penyakit. Dalam pengertian luas, dengan itu ia patut dihormati sebagai bapak metode pengobatan modern (sebenarnya yang kemudian lebih luas dikenal sebagai “bapak kedokteran modern” adalah Ibnu Sina [980~103] yang telah meninggalkan ratusan buku dan makalah tentang pengobatan d.ll. – sas). Pada kenyataannya, ia juga ternyata tumbuh besar di lingkungan ilmu kimia dan berdekatan erat dengan tradisi alkimia.

John Wilkins pun menguraikan dalam Mathematical Magick (h: 228) sebuah resep ramuan alkimia, yang dihubungkan dengan Paracelsus. Ramuan tersebut adalah merupakan campuran antara 5 ons air raksa dan timah dengan berat yang sama, yang keduanya kemudian digilas halus bersama 10 ons sublimate. Campuran itu kemudian disimpan di ruang bawah tanah di atas batu pualam selama empat hari, hingga jadi menyerupai larutan minyak zaitun. Larutan itu kemudian disuling dengan menggunakan api dari sekam, sampai menyublim menjadi suatu zat yang kering. Proses pelarutan dan penyulingan seperti ini dilakukan berulangkali, hingga akhirnya dihasilkan berbagai atom kecil yang, jika dimasukkan ke dalam gelas yang terendam dengan baik dan dijaga tetap kering, akan memiliki gerak abadi.

Tetapi Wilkins segera menambahkan sanggahannya: “Saya tidak dapat mengatakan apa pun berdasarkan pengalaman untuk menentang hal ini; tetapi menurut saya hal itu tampaknya tidak mungkin, karena hal-hal yang dipaksa hingga mencapai kekuatan dan aktivitas yang begitu tinggi, seperti bahan-bahan ini tampaknya karena seringnya proses sublimasi dan distilasi, tidak mungkin bertahan lama; semakin sesuatu diregangkan melampaui sifat biasanya, semakin singkat umurnya, kekerasan dan keabadian tidak bersahabat.” (Mathematical Magick, h: 228~229).

Merujuk pada Ichak dan penulis lainnya, resep tersebut [ternyata] tidak ditemukan dalam risalah-risalah Paracelsus. Banyak teks, yang semula dikatakan ditulis olehnya, [ternyata] milik penulis lain. “Paracelsus-Project” milik Swiss juga memberikan simpulan yang sama.

Adalah gagasan yang baik-baik saja untuk mendapatkan sekilas pandangan tentang tradisi alkemis dan metode-metodenya. Apa tujuan mereka? Apa yang mereka cari? Jawaban klasik mungkin adalah “batu kebijaksanaan” [the philosopher’s stone], yang juga biasa disebut dengan lapis philosophorum. Atau seperti yang disebut dalam beberapa kamus dan ensiklopedi, dalam usaha mencari obat atau zat untuk kekekalan atau memperpanjang hidup, dan juga membuat emas dari logam dasar lainnya. Tetapi, bukankah para alkemis itu adalah si pembuat emas yang licik?

Cerita keseluruhan ternyata tidaklah sesederhana itu, Choi.

Mari pertama-tama kita keluarkan semua orang yang diklaim sebagai licik dan curang itu, baik dikarenakan dia sakit syaraf maupun karena ngebet pengen terkenal, pengen cepat kaya, bisa menghasilkan emas dari bukan logam mulia. Cukup sering mereka sangat terlambat menyadari bahwa mereka ternyata sedang bertualang dalam suatu urusan yang sangat berbahaya; yang seringkali [dapat saja memang] berakhir di laboratorium seorang terhormat, atau penjara bawah tanah, atau ledakan dan kebakaran, atau bahkan tiang gantungan. [Masih ingat ulasan di atas tentang suasana di Eropa abad pertengahan, kan?].

Dan, ayo juga kita keluarkan orang-orang sinting dan para pemimpi yang percaya dengan mendapatkan rumus alkimia untuk menemukan lapis philosophorum akan dapat mengatasi segala masalah – terutama – keuangan mereka. Mereka akhirnya cuma jadi korban penipuan belaka.

Sekarang, ternyata tidak mudah untuk memutuskan tentang hal itu, karena di antara mereka ada beberapa yang pada akhirnya sungguh-sungguh memberikan sumbangan pada kemajuan ilmu kimia.


[GBR. 33] Ilustrasi para alkemis di Abad Pertengahan.

Sebastian Brant (1457-1521) mengomentari karya para alkemis dalam karyanya Narrenschiff (Kapal orang-orang bodoh):

Aku tak akan melupakan hal ini
kecurangan besar si alkemis
membuat perak dan emas menjelma
yang sebelumnya dimasukkan ke dalam dompet.

Oke, mari kita fokus pada hal ini, siapakah yang bekerja dalam tradisi alkimia yang benar-benar berupaya mempelajari alam dan rahasianya? Emang sudah dari sononya para alkemis mempunyai kebiasaan membuat tulisan dan rumus-rumusnya seringkali penuh dengan alegoris atau kiasan. Hal ini barangkali di samping untuk menjaga kerahasiaan, juga untuk menghindarkan digunakan oleh orang-orang [yang mereka anggap] geblek. Namun, akibatnya dengan gaya dan bahasa yang demikian, akhirnya juga memberi ruang untuk munculnya banyak interpretasi tentang cara bagaimana metode dan reaksi kimia itu dilakukan. Hal yang kemudian penting diketahui adalah kesimpulan dari kerja para alkemis adalah tidak dari metode [yang mereka tulis] semata, tetapi juga tergantung pada keadaan saat mereka melakukannya, khususnya kondisi-kondisi astronomikal dan astrologikal, serta pola pikir si alkemis itu sendiri. Di sinilah kita kemudian akan menemukan suatu tradisi magis. Di samping dunia materi dan zat-zatnya, dunia spritual haruslah berada dalam keadaan harmonis dengan keduanya guna mencapai tujuan itu. Bukan hanya material, sang alkemis juga harus memiliki pikiran dan hati yang murni untuk mendapatkan karya agung itu. Dengan demikian, ritual magis adalah merupakan bagian yang melekat dalam metode mereka.

Buku Salomon Trismosins yang berjudul Splendor Solis (1535), yang terkenal dengan ilustrasi dan gambar-gambarnya, adalah yang pertama kali memberikan uraian yang menarik bagaimana proses alkemistikal [istilah yang merupakan penggabungan alkimia dengan mistik] diharapkan bekerja. Lihat gambar berikut ini, pasti keren.


[GBR. 34] One of the Magnum Opus’ steps: The Phase of
multiplication – Multiplicati. (Splendor Solis, ca. 1535)

Dalam buku itu proses alkemistikal tersebut ditampilkan sebagai suatu rangkaian langkah yang linear. Tetapi metode dan langkah-langkah seperti penyulingan atau pemurnian tidak untuk dipahami secara tunggal, melainkan merupakan langkah-langkah pengulangan guna memisahkan semua sisa materi yang tidak diinginkan dalam zat dimaksud. Bersama-sama dengan aspek teknis ini, kesabaran, pengamatan, meditasi, dan doa-doa; juga dengan suatu formula ajaib, kemurnian dari pikiran sang alkemis akan mengambil peran. Sementara itu, keadaan eksternal seperti waktu apakah siang hari atau malam, konstelasi planet-planet dan bintang-bintang juga berpengaruh. Ini jelas menghubungkan alkimia pada tradisi astrologi yang memberitahukan analogi antara ruang angkasa dengan takdir manusia dan dunia.


[GBR. 35] The Circulatorium: repetition as method, allegory as technology.

Menakjubkannya pola proses dan langkah yang berulang-ulang seperti itu dapat kita temukan juga pada beberapa peralatan laboratorium, semisal circularium, sebagaimana dapat dilihat dalam gambar di atas. Di samping itu, beberapa alat lainnya juga dapat dihubungkan dengan dongeng-dongeng atau merupakan reproduksi dari berbagai bentuk makhluk hidup. Seperti dapat dilihat dalam bukunya Giovanni Battista della Porta yang berjudul De Destillationibus: Magia Naturalis (1607), yang memperkenalkan suatu tinjauan luas tentang alat destilasi dan hubungannya dengan makhluk hidup. Kalau dilihat-lihat gambar berikut ini, lucu juga ya? Kayak mainan aja.

[GBR. 36] Analogies between alchemistic apparatus and creatures from Magia Naturalis.
The characteristics of the animal correspond to the similar device.

Dalam bukunya Magnes sive de Arte Magnetica, Anathasius Kircher banyak menulis tentang fenomena magnetik. Ia menguraikan berbagai percobaan dan mainan-mainan lama, tetapi ia juga ternyata tidak tahan terhadap godaan konsep gerak-abadi. Di dalam bukunya itu tiba-tiba saja topik alkimia muncul, ketika ia menulis bahwa kekuatan gaya magnet dapat ditingkatkan dengan daun-daun isatis sylvatica. Sama dengan laporan tentang intan (adamas) yang dikatakan dapat mengurangi gaya magnet seperti yang telah dijelaskan di atas, yang dibantah oleh della Porta, ketika ia melakukan percobaannya. (BERSAMBUNG)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews