WILLIAM Congreve (1772~1828), seorang perwira Inggris yang memperkenalkan roket dalam pertempuran, membuat gambar sebuah MGA yang bekerja dengan efek kapilaritas dalam spons. Prinsip kerjanya sederhana: spons [yang terlihat] di bagian kiri gambar berisi dengan air sehingga menjadi berat. Dengan cara begitu gaya berat spons basah membuat rantai bergerak berlawanan arah jarum jam. Spons yang muncul di bagian kanan diperas dengan tekanan yang berasal dari rantai yang berat, sehingga menyebabkannya menjadi ringan. Tapi apa lacur, meski ini adalah gagasan yang cerdik, ia juga tidak dapat bekerja.

[GBR. 30] Congreves sponge perpetuum mobile.
Kemudian, berdasarkan pada gagasan Giovani Battista della Porta (1535~1615), ahli teknik Italia di masa Renaisans yang bernama Vittorio Zonca (1568~1602) menciptakan sebuah alat gerak-abadi yang menggunakan efek sifon [konstruksi saluran air]. Sifon hanya dapat bekerja bila bukaan-keluarnya lebih rendah dari bukaan-masuknya. Pada masa itu kenyataan ini belum lagi diketahui dengan cermat sehingga membuat konstruksi ini terlihat sebagai sebuah pilihan yang realistis guna mendapatkan sebuah sumber energi abadi. Lihatlah bentuk perut yang aneh dari sifon itu! Itu bukan disebabkan oleh begonya si tukang gambar, tapi karena gagasan itu sendiri, bahwa ukuran yang besar dari bagian bukaan keluar akan menjadi kompensasi dari kurangnya ketinggian. Keseluruhan gagasan kelihatannya masuk akal, manakala efek sifon tidak dijelaskan oleh tekanan air melainkan dengan horror vacui aristotelian, yakni nature abhors a vacuum atawa alam tidak dapat menciptakan ruang hampa.

[GBR. 31] Syphon perpetuum mobile.
Gerak-Abadi Elektrik
Di samping jam radium yang termasyhur, banyak peralatan gerak-abadi elektrik lainnya telah ditemukan. Salah satu contoh terawal berbasiskan pembangkit daya listrik dengan dua elemen Zamboni (yaitu sebuah tipe dari baterai kering). Selama mekanisme itu membutuhkan hanya sedikit sekali tenaga, ia akan dapat bekerja dengan sangat lama. Ord-Hume melaporkan sebuah peralatan yang dihidupkan sekitar tahun 1840 masih bergerak setelah lebih dari 150 tahun berlalu!

[GBR. 32] Electrostatic perpetuum mobile;
the galvanic batteries are concealed inside the columns.
Penemuan-penemuan mesin yang menggunakan mekanisme motor listrik berpasangan dengan generator dan beberapa trik listrik lainnya sangat berlimpahan. Selama tenaga listrik dan mekanis dapat saling diubah, mesin-mesin ini akan bekerja sebaik padanannya dalam mekanis, penggilingan ulang-edar. Dalam penggilingan mekanis kehilangan tenaga akibat gesekan yang tidak terelakkan – pada mesin-mesin elektromagnetik ini kita akan menemukan kehilangan dari daya tahan. Jadi ini juga membuktikan akan menjadi jalan yang keliru untuk mendapatkan sebuah MGA bekerja.
Tetapi elo semua jangan khawatir, di bawah ini kita akan menemukan uraian yang jauh lebih menarik.
Gerak-Abadi Kimia
Pada pembahasan yang terdahulu kita telah berkonsentrasi pada alat-alat gerak-abadi fisikal. Selanjutnya kita akan mendapatkan tinjauan ringkas tentang gerak-abadi kimia serta yang berkaitan dengan alkimia.
Sebuah alat gerak-abadi tidak selalu harus membutuhkan sebuah roda/kincir yang berputar atau suatu sirkuit listrik. Ada kalanya kita juga menemukan legenda-legenda dan laporan-laporan tentang berbagai objek yang penuh berisi peralatan MGA. Tulisan-tulisan lama juga mencakup apa yang disebut dengan lampu-lampu abadi (eternal lamps). Tetapi tentu saja tidak termasuk “lampu Aladin”, he he he. Beberapa konsep dan rumus alkimia juga ternyata berhubungan dekat dengan masalah gerak-abadi.
Alkimia, merujuk pada pengetahuan saat ini, dikenal jauh lebih tua daripada gagasan-gagasan dan pengetahuan awal yang diketahui tentang MGA. Apa yang dimaksud dengan alkimia, sesungguhnya gagasan yang cukup rumit untuk dijelaskan. Dalam KBBI (2002, h: 31) alkimia dijelaskan sebagai “kimia abad pertengahan yang mendambakan obat kekekalan hidup dan mengubah logam merah menjadi emas”. Sedang dalam Ensiklopedi Indonesia (1990, Jilid 1, h: 160), dalam lema alkemi disebutkan “(Ar.: alkhemi = kimia yang sebenarnya). Sebutan untuk kimia sebelum menjadi populer setelah berkembang berdasar ilmu modern. Merupakan campuran antara filsafah, mistik dan teknologi kimia yang dikenal sebM, yang menyelidiki logam dasar untuk dijadikan emas, kemungkinan untuk memperpanjang hidup dan rahasia kekekalan hidup. Dikenal di zaman Mesir klasik melalui tulisan-tulisan alkemis bangsa Arab, Al-Razi. Dalam abad ke-16 dikenal karya Newton masih mencampurkan penyelidikan alkemi dengan mistik dan astrologi. Kini perhatian kpd. alkemi belum habis sama sekali sekalipun manfaatnya untuk ilmu kedokteran dan kimia boleh dikatakan tidak ada lagi.”
Jadi, gagasan sederhananya alkimia adalah nenek-moyang atau purwarupa dari ilmu kimia modern yang kita kenal saat ini. Dan sebagaimana kebanyakan bidang ilmu lainnya, seringkali pada awalnya terkesan kekanak-kanakan, dan atau bahkan diselimuti dengan hal-hal yang bersifat gaib dan mistis. [Ingat legenda ilmu geometri dengan rumus phytagoras dan harmonisasi bilangan?].
Pliny the Elder (23~79) menggambarkan dalam ensiklopedinya Historia Naturalis tentang batu-batu magnet dan efek-efeknya. Diceritakan, ada sebuah patung besi yang tetap mengambang bebas dalam sebuah relung akibat gaya dari batu magnet di sebuah kuil. Meskipun itu bukanlah sebuah MGA, ia dianggap mustahil secara fisikal hingga masa-masa belum lama berlalu ketika giroskop magnet mengambang ditemukan. Ditulis di situ:
“Sang arsitek Timochares telah mulai menggunakan batu magnet [lodestone] untuk membangun kubah di Kuil Arsinoe di Aleksandria, dengan begitu patung besi yang berada di dalamnya jadi terlihat mengambang di udara; tetapi proyek itu terganggu oleh kematiannya dan juga Raja Ptolemy yang telah memesan pekerjaan itu demi menghormati adik perempuannya.”
Yang lebih menarik adalah perhatian Pliny pada adamas (yaitu sejenis intan yang dapat memperkuat maupun mengurangi kekuatan gaya magnet. Penerjemahan adamas sebagai intan sebenarnya tidak benar-benar dapat menangkap apa yang dimaksudkan). Katanya: “Adamas memiliki daya-tolak yang sangat kuat pada magnet, manakala ia diletakkan dekat pada besi ia akan mencegah besi tertarik oleh magnet itu. Atau, bila magnet bergerak ke arah besi dan menangkapnya, adamas akan merenggut dan menjauhkannya [dari magnet].” Satu lagi, nama adamas nampaknya bakal mengingatkan kita sebagai asal-muasal nama salah satu jenis logam terkenal dan terkuat di “Dunia Marvel”, yaitu adamantium, yang hanya digunakan [secara paksa] pada Wolverine [sas].
Pliny sibuk mengumpulkan pengetahuan dan menggabungkannya di dalam buku-bukunya, tetapi tidak semuanya dia yang menulisnya. Beberapa di antara catatannya bisa mengejutkan, baik itu dapat dengan mudah dibuktikan maupun tidak, melalui suatu percobaan sederhana. Elo-elo pade yang tertarik tentang hal ini, dapat melihatnya lebih rinci dalam Pliny’s natural encyclopaedia edisi internet.
Trithemius (1462~1516) yang juga penting dalam sejarah kriptologi, menggambarkan beberapa buah lampu abadi. Di antaranya legenda pembukaan makam Tullia, adik perempuan Cicero (filsuf, penulis, pengacara, dan negarawan Romawi kuno; 106~43 sM). Diceritakan bahwa telah ditemukan sebuah lampu [di dalam makam itu] yang kelihatannya mulai dinyalakan saat pemakaman Tullia. Ketika makam dibuka [ingat, setelah lebih dari 1.500 tahun kemudian], lampu tersebut mati dan tak bisa dinyalakan lagi.
John Wilkins juga mendedikasikan bab yang panjang dalam bukunya Mathematical Magick tentang lampu abadi dan penjelasan bagaimana keajaiban itu dapat terjadi. F Ozanam, teolog abad ke-19 (jangan dikacaukan dengan penulis Recreationes Mathematiques), juga menulis tentang lampu abadi sebanyak delapan halaman.
Pertanyaan besar yang kemudian timbul, berapa banyak dari laporan atau tulisan tersebut yang sekadar berdasarkan legenda dan berapa banyak pula yang memang mungkin benar-benar terjadi. Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang membolehkan anggapan bahwa lampu yang ditemukan itu berada dalam keadaan menyala sejak diperkirakan mulai dihidupkan? Apakah ada peluang untuk penipuan di sini?
Beberapa teori mungkin dapat menjelaskan dengan masuk akal bagaimana lampu-lampu tersebut dapat bekerja dalam kurun waktu yang sangat lama seperti itu. Idenya adalah, lampu-lampu tersebut diletakkan pada tempat yang tertentu dan menggunakan tandon/kolam alami minyak atau gas alam. Penyalaan dengan bahan yang mudah terbakar itu cukup menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi dan dalam waktu yang sedemikian lama. Setelah dipindahkan, lampu-lampu tersebut tentu saja tidak dapat dinyalakan lagi. Berbeda dengan alat perpetuum mobile, penemuan jenis ini adalah cukup masuk akal, di mana ia dapat bekerja hampir selama-lamanya – setidaknya dibandingkan masa hidup manusia, atau hingga sediaan atau deposit bahan bakarnya habis.
Namun, kekurangan – atau bahkan tidak adanya – bukti [empirik] tentang keberadaan lampu abadi ini meninggalkan sebuah masalah. Sepanjang pengetahuan kita belum ditemukan ada di antara lampu-lampu tersebut yang telah melewati hingga ke masa kita, sehingga dapat menjadi bahan kajian bagi kita dengan pengetahuan yang ada pada masa kini. Jadi akhirnya, legenda lampu-lampu abadi itu hanyalah sesuatu yang diulang-ulang secara abadi pula. Begitu. (BERSAMBUNG)

