Menjemput Cahaya di Balik Selendang Sejarah

(Ulasan Singkat atas Buku Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis Jilid 2: Meneladani Sosok dan Perjuangan)

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany*)

Bismillahi walhamdulillah.

BUKU berjudul Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengalis Jilid 2 yang disusun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis di hadapan pembaca budiman ini, bukan sekadar goresan tinta di atas kertas putih semata, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk merajut kembali helai demi helai selendang sejarah keulamaan yang suci – yang terbentang luas dan indah di atas tanah bertuah ini, Kabupaten Bengkalis. Membuka setiap lembaran di buku ini, layaknya memasuki gerbang waktu, sebuah rihlah spiritual menembus riak Selat Melaka di masa lalu yang selalu bergelora, bergemuruh. Di sanalah, jejak mulia para kekasih Allah itu terpahat dengan abadi.

Di buku setebal 307 halaman yang ditulis dan disusun oleh Zulfan Ikhram, Mhd. Zuchri Fachrun, H. Amrizal, Budi Prayitno, H. Adi Sutrisno, Wan Muhammad Fariq, dan Affan Zahidi, termasuk diri penulis sendiri selaku tim penulis MUI dan telah diteritkan Dotplus Publisher pada Desember 2025 ini, diawali dengan menyuguhkan profil ulama yang usianya lebih tua terlebih dahulu. Kisahnya dimulai dari keteguhan KH. Abdul Rasyid, sang alim berwajah teduh dari Kebumen yang membelah samudera demi menanam benih peradaban iman di ladang sunyi Kampung Pedekik, Bengkalis. Keteguhannya meruntuhkan keangkuhan hutan liar dan menaklukkan tabir gaib melalui rona doa di keheningan malam riyadlah, menjadi bukti sahih betapa bumi Melayu senantiasa diberkahi oleh keringat kepasrahan kaum salihin.

Langkah sejarah itu kian mendalam kala bentangan dakwah merambah ke wilayah hulu Kepenghuluan Mandau. Di sanalah Tuan Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi tegak berdiri bagai oase di tengah gurun. Dilindungi jubah karomah dan besluit berlambang Naga Berjuang dari Kesultanan Siak Sri Indrapura, beliau memeluk hati Suku Asli dan Suku Sakai dengan kelembutan tauhid. Melalui tarikan napas zikir Tarekat Naqsyabandiyah yang sunyi namun menggetarkan arsy, kegelapan animisme bertransformasi menjadi beningnya pancaran akidah Islamiyah, melahirkan tali temali spiritual yang menghubungkan bumi Mandau hingga ke Besilam Langkat.

Estafet perjuangan itu tidak berhenti sampai di situ. Di kawasan yang berbeda (Kampung Pedekik), jiwa keteladanan tersebut bersemi pula di dada KH. Muhammad Ichsan, sosok kiai pejuang yang memanggul dua amanah agung sekaligus. Beliau membuktikan bahwa surau dan medan laga adalah dua sisi dari mata uang keimanan yang sama. Keikhlasan pengabdian tanpa pamrih, kepemimpinan kemasyarakatan yang mengayomi, serta madrasah ilmu yang tak pernah sepi menjadi bukti betapa warisan para leluhur tidak pernah padam, melainkan terus bertransformasi menjadi mercusuar ilmu yang hingga detik ini tak henti melahirkan generasi pewaris nabi.

Perjuangan para ulama di Kabupaten Bengkalis terus berlanjut – diteruskan oleh para generasi berikutnya yang memiliki komitmen besar dalam membangunan masyarakat serta peradaban yang jauh lebih baik dan semakin berkembang. Tak heranlah, bila sampai hari ini kita mampu berdiri di sini, di tanah yang mulia ini dengan mengemban berbagai peran dan tanggungjawab kita sebagai generasi yang diyakini mewarisi sifat-sifat mulia dan keteladanan mereka para ulama terdahulu.

Guna memberikan pemahaman yang utuh dan komprehensif, penulisan biografi dalam buku profil ulama jilid kedua ini sengaja disusun berdasarkan pembacaan atas tipologi kiprah dan karakteristik perjuangan para ulama. Jika dikelompokkan, kita dapat menyimpulkan bahwa laku dakwah mereka sebagaimana terukir indah di buku ini, dapat dibagi ke dalam tiga pilar manifestasi: pertama, mereka adalah Ulama Sufistik-Transendental (Mujahid Az-Zikr), yakni para ulama/syekh tarekat yang menghidupkan spiritualitas batiniah umat, menembus pedalaman untuk menaklukkan animisme lewat kedamaian zikir; kedua, Ulama Edukator dan Pembina Umat (Mujahid Al-Ilmi), mereka yang mendirikan surau, pesantren, dan madrasah sebagai benteng pertahanan intelektual serta penjaga akidah generasi muda; dan ketiga, Ulama Pejuang-Struktural (Mujahid Al-Wathan), para tokoh yang turun langsung ke medan laga mengangkat senjata melawan kolonialisme, sekaligus aktif menata sendi sosial-kemasyarakatan. Klasterisasi ini menegaskan bahwa keragaman corak perjuangan para ulama sejatinya adalah satu orkestrasi indah dalam menjaga tegaknya panji Islam di bumi Bengkalis.

Jika diurai lebih lanjut, pengelompokan ulama di buku Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis Jilid 2; Meneladani Sosok dan Perjuangan ini, maka dapat disebutkan nama-nama ulama yang merepresentasikan masing-masing peran tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, Ulama Sufistik-Transendental (Mujahid Az-Zikr) – yakni para Syekh tarekat yang menghidupkan spiritualitas batin umat serta menaklukkan animisme dan menyebarkan Islam lewat kedamaian zikir hingga ke pedalaman, seperti Tuan Syekh H. Imam Sabar. Beliau adalah seorang ulama besar yang menetap di Desa Balai Pungut. Beliau merupakan guru spiritual utama yang membimbing Syekh H. Muhammad Yusuf dalam mendalami syariat Islam secara kaffah. Dalam Tarekat, Syekh Imam Sabar-lah yang mengajarkan dasar-dasar syariat Islam serta menuntun pelaksanaan suluk secara mendalam selama 40 hari 40 malam hingga akhirnya memberikan gelar awal Khalifah kepada Syekh H Muhammad Yusuf (muridnya) agar menyebarkan syariat dan Tarekat Naqsyabandiyah di daratan Mandau.

Kemudian Syekh H. Muhammad Yusuf (1921–2006). Seperti disebutkan di atas, beliau merupakan Khalifah Suluk Tarekat Naqsyabandiyah yang sangat disegani di wilayah daratan Bengkalis (Kecamatan Mandau dan Pinggir). Beliau mendapatkan baiat tarekat dari gurunya, Tuan Syekh H. Imam Sabar dan kemudian memperoleh mandat resmi sebagai guru Tarekat Naqsyabandiyah untuk wilayah Kabupaten Bengkalis langsung dari Tuan Guru Babussalam (Basilam), Langkat, Sumatra Utara. Melalui perannya ini, beliau aktif menjelajahi kampung-kampung untuk menyebarkan syariat Islam, menaklukkan pengaruh mistisme/perdukunan kuno lokal, serta mendirikan beberapa rumah suluk, salah satunya adalah Rumah Suluk Khairul Amal di Muara Basung.

Selanjutnya Tuan Syekh Usman (Anak dari Syekh H. Imam Sabar). Peranannya adalah melanjutkan estafet keulamaan dari sang ayah. Tuan Syekh Usman bertindak sebagai pemegang otoritas atau kemursyidan Tarekat Naqsyabandiyah di wilayah tersebut. Pada tahun 1963, Tuan Syekh Usman-lah yang secara resmi mengakadkan serta menyerahkan kepemimpinan (Mursyid/Pimpinan Tarekat) untuk wilayah Bathin Penaso Daratan di Muara Basung kepada Syeikh H. Muhammad Yusuf. Selanjutnya, pada 30 Oktober 1980, Syekh Usman mempertegas pembagian wilayah dakwah tersebut dengan menyerahkan mandat penunjukan kepada Syeikh H. Muhammad Yusuf sebagai Perwakilan Mursyid Nazir untuk wilayah Balai Pungut.

Kedua, Ulama Edukator dan Pembina Umat (Mujahid Al-Ilmi) – yakni para pendiri surau, pesantren, dan madrasah yang menjadi benteng pertahanan intelektual sekaligus penjaga akidah generasi muda, seperti Tuan Syeikh Faqih Abdurrahman Rafie (1911–1988). Beliau merupakan tokoh ulama dan cendekiawan besar yang mendedikasikan hidupnya secara penuh di bidang pendidikan Islam berbasis pondok pesantren. Walaupun berlatar belakang spiritual Tarekat Naqsyabandiyah, beliau memilih fokus berjuang mendirikan institusi pendidikan formal keagamaan karena tingginya minat beliau terhadap ilmu-ilmu syariat (khususnya ilmu Fikih). Peran edukasi beliau yang sangat monumental adalah mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Hubbulwathan yang cabangnya tersebar di wilayah Riau, termasuk di Air Jamban (Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis). Melalui lembaga dan kader-kader pendidikan yang dibentuknya, beliau berhasil mengenalkan ajaran Islam serta mengubah pola pikir masyarakat pedalaman, khususnya sebagian besar masyarakat Suku Sakai di Kecamatan Mandau.

Kemudian H. Abdul Karim bin H. Mustafa (1930–2020). Beliau dijuluki sebagai “Lentera Ilmu dan Dakwah” yang menerangi kalbu masyarakat pesisir di pulau Bengkalis (khususnya daerah Bantan Tua). Mengemban bekal keilmuan setelah menempuh pendidikan tingkat Sumatera Thawalib di Parabek, Padang Panjang (Sumatera Barat), sekembalinya ke kampung halaman tahun 1954 beliau langsung aktif membina umat lewat ceramah di berbagai masjid. Dedikasi besarnya di bidang edukasi dibuktikan dengan menginisiasi pendirian Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun di Bantan Tua demi memberantas keterbelakangan pendidikan masyarakat pesisir yang kala itu lebih berorientasi pada perdagangan lintas batas laut (semokel) ke Malaysia. Beliau dikenal sebagai pembina umat yang gigih, berprinsip kokoh, namun tetap bijaksana mengambil jalan tengah dalam menghadapi dinamika tradisi lokal keagamaan di tengah masyarakat.

Selanjutnya pula yang dapat dikelompokkan dalam Ulama Edukator dan Pembina Umat (Mujahid Al-Ilmi) ini, adalah H. Muhammad Usman, BA (1938–2006). Ulama karismatik kelahiran Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis, ini akrab disapa oleh masyarakat dan ahli warisnya dengan sebutan “Buya”. Berbekal latar belakang pendidikan PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Tanjung Pinang dan Bogor, beliau mengabdikan diri sebagai pendidik, mubaligh yang diandalkan umat, serta PNS di Departemen Agama RI. Selain aktif menulis teks khotbah dan berdakwah lintas daerah, perannya sebagai edukator dan pembina sosial kemasyarakatan sangat kuat. Antara tahun 1994–1999, beliau bersama beberapa tokoh lainnya menginisiasi penyediaan lahan dan memelopori berdirinya Pesantren Terpadu Darul Falah di Desa Pematang Duku, Kecamatan Bengkalis. Beliau juga menjadi figur pembina umat yang diandalkan dalam menyelesaikan berbagai konflik sosial, moral, dan politik pasca-reformasi di Kabupaten Bengkalis.

Begitu juga dengan H. Rabuddin Nur ((1921-1985), H. Sobari (1942-2014), Muhammad Taslim (1948-2004), dan H. Abdullah Bin Mat Jim (1950-2021), mereka adalah para ulama, tokoh penting dalam pembangunan dakwah dan dunia pendidikan Islam di pulau Bengkalis (Kecamatan Bengkalis dan Bantan) dan pulau Rupat. Lewat peran dan kiprah besar mereka di tengah kehidupan masyarakat, telah mengantarkan para generasi penerus daerah ini menjadi pribadi-pribadi yang teguh menjalankan syariat Islam, berilmu pengetahuan dan berakhlakul karimah,

Ketiga, Ulama Pejuang-Struktural (Mujahid Al-Wathan) – yakni para ulama yang turun langsung ke medan laga mengangkat senjata melawan kolonialisme (penjajah), sekaligus aktif menata sendi sosial-kemasyarakatan dan birokrasi/pemerintahan. Diantara ulama yang masuk dalam kategori ini antara lain: K.H. Abdul Rasyid (1825–1912). Beliau adalah ulama perintis dan pendiri Kampung Pedekik. Beliau memiliki rekam jejak perlawanan rohani dan batin terhadap Belanda serta dilindungi dari intaian tentara KNIL yang kerap mengawasi gerak-gerik para ulama pada masa itu.

Kemudian K.H. Muhammad Ichsan (1899–1988). Beliau dikenal sebagai Kiai Pejuang dari Tanah Pedekik. Kiai yang satu ini memimpin langsung Pasukan Laskar Sabilillah sayap Pedekik dalam pertempuran bersenjata melawan Agresi Militer Belanda II yang memuncak pada Perang Sosoh tanggal 9 Januari 1949. Di jalur struktural, beliau menjabat sebagai Kepala Desa/Penghulu Kelapapati periode 1957–1970.

Selanjutnya Tengku Said Muhammad Alydrus (1905–1996). Beliau adalah ulama yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan RI di Bengkalis dan Rupat. Beliau menjadi pemasok logistik utama (menyumbangkan 14 ton beras per bulan selama 2 tahun) dan penyokong dana sebesar 3.000 Dolar Straits Malaka untuk jalannya Pemerintahan Bupati Militer H. Muhammad. Secara struktural, beliau ditunjuk sebagai Penasehat Pegawai Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Pegawai Kecamatan di Rupat (1947–1949).

Tuan Syekh Usman bin Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi (1922–1992), juga merupakan ulama yang dapat dikelompokkan dalam kategori ini. Beliau adalah ulama yang terlibat langsung sebagai tentara pejuang kemerdekaan dengan pangkat Kopral (1940–1942) yang mengurusi logistik prajurit RI melawan Belanda, sehingga dianugerahi gelar Veteran Republik Indonesia oleh Dephankam RI pada tahun 1982. Di bidang struktural, beliau menjabat sebagai P3 NTR (Wali Hakim) sejak 1960 serta menjadi Mursyid Nazir Mandau secara struktural tarekat yang membawahi wilayah perairan hingga Siak.

Hal yang sama juga seperti apa yang dilakoni H. Zahari bin Abdul Manaf (1924–1996). Ia pernah bergabung dengan Laskar Rakyat fi Sabilillah di daerah Meskom dan ikut terjun langsung bertempur secara gerilya melawan tentara Belanda dalam Perang Sosoh di Desa Pedekik tahun 1948. Atas jasanya, beliau mendapat penghargaan resmi sebagai Veteran Eksponen Angkatan 45. Secara struktural pemerintahan, beliau merupakan abdi negara (PNS) yang menjabat sebagai Guru Agama Sekolah Rakyat sejak 1952 hingga diangkat menjadi Pengawas/Penilik Sekolah Madrasah di Departemen Agama Kabupaten Bengkalis.

Selain itu, ada H. Muhammad Yunus bin H. Salam (1934–2014). Ia adalah ulama karismatik yang bergerak di jalur Pejuang Struktural-Politik di Bengkalis. Beliau merupakan tokoh penggerak sosial kemasyarakatan, aktif memimpin gerakan pemberdayaan ekonomi umat lewat kader Koperasi, serta menjadi politisi sejati yang mengabdi lewat jalur kepartaian (Partai Persatuan Pembangunan/PPP) di Kabupaten Bengkalis.

Buku ini adalah buku kedua, kelanjutan dari buku Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis yang pernah diterbitkan pada tahun 2021 lalu. Buku ini menjadi bentangan cermin jernih bagi kita semua—generasi yang hidup di era modern yang kerap kali bising dan kehilangan arah. Dari biografi para ulama karismatik ini, kita diajarkan bahwa kemakmuran sebuah negeri tidak melulu diukur dari megahnya bangunan dan kokohnya gedung-gedung yang dibangun, melainkan disangga oleh kokohnya tiang akidah, keikhlasan pengabdian, serta hembusan doa sunyi dari para kekasih-Nya di sepertiga malam. Mereka adalah para ulama kita, lentera umat, mata air kebajikan yang tak pernah kering. Mereka ulama yang selalu menjadi jangkar moral – yang menjaga marwah peradaban negeri ini.

Selamat menyelami samudera keteladanan. Semoga setiap lembaran kisah dan perjuangan yang terbaca mengalirkan berkah, menghidupkan hati yang redup dan sunyi, serta memercikkan api semangat untuk terus menjaga hubungan luhur, antara ilmu, iman, dan amal di bumi bermarwah ini. Amin ya rabbal ‘alamin.

Alhamdulillah. Wallahu a’lam. ***

Bengkalis, Juli 2026

*) Marzuli Ridwan Al-bantany, adalah sastrawan dan penulis Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Selain menjadi penulis buku Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis Jilid 1 dan Jilid 2, beliau juga menulis karya-karya fiksi berupa puisi, cerpen dan novel. Beliau juga aktif menulis esai dan mempublikasikannya di media massa di Riau.

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews