CERPEN: Kisah Seorang Lelaki Baik yang Selalu Bernasib Buruk

Ilustrasi

Oleh: Juli Prasetya

TAHI anjing yang baru saja ia injak adalah kesialannya hari ini yang ke 72. Mula-mula kesialan pertamanya terjadi di rumahnya sendiri, kepalanya terbentur pintu rumah, disusul dengan kesialan-kesialan beruntun berikutnya, keran kamar mandi rusak, kakus yang jebol, bajunya bolong terpanggang saat disetrika, sampai di luar rumah pun ia selalu mengalami nasib sial sepanjang hari. Sungguh lelaki malang yang sial.

Hari ini lelaki itu berusia 27 tahun, usia yang cukup matang untuk menentukan dan mengambil jalan hidup sendiri. Tapi meskipun sudah berumur dan dapat mengambil jalan hidup sendiri, ia tak tahu mengapa kesialan-kesialan itu selalu menimpa dirinya selama dua tahun belakangan ini, dengan intensitas yang semakin sering, dan kesialan yang makin lama makin menjadi-jadi. Dan untuk melawan semua kesialan itu ia hanya memiliki stok umpatan dan makian yang berlimpah ruah.

Untungnya di hari-harinya yang penuh dengan kesialan dan kesedihan itu, ia memiliki seorang kekasih yang mau menemaninya, menerima dan mengerti keadaannya, mengerti bahwa si lelaki menggebol nasib sial di sisa hidupnya. Sehingga, kekasihnya pun kadang juga sering tertimpa kesialan. Seperti tiga hari yang lalu, saat kekasihnya nekat mengantarnya ke kos-kosan dengan sepeda motor, di tengah perjalanan mereka disalip oleh truk pengangkut sampah dengan bau busuk yang luar biasa, lalu entah bagaiamana caranya, sampah yang menumpuk di atas bak truk yang sedang menyalip mereka itu tiba-tiba tertiup angin kencang, dan mengenai mereka berdua yang sedang berada di belakang truk.

“Bajingan!!! ” mereka mengumpat sejadi-jadinya secara bersamaan, bau sampah menguar ke jalan raya. Dan tubuh mereka pun ikut berbau sampah, bacin. Bukannya berhenti membersihkan diri, mereka malah membawa bau busuk sampah yang menempel di badan mereka itu di sepanjang perjalanan pulang. Tapi anehnya sang kekasih menikmatinya, dan hal inilah yang kemudian membuat lelaki sial itu semakin jatuh cinta.

“Tak apa, kesialan adalah hal lumrah dalam hidup,” kata kekasihnya kalem

“Lumrah matamu, aku tak tega padamu, aku jadi merasa bersalah dan tak enak hati. Soalnya karena kesialanku, kau juga jadi ikutan kena sial” kata lelaki itu membalas

“Sudahlah tak perlu dirisaukan, tak usah terlalu dipikirkan, toh kesialan ini juga pilihanku sendiri. Tanpa menerima kesialan ini mana bisa aku dekat denganmu seperti sekarang bukan?” balas kekasihnya sambal tersenyum dan cengengesan.

“Kau memang perempuan aneh”

“Maksudmu?”

“Pokoknya kau perempuan aneh, apakah kau tahu, bahwa badanmu sekarang bau sampah karena ikut menanggung beban kesialanku, tapi kau malah bersikap tenang, bahkan masih bisa cengengesan begitu”

“Hehe, kan sudah kubilang, tanpa menerima seluruh kesialan yang melekat pada dirimu, mana bisa aku dekat denganmu seperti sekarang. Sedangkan bagiku bisa dekat denganmu saja adalah suatu keberuntungan suatu anugerah dari Tuhan”

“Kau gila, kesialan kau anggap keberuntungan, aku tak tahu jalan pikiran perempuan”

“Hahaha dan lelaki memang dungu seperti keledai keberatan beban” Lalu mereka saling berciuman di atas sepeda motor, sambil saling menghirup bau sampah di tubuh mereka.

Awalnya lelaki sial itu tak pernah tahu bahwa kesialan-kesialan yang selama 2 tahun ini menimpanya adalah sebuah takdir aneh agar ia tidak menerima kesialan-kesialan yang lebih besar di dalam hidupnya, mati konyol misalnya. Hal ini baru ia sadari ketika ia melihat kawannya mati dengan penyebab kematian yang begitu konyol, tersedak mi saat naik becak.

Mati karena tersedak mi, terpeleset kulit pisang, pendarahan di kemaluan karena terjepit risleting. Adalah satu jenis kematian konyol. Tapi betapa konyolnya sebuah kematian, kematian tetaplah kematian, setiap orang tidak boleh menertawakan kematian yang lain meskipun dengan alasan dan penyebab yang begitu tolol dan konyol. Semenjak ia mendapatkan pencerahan itu, sekarang dengan segala kesialannya ia merasa patut bersyukur, karena ia diberi kesialan-kesialan kecil untuk menghindarkan dirinya dari kesialan yang lebih besar, seperti mati konyol itu. Apalagi sekarang ia merasa terberkati, karena kehadiran kekasihnya yang bagai mukjizat di dalam hidupnya.

Dan sekali waktu lelaki baik dengan nasib buruk itu mengatakan hal yang tak terduga kepada kekasihnya “Kalau memang aku harus mati, aku hanya ingin mati di pelukanmu saja” ucapnya, dan sedetik kemudian sebuah botol tiba-tiba terlempar menghantam mulutnya. ***

Purwokerto, 2020-2024

——————-
Juli Prasetya adalah seorang penulis muda asal Banyumas. Kumcer terbarunya diterbitkan dengan judul Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran. *

Baca: Lelaki itu Membelah Rembulan

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews