CERPEN: Pemimpin yang Dicintai Rakyat

Oleh: Khairul A. El Maliky

KOTA Madinah gelap gulita. Jalanan kota juga gelap gulita. Zaman itu tidak sama dengan zaman seribu empat ratus tahun kemudian ketika Madinah menjelma kota modern yang dikunjungi oleh kaum muslimin dari penjuru dunia. Zaman itu, beberapa bulan yang lalu, kota Madinah baru saja berkabung. Dan kesedihan itu belum lama kering, sejak Nabi, sang pemimpin kaum muslimin meninggal dunia. Pucuk kepemimpinan kaum muslimin dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, manusia pertama yang membenarkan peristiwa Isra Mikraj yang dialami oleh sahabatnya tanpa harus membuktikan dengan data ilmiah. Sehingga dia diberi gelar Ash-Shiddiq, orang yang percaya tanpa ragu. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menyamai Abu Bakar. Karena itu, kaum muslimin sepakat mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin setelah Nabi tiada. Meski ada segelintir kaum muslimin yang tidak setuju hanya demi mencari jabatan dengan cara menjilat kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih muda.

Cahaya rembulan sangat setia menerangi kota Nabi. Langit selalu cerah dengan bintang-gemintang yang senantiasa membentuk formasi mempesona. Pohon-pohon kurma yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pusat kota melambai-lambaikan tangannya seakan Nabi masih hidup dan memperhatikan umatnya. Sejatinya Nabi tidak pernah meninggal. Jasad dan ruh beliau diangkat oleh Allah sehingga makam yang diziarahi oleh kaum muslimin sama sekali tidak ada isinya. Mengapa demikian? Sebab Nabi maksum. Makam semua nabi kosong. Hanya tinggal kain morinya saja yang utuh tanpa jasad.

Dalam gelapnya kota Madinah, seorang lelaki dengan postur tubuh yang tidak begitu kurus, wajahnya sama sekali tidak kelihatan, dan tubuhnya dibungkus jubah kain selendang keluar dari rumahnya yang sangat sederhana. Dengan suaranya yang lembut, lelaki itu berpamitan kepada istri dan anak-anaknya. Tidak seorang pun dari keluarganya yang tahu ke manakah lelaki itu akan pergi. Juga tak seorang pun warga yang melihatnya sebab hari hampir menjelang fajar. Orang-orang masih terlelap dalam tidurnya yang panjang. Di tangannya, lelaki itu membawa setengah karung berisi gandum. Dia memanggulnya seorang diri. Angin malam berembus dengan perlahan, seolah menemani lelaki tersebut. Bulan yang telah condong ke barat seakan menyaksikan apa yang dia perbuat. Namun bagi lelaki itu, cukup makhluk Allah yang lain yang menjadi saksinya, jangan sampai ada seorang pun manusia yang tahu dan melihat apa yang dilakukannya.

Setelah berjalan ratusan meter, lelaki itu akhirnya sampai di sebuah gubuk tua yang reot. Mengucapkan salam di depan pintu. Lelaki itu membuka pintu pelan dan masuk ke dalam gubuk tersebut. Satu jam kemudian, lelaki itu keluar dari gubuk itu dan pulang di bawah keheningan fajar.

***

Sementara itu, di ruang tamunya, seorang lelaki paro baya lain sedang termenung di atas tikar anyaman pelepah kurmanya. Pakaiannya sangat sederhana dan dipenuhi dengan tambalan. Dia tidak seperti manusia zaman sekarang yang merasa risih ketika mengenakan pakaian lusuh. Bagi lelaki itu, yang menghadap Allah ketika beribadah bukanlah jasad atau pakaian yang melekat di tubuhnya melainkan ruhnya. Yang dinilai dan yang dilihat oleh Allah ketika seorang hamba menghadap-Nya pun bukanlah pakaiannya melainkan kekhusyukannya. Dan kekhusyukan tidak akan pernah tercapai kecuali melalui jalan kekosongan. Tak lama kemudian, istrinya muncul dari ruang tengah dan berjalan menghampiri suaminya.

“Apakah yang sedang Anda pikirkan, Suamiku?” istrinya bertanya.

“Selama ini aku penasaran, ke manakah dia selama ini pergi?” lelaki paro baya yang tidak lain adalah Umar bin Khattab itu menjawab.

“Apakah Anda sudah mengikutinya ke mana beliau pergi?” istrinya kembali bertanya.

Suaminya menggelengkan kepala.

“Siapa tahu beliau pergi ke rumah salah seorang kaum muslimin?” ujar istrinya berpendapat.

“Aku tidak ingin berprasangka, Istriku.”

“Bukan berprasangka, Suamiku. Tapi, siapa tahu beliau mendatangi rumah salah seorang kaum muslimin dan beliau tidak ingin ada seorang pun kaum muslimin yang lain tahu dan melihat apa yang beliau lakukan,” istrinya meluruskan agar suaminya tidak salah paham.

“Hanya Allah dan seluruh makhluk-Nya yang ada di bumi yang tahu apa yang telah beliau lakukan,” kata Umar. “Tapi, Istriku. Aku sungguh benar-benar merasa penasaran. Amalan apa yang sedang beliau lakukan sehingga begitu sangat rahasia.”

“Bukankah selama Nabi Saw. masih hidup, beliau telah mencontohkan kepada kita bahwa beliau selalu melakukan kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun? Bahkan Abu Bakar sekalipun,” ujar istrinya.

Umar mengangguk. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya bahwa memang selama Nabi Saw. masih hidup beliau tidak pernah menampakkan diri atau bercerita tentang apa yang dikerjakannya. Bukankah berbuat kebaikan memang tidak harus viral? Apabila tangan kanan melakukan suatu kebaikan, jangan sampai tangan kiri mengetahuinya, demikian wejangan beliau. Dan lelaki miterius itu mengamalkannya. Tapi, Umar justru sangat penasaran. Dia berencana akan membuntuti lelaki misterius itu.

***

Lelaki misterius itu tidak lain adalah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Satu-satunya manusia di atas muka bumi yang membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw. tanpa keraguan sama sekali di hatinya. Beliau juga satu-satunya manusia yang paling percaya bahwa Nabi Saw. manusia yang tidak pernah berbohong. Seperti hari kemarin, setiap menjelang subuh, beliau berpamitan kepada keluarganya untuk pergi sebentar.

“Aku pamit sebentar,” kata Abu Bakar kepada istrinya.

“Hati-hati, Suamiku,” istrinya melepas kepergiannya.

Abu Bakar mengangguk.

Lalu, dia meninggalkan rumahnya yang sangat sederhana. Tidak seperti rumah atau kediaman pejabat negara saat ini yang penuh dengan fasilitas mewah. Tidak ada satu pun fasilitas yang beliau gunakan untuk kunjungan kerja. Bahkan, jubah yang melekat di tubuhnya membuat hati merasa teriris dan mata meneteskan air mata. Padahal beliau adalah seorang khalifah, penerus amanah ilmu kenabian yang sangat dirahasiakan. Agar tidak seorang pun melihat wajahnya, beliau menutupi-nya dengan kain sorban. Tapi tidak dengan Umar, sahabatnya, orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw. setelah Abu Bakar sendiri.

“Ke mana dia akan pergi,” bisik Umar yang memang menunggunya malam itu. Dia rela menunggu Abu Bakar dari dalam rumahnya. “Aku akan mengikutinya.”

Setelah Abu Bakar agak jauh, Umar membuntutinya dari belakang.

Setelah berjalan ratusan meter, sampailah Abu Bakar di gubuk reot yang sama. Dia mengucapkan salam di depan pintu dan membuka pintu yang terbuat dari kayu kurma itu. Di dalam gubuk tua tersebut, hiduplah seorang perempuan tua yang telah renta. Kedua matanya telah buta. Tubuhnya ringkih karena dimakan usia. Tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya sebuah kebisuan. Nenek tua itu tinggal seorang diri. Anak-anaknya syahid di medan perang demi membela agama Rasulullah Saw. Dan sudah menjadi tugas Abu Bakar sebagai khalifah memper-hatikan rakyatnya. Selama satu jam di dalam gubuk reot itu, Abu Bakar mencuci perabotan dapur. Setelah itu, dia membuat bubur gandum yang dia panggul sendiri dengan bahunya. Lalu, dia menyuapi nenek tua itu dengan penuh kasih sayang. Selesai menyuapi nenek tua, Abu Bakar pulang tanpa berpamitan. Dia harus meninggalkan gubuk tersebut sebelum ada manusia yang melihatnya. Dia tidak ingin salah satu dari rakyatnya yang menyaksikan perbuatan yang beliau kerjakan.

Sedangkan Umar memperhatikannya dari jarak agak jauh. Menunggu Abu Bakar keluar dari gubuk tersebut. Saat melihat Abu Bakar keluar, rasa penasaran Umar semakin menjadi. Dia ingin tahu, siapa yang ada di dalam gubuk itu sehingga membuat Abu Bakar selalu mengunjunginya setiap menjelang fajar. Lantas, dia memutuskan pergi ke gubuk itu besok sebelum Abu Bakar datang.

***

Keesokannya, satu jam sebelum Abu Bakar datang, Umar datang mendahului. Dia mengucapkan salam di depan pintu. Mencuci perabotan dapur, memasakkan bubur gandum, dan menyuapi nenek tua itu. Tapi, Umar bukanlah Abu Bakar.

“Kamu bukan orang yang selalu mengunjungiku setiap malam,” ucap nenek tua itu marah. “Kamu tidak selembut orang itu ketika menyuapiku.”

Bukankah marah, justru ucapan yang keluar dari mulut perempuan tua itu membuat hati Umar menangis. Padahal dia sudah melakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tapi, kelembutan hati beliau tidak bisa menyamai kelembutan hatinya Abu Bakar.

“Yaa Allah, sungguh aku tidak bisa menyamai apa yang dilakukan oleh Abu Bakar,” gumam Umar membatin. “Tak seorang pun di atas muka bumi yang bisa menandingi Abu Bakar.”

“Apakah Ibu tahu, siapa orang yang mengunjungi Ibu setiap malam itu?” tanya Umar.

“Dia tidak pernah menyebut namanya. Dia hanya datang, mencuci perabotan dapurku yang kotor, membuatkan aku bubur gandum, menyuapiku dengan lembut sampai aku merasa kenyang, dan menyapu lantai rumahku. Setelah itu dia pergi tanpa berpamitan,” nenek tua itu menjelaskan yang justru membuat tangisan Umar pecah.

Dia jadi teringat dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dulu ketika menyuapi seorang lelaki Yahudi buta di pasar. Meski lelaki buta itu selalu menghina Nabi, namun Nabi Saw. mengunjunginya dan menyuapinya roti dengan penuh kelembutan. Tidak ada dialog, tidak ada perkenalan singkat. Tapi, sikap lembut beliau begitu terasa. Kini, Abu Bakar melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh Nabi. Bayangkan, nenek tua itu tidak tahu nama orang yang mengunjunginya setiap malam.

“Abu Bakar adalah seorang pemimpin yang sangat dicintai oleh rakyatnya, yang bahkan tidak bisa disamai oleh seorang Umar. Celakalah engkau, Wahai Umar,” kata Umar masih membatin. ***

Malang, 2026

———————————
Khairul A. El Maliky adalah pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa. *

Baca: 01000001 01001100 01000001 01001101 01000001 01010100 01001001

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews