CERPEN: Lelaki itu Membelah Rembulan

Ilustrasi

Oleh: Khairul A. El Maliky

MALAM menjepit kota Mekkah seperti kain sutra gelap yang direntangkan oleh tangan tak kasat mata. Angin gurun datang dengan pelukan hangat, membawa pasir halus yang menari-nari di antara celah-celah batu, seolah berbisik rahasia yang terlambat untuk disampaikan. Pepohonan kurma berdiri tegak seperti pasukan utusan yang membisu, daun-daunnya menggeram lembut seolah menyimpan risalah ketuhanan yang hanya bisa dirasakan, tidak bisa didengar.

Di kaki Gunung Safa, sekelompok manusia telah berkumpul dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu dan sebagian lagi dengan tatapan yang menyengat. Mereka datang bukan karena mencari kebenaran, melainkan karena ingin melihat kesia-siaan—atau mungkin, dalam lubuk terdalam yang mereka sembunyikan, mencari alasan untuk mempercayai. Di tengah kerumunan itu, seorang lelaki berjalan dengan langkah yang lembut namun tegas. Wajahnya tampan seperti patung yang dibentuk oleh cahaya sendiri, namun di sudut bibirnya terlukis lekukan kesedihan yang seolah telah menetap sejak dulu kala. Mereka menyebutnya Muhammad—si yatim piatu yang telah lama mengajak mereka kembali ke jalan yang dulu ditempuh oleh Nabi Ibrahim: menyembah satu Tuhan, menyembunyikan segala berhala yang selama ini mereka angkat sebagai tuhan-tuhan semu.

“Wahai penduduk Mekkah!” Suaranya seperti gemericik air di tengah padang pasir, jelas dan menghibur namun penuh kekuatan. “Bertaubatlah sebelum terlambat! Surga yang luas menanti mereka yang mengikuti kebenaran, dan neraka yang menyala-nyala akan menjemput mereka yang menutup mata dari cahaya!”

Namun kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke dalam danau yang beku—tidak meninggalkan riak apa pun di hati kebanyakan yang ada di sana. Malah, seorang pria dengan tubuh besar dan wajah yang memerah karena kemarahan melangkahkan kaki ke depan. Abu Lahab—yang selalu menjadi penghalang terbesar dalam setiap seruan kebaikan. Bibirnya mengerut seperti kulit kayu yang retak, matanya menyala seperti bara api.

“Jika engkau benar-benar utusan Tuhan seperti yang kau klaim,” teriaknya dengan suara yang menggema di antara hembusan angin, “maka tunjukkanlah mukjizat yang bisa membuat kami percaya! Jika tidak, maka engkau hanyalah pembohong yang menggunakan khayalan untuk membodohi orang banyak!”

***

Kumpulan orang ramai pun bergemuruh, suara mereka seperti deru ombak yang hendak menghanyutkan pantai. Beberapa di antaranya mengangkat tangan, menyuruh lelaki itu memenuhi tantangan Abu Lahab. “Ya, tunjukkan mukjizat! Jika engkau benar, maka buktikanlah!”

Lelaki itu menundukkan kepalanya. Rambutnya gelap seperti malam menutupi sebagian wajahnya, dan siapa yang bisa melihat betapa dalamnya kesedihan yang menghantui hatinya? Seolah dia sedang melihat sekilas masa depan, di mana manusia akan terus-menerus menutup hati mereka dari kebenaran. Kemudian, perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang bersinar. Bulan purnama seperti permata besar yang menggantung di kanvas kegelapan, memancarkan cahaya yang menyinari setiap sudut kota yang sunyi.

Dia berdoa dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya dan Sang Khalik. “Ya Tuhanku, tunjukkanlah kekuatan-Mu kepada hamba-Mu yang sombong ini, agar mereka mengetahui bahwa kebenaran tidak pernah bisa disembunyikan oleh kebodohan.”

Seketika itu juga, seolah ada pesan yang datang dari alam semesta itu sendiri. Udara menjadi sejuk, angin berhenti bertiup, dan seluruh dunia seolah berhenti bernapas. Tanpa dipanggil, bulan yang tadinya berada jauh di langit perlahan-lahan mendekat—seolah seorang raja yang datang untuk memenuhi undangan dari anaknya yang tercinta. Cahayanya menjadi semakin terang, hingga akhirnya bulan itu berada tepat di pangkuan tangan lelaki itu yang tipis namun penuh kekuatan.

Orang ramai menjadi sunyi total. Bibir mereka terbuka lebar, mata mereka melebar seperti piring. Tak seorang pun bisa mengeluarkan suara apa pun. Kemudian, dengan gerakan yang lembut namun pasti, lelaki itu memisahkan kedua tangannya ke arah kanan dan kiri. Dan keajaiban yang tak terbayangkan terjadi: bulan yang bulat dan sempurna itu terbelah menjadi dua bagian yang jelas terpisah! Setiap bagian mengambang di udara, memancarkan cahaya yang lebih terang dari sebelumnya, seolah dua mata yang sedang memandang rendah kepada manusia yang sombong.

“Inilah mukjizat yang kau minta,” ujar lelaki itu dengan suara yang tenang namun penuh makna.

***

Beberapa di antara kerumunan itu terjatuh lutut, tubuh mereka gemetar karena ketakutan dan kagum yang luar biasa. Namun sebagian besar—terutama Abu Lahab—hanya menatap dengan wajah yang penuh rasa tidak percaya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti abad, lelaki itu menyatukan kedua tangannya kembali. Bulan yang terbelah itu perlahan menyatu seperti semula, tanpa satu bekas pun yang menunjukkan bahwa ia pernah terpisah. Cahayanya kembali menyebar ke seluruh penjuru, menyinari jalan-jalan kota Mekkah yang sepi.

Namun keajaiban itu tidak hanya dirasakan di bumi Arab saja. Di belahan dunia yang lain, di daratan yang ditempati oleh bangsa Aztec, mereka yang sedang mengawasi langit terkejut melihat bulan yang tiba-tiba terbelah. Mereka mengira itu adalah kemarahan dewa mereka, Huitzilopochtli. Dengan tergesa-gesa mereka bersujud di atas tanah yang keras, menyembelih hewan bahkan manusia sebagai persembahan agar amarah dewa bisa mereda. Di wilayah lain, bangsa Maya yang cerdas dalam mengamati gerakan langit juga menyaksikannya. Bagi mereka, itu adalah pertanda bahwa kiamat telah tiba—hari dimana dunia akan kembali ke kegelapan yang awal. Mereka berkumpul di kuil-kuil mereka, menyanyikan lagu-lagu doa sambil menanti akhir yang mereka kira sudah dekat.

Namun tak lama kemudian, alam kembali pulih ke keadaan semula. Bulan bersinar seperti biasa, dan kegelapan malam kembali terpecahkan oleh cahayanya yang lembut. Bangsa Aztec dan Maya menghela napas lega, mengira bahwa persembahan mereka telah diterima atau bahwa kiamat telah tertunda. Namun mereka tidak pernah tahu bahwa apa yang mereka saksikan adalah mukjizat yang diberikan oleh Tuhan yang sama untuk membuktikan kebenaran utusan-Nya di tanah yang jauh.

Di Mekkah, kerumunan mulai berhamburan. Mereka pulang dengan hati yang bercampur aduk—beberapa dengan keyakinan yang baru tumbuh, namun sebagian besar dengan hati yang semakin keras. Abu Lahab bahkan menghembuskan napas dengan penuh rasa jijik. “Itu bukan mukjizat!” teriaknya kepada orang-orang yang masih berada di sekitarnya. “Hanya ilusi optik belaka! Si yatim itu pasti telah menyewa penyihir untuk membodohi kita semua!”

Lelaki itu berdiri sendirian di atas bukit, menatap ke arah kota yang mulai kembali sunyi. Tangannya menggenggam bumi hangat, dan hatinya seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum. Betapa menyakitkannya melihat bahwa meskipun kebesaran Tuhan telah diperlihatkan secara nyata di hadapan mereka, hati mereka tetap menutup diri dari kebenaran. Ia tahu bahwa perjuangan yang akan dia tempuh masih panjang dan penuh dengan rintangan.

***

Beribu-ribu tahun berlalu seperti air yang mengalir di bawah jembatan. Zaman berubah, peradaban berkembang, dan ilmu pengetahuan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun ada segelintir orang yang dengan sombongnya mencaci maki cerita tentang pembelahan bulan. “Tidak ada ayat Al-Qur’an yang menjelaskannya secara jelas!” ucap mereka dengan suara yang keras. “Tidak ada hadis yang sah yang membuktikannya!” Bahkan mereka yang mengaku sebagai orang ilmiah pun menyatakan bahwa tidak ada bukti saintifik yang menunjukkan bahwa bulan pernah terbelah. Mereka tertawa, menganggapnya hanya dongeng kuno yang dibuat untuk membodohi orang awam.

Begitulah hati manusia—seolah terbungkus oleh tembok besi yang tebal, ditutupi oleh hijab kebodohan yang tidak pernah bisa dilepas. Mereka mencari bukti dengan mata yang buta dan hati yang tuli. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak selalu bisa diukur dengan alat-alat saintifik atau dijelaskan dengan kata-kata manusia yang terbatas. Kebenaran adalah sesuatu yang harus dirasakan oleh hati yang bersih dan terbuka—hati yang siap menerima bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari segala sesuatu yang bisa dibayangkan oleh akal manusia.

Dan di antara kegelapan kebodohan itu, bulan tetap bersinar setiap malamnya—seolah sedang menunggu saatnya ketika hati manusia akhirnya akan terbuka, dan mereka akan menyadari bahwa pembelahan yang terjadi bukan hanya pada bulan, melainkan pada diri mereka sendiri yang memilih untuk memisahkan diri dari kebenaran. ***

Malang, Ramadhan 2026

——————————-
Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo. Alamat penulis: Lingkungan Karang Tengah RT/ RW: 02/02 Jalan Kyai Syafi’i Jrebeng Kidul Kota Probolinggo. No. Rek: (BRI) 007301024928530 An. Windy Eko Prastiyo. *

Baca: Semoga Yal Sembuh

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews