Tekno  

Perpetuum Mobile: Dalam Sejarah Gagasan dan Konsep (Penggal 10)

Kincir-kincir Terkini

Kalo elo mempelajari berbagai aplikasi paten (pemerian hukum hak atas suatu ciptaan), elo akan dengan mudah menemukan bahwa kemajuan teknik mengambil tempat dalam berbagai wilayah/bidang – kecuali satu: perpetua mobilia machine (MGA, mesin gerak abadi). Mesin-mesin jenis ini jadi selalu terlihat sebagai sebuah penemuan yang ganjil, tanpa referensi atau rujukan dan atau pengetahuan tentang penemuan-penemuan [sejenis] sebelumnya, serta perkembangan seni teknik.

Dari ratusan arsip yang ada, mari kita lihat beberapa di antaranya yang berkonsepkan mesin gaya-apung yang menggunakan rantai berpengapung. Mau elo pelajari? Hm ….

Penutup

Fantasi atau khayalan dapat dengan mudah membongkar semua batasan ilmu pengetahuan dan teknologi, setidaknya, yang diketahui saat itu. Bukan hanya bagi para penemu/pencipta serius, tetapi juga penulis-penulis fiksi-ilmiah dan pendahulu-pendahulu mereka seperti HG Wells dan Jules Verne (1828~1905, “bapak fiksi-ilmiah”) telah punya gagasan-gagasan yang visioner tentang masa depan dan kemajuan teknologi. Mari kita bayangkan bahwa bukan hanya material cavorite yang disebutkan di atas yang mungkin ada, tetapi juga mesin waktu H.G. Wells! Mesin waktu memungkinkan kita untuk membangun perpetuum mobile, dengan asumsi proyek kita adalah penciptaan energi dari ketiadaan!

Namun ada perbedaan besar antara “sekadar khayalan” dengan “khayalan yang memiliki pandangan jauh ke depan”; meskipun perbedaan itu seringkali tipis atau bahkan samar.

Tak ada yang menyangkal pada masa kini bagaimana jenius dan visionernya Leonardo da Vinci dengan berbagai gambar mesin dan peralatannya, yang akhirnya baru berhasil diciptakan setelah ratusan tahun kemudian. Tetapi pada zamannya, da Vinci lebih dihormati sebagai seniman besar. Sebagai ahli permesinan? Ia lebih banyak mendapatkan lirikan yang memalukan. Dan contoh yang seperti doi cukup banyak.

“Gagasan gila” seringkali berdampingan dengan “gagasan jenius”, atau bahkan menjadi, meskipun seringkali membutuhkan waktu yang [tak jarang] sangat lama. Ketika kita melakukan sesuatu tanpa harus selalu menuntut hasil akhirnya, melainkan menikmati proses itu sendiri, maka yang seperti itu adalah salah satu bentuk kecintaan.

Memang, apabila dilihat dari yang telah diurai dalam tulisan ini, selama ribuan tahun kisah tentang pencarian gerak-abadi ini telah berlangsung dan – sayangnya – belum ada satu usaha pun yang terbukti berhasil, atau bahkan sekadar mendekati. Pada beberapa bagian, kita hanya sekadar mendengar cerita, tanpa bisa mendapatkan keterangan – apalagi bukti nyata – lebih jauh. Apakah hal seperti ini menunjukkan bahwa perpetuum mobile adalah benar-benar sebuah gagasan yang utopis, sebagaimana yang dituduhkan oleh banyak orang? Sayangnya, kelihatannya kebenaran tuduhan itu sangat mendekati.

Seperti yang juga telah dijelaskan di muka, batu karang besar yang menghambat gagasan gerak-abadi ini adalah Hukum Termodinamika, baik yang kesatu maupun yang kedua. Tapi, kalau kita mau berandai-andai, bahkan Albert Einstein (1879~1955) pun terlebih dahulu harus membongkar batu karang penghalang sebelum ia dapat mengenalkan gagasannya tentang relativitas. Bahkan tak tanggung-tanggung, tiga batu karang raksasa sekaligus! Yaitu yang berkaitan dengan dimensi, konsep matematika (geometri), dan cahaya. Nah, apa yang dapat dilihat dari pengalaman ini? Tak lain bahwa, seperti yang pernah disimpulkan oleh banyak ilmuwan, kebenaran suatu ilmu pengetahuan adalah relatif. Sebuah hipotesis, sebuah teori, sebuah hukum, sebuah rumus, bahkan sebuah aksioma di dalam bidang ilmu pengetahuan mana pun dinyatakan benar selama belum ada bukti lain yang berhasil menyanggahnya. Selama lebih dari 2.000 tahun dengan geometri euklidian orang yakin bahwa jumlah sudut-dalam sebuah segitiga adalah persis tepat 180 derajat (dalam sistim seksagesimal), tak bisa kurang tak bisa lebih. Tetapi ternyata kemudian ada orang yang dapat membuat sebuah segitiga tanpa terikat dengan aturan itu! (Kira-kira, elo bisa nggak ya?)

Masih ada kisah panjang dan lebih menarik lagi tentang perpetuum mobile, tapi untuk sementara kita batasi dulu sampai di sini. Namun elo-elo pade kalau penasaran sendiri akibat tulisan ini (dan itu bagus), dapat elo mulai gali dari internet. Ada banyak sekali referensi yang dapat elo peroleh. Mulai dari Wikipedia, beberapa situs kampus, Youtube, d.ll.


[GBR. 42 a, b, c, d]


[GBR. 43 : Old Puzzler; gettyimages]

Tetapi satu hal yang terpenting yang setidaknya dapat dipetik dari tulisan ini adalah, selain mengenalkan kisah-kisah dan konsep-konsep ilmu pengetahuan dari “sisi yang lain” sehingga dapat merangsang kita semua untuk mencintai ilmu pengetahuan, juga adalah kisah tentang “ke-manusia-an” itu sendiri. Tentang kecerdikan maupun kebodohan manusia, tentang perjuangan, kerja keras, ketekunan, optimisme, dan bahkan fanatisme.

Cherio!

Peramunaskah & terjemahan bebas oleh : sulong a’dzam shuhuf.
Diramu dari berbagai sumber, terutama www.hp-gramatke.net., Ensiklopedi Indonesia (1990), The Oxford Minidictionary (1990), KBBI (2002), KBBI Daring, d.ll.

***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews