Kolom  

Catatan Perjalanan Naik Bus ke Jakarta Gamawan Fauzi

LAMANRIAU.COM, PEKANBARU – Pandemi Covid-19 telah membuat usaha transportasi darat bangkit lagi.

Sebelumnya mereka terpuruk karena maskapai perang harga murah. Sekarang tiket pesawat mahal, bus pun jadi pilihan.

Berikut ini catatan perjalanan naik bus ke Jakarta dari Padang oleh mantan Mendagri Gamawan Fauzi.

***

SEJAK wabah Covid melanda negeri ini lebih dua tahun lalu, persyaratan terbang dengan pesawat semakin ketat. Antigen lah, pcr lah, harus vaksin dua kali , bahkan sampai harus boster. Kondisi ini membuat peminat pengguna jasa penerbangan anjlok.

Kondisi ini dengarln cerdas ditangkap pengusaha jasa transportasi darat. Beberapa perusahaan transportasi darat (mobil) yang sebagian sudah mulai megap-megap, seperti mendapat angin segar.

Tiba tiba bermunculan bus bus baru yang menjanjikan beragam pelayanan. Mulai yang reguler dan standar non AC hingga kelas istimewa dengan Brand macam macam.

Ada yang menyebut eksekutif, sultan, super eksekutif hingga Royal eksekutif dengan tempat duduk nyaman bak di pesawat businisse class, karena bisa bersolonsor meluruskan kaki dengan tempat duduk yang lebar dan jarak yang renggang.

Lebih dari itu, ada bus yang double dek menyediakan kamar-kamar sendiri dengan fasilitas tempat tidur, makanan, buah dan minuman gratis.

Seorang teman yang beberapa kali menggunakan jasa bus Padang Jakarta bercerita kepada saya bahwa dia merasa sangat senang naik bus bolak balik Padang Jakarta.

Dia merasa sangat enjoy. Disamping bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan, juga tidak merasa lelah seperti dulu. Di samping lega dan sejuk, juga bisa rebahan di kursi sambil nonton film di tv yang di sediakan atau dengar lagu sepanjang perjalanan.

Diam diam termakan juga promosi teman tadi oleh saya.

Beberapa waktu kemudian, saya juga mendapatkan promosi yang sama dari teman lain, hingga saya makin tergoda unruk mencobanya.

Belakangan ini perkembangan transportasi bus memang sedang bangkit. Banyak bisnis transportasi yang sepertinya kembali berjaya.

Maka di sepanjang jalan, kini muncul merk bus-bus baru dan bus lama dengan wajah baru yang menarik serta menjanjikan layanan istimewa.

Tuhan Maha adil

Setelah lama terpuruk, kini seperti bangkit kembali. Rupanya memang hidup ini di pergilirkan, seperti firman Allah dalam Alquran.

Dua puluh sembilan Agustus, pukul 09.30 saya tiba di Pool ANS jalan Chatib Soelaiman. Saya sudah mengantongi tiket dengan jadwal keberangkatan jam 10.00 WIB pagi.

Padang masih di siram hujan, sejak sehari sebelumnya. Matahari seperti enggan tersenyum. Ada rasa khawatir karena akan melewati pendakian Sitinjau Lauik yang rawan longsor.

Tak lama saya duduk dengan dua orang sahabat saat SMA dan Kuliah, Fakhril Murad dan Toni Martin yang kebetulan berangkat dengan mobil yang sama, tiba tiba penumpang di persilahkan menaikkan barang barangnya dan sekalian mengisi tempat duduk masing masing.

Setelah pihak manajemen memastikan penumpang lengkap, maka tepat jam 10.05 WIB, mobil bergerak meninggakan kota Padang dengan tenang tanpa pengumuman apa apa.

Saya duduk di barisan terdepan di belakang sopir. Posisi duduk yang lebih tinggi dari sopir membuat pemandangan lepas ke depan, kekiri dan kekanan.

Saya seperti berada di anjungan, di panggung kaca yang sejuk ber AC.

Mobil terus berjalan hingga memasuki kawasan Sitinjau Lauik. Kabut ternyata sudah pergi. Kawasan yang biasanya berteman halimun tampak cerah. Matahari tersenyum dibalik ranting-ranting kayu yang rimbun.

Mobil dengan mulus menyelesaikan rute Sitinjau Lauik tanpa terhalang longsoran.

Di Kota Solok mobil berhenti beberapa menit di terminal Bareh Solok untuk menaikkan penumpang untuk shalat dan makan.

Di Muaro Kelaban mobil berhenti di restoran Palapa. Penumpang turun untuk shalat Ashar dan makan. Tak lama mampir disana, mobil melanjutkan perjalanannya.

Saat magrib datang, mobil kembali berhenti di depan mesjid daerah Sungai Rumbai, meskipun hujan turun dengan derasnya.

Jam 04 pagi mobil kembali berhenti untuk memberi kesempatan penumpang mandi, ganti pakaian dan makan.

Saat waktu subuh datang mobil pun di berhentikan. Semua pemumpang turun untuk shalat, lalu perjaanan di lanjutkan.

Sejak itu mobil tak lagi berhenti hingga sore di Kalianda Lampung, kecuali hanya untuk mengisi bahan bakar di SPBU.

Selama siang hari kedua, praktis penumpang tak ada kesempatan untuk makan siang. Perut terasa sangat lapar. Untung sahabat saya Toni Martin membawa sedikit bekal dan sayapun membawa bebeberapa roti dan air mineral yang di sediakan anak saya sebelum berangkat dari Padang.

Saya dan Toni Martin sudah sangat akrab dengan ke dua orang sopir dan kenek. Sopir senior bernma Buyung, asal Sicincin yang sudah lebih 30 tahun bekerja di PO. ANS.

Dia type pegawai setia, dia bertahan disana disaat perusahaan maju dan sulit. Dia terlihat masih muda dalam usia sekitar 65 tahun. Katanya dia kelahiran 1957.

Sopir junior adalah Beni. Putra Tanah Datar yang terdidik dan cekatan. Dia Pernah kuliah di ISI YOGYA walaupun tak sampai selesai.

Kata pak Buyung, si Deni itu serba bisa. Biasanya pekerjaan merapi-rapikan mobil ini.

Deni tamatan SMSR Padang, sejak itu berbagai pekerjaan dan usaha di cemplungi. Pernah sebagai pelukis, pematung, tukang Las dan terakhir disain interior.

Dalam perjalanan itu, Saya dan Toni lebih banyak duduk di kursi samping sopir.

Pak Buyung type pendiam. Beliau hanya semangat bercerita bila menyangkut kendaraan, pengalaman sebagai sopir dan maju mundurnya usaha transportasi perusahaan saja.

Sementara dengan Deni kami bercerita macam-macam, gado-gado, apo nan takana. Terlihat dia punya banyak keterampilan dan pengetahuan, karena pernah juga bekerja pada salah satu perusahaan rokok.

Diantara para sopir, tidur dan bekerja dilakukan bergantian. Kelihatannya tak ada aturan yang ketat waktunya, tapi lebih kepada saling pengertian dan saling memahami. Bila yang satu tidur, maka yang satu lagi menyetir. Mereka saling menghargai satu sama lain. Tak ada protes bila sopir yang satu lebih lama menyetir mobil dari yang lain.

Pukul 16.30 sore, mobil sudah sampai di pelabuhan Bakaehuni. Menunggu giliran sebentar langsung naik ke kapal. Kami sempat makan sebelum naik ke kapal.

Saya sangat beruntung. Sepanjang jalan makan bersama rombongan sopir. Saya ingin membayarkan mereka, tapi mereka melarangnya, karena setiap rumah makan, sopir di gratiskan. Saya bagian dari mereka, artinya juga gratis .

Udara di kapal sangat bersahabat. Tidak panas dan juga tidak hujan. Angin berkelana sepoi sepoi. Kami duduk di palka paling atas dan bersila bersama para sopir dan teman lain, ngobrol lepas tentang banyak hal.

Saya lebih banyak menikmati pembicaraan teman. Banyak hal yang saya tak tau tentang kehidupan orang-orang yang hidup berpuluh tahun diatas bus. Saya menikmatinya.

Benar kata Einstein. Setiap orang yang saya temukan mereka pasti lebih baik dari saya, minimal dalam satu hal. Dan setiap orang adalah jenius di bidangnya.

Hanya sekitar satu jam lamanya berlayar, kapal telah merapat di pelabuhan Merak. Pluit kapal berbunyi keras sahut bersahut dan kami segera naik ke atas mobil untuk melanjutkan perjalanan.

Tiga puluh enam jam lamanya, mobil yang kami tumpangi sampai di Terminal Pondok Pinang.

Dari pejalanan saya naik bus Padang- Jakarta kali ini, saya semakin meyakini bahwa Allah mempunyai khazanah yang luar biasa banyaknya.

Manusia amat miskin memahami dan mengetahui liku liku kehidupan ummat manusia dengan segala suka duka, sakit senangnya, bahagia dan dukanya dari sekian banyak pekerjaan atau profesi.

Bagaimana kehidupan pelaut, pemulung, pedagag asongan, penunggu mercusuar, nelayan , tukang arit kayu di hutan, penambang, operator alat alat berat, tukang las bawah laut, pekerja minyak laut lepas / off shore, pemain sirkus, pemetik kelapa, tukang gali kubur, pemahat, pelukis, penari,, penyanyi, pemain drama, penulis dan pembaca puisi, olahragawan, dan ribuan profesi lainnya?

Memahami pekerjaan orang lain, menambah rasa tawadhuk, rendah hati dan sikap profesional, bahwa kita hanya tau sedikit dan hanya bisa sedikit dari berjuta sisi kehidupan.

Seorang profesor filsafat yang saya kenal, pernah mengomentari calon sarjana yang akan ujian. Badan sekecil ini mau jadi sarjana ? Kebetulan calon sarjana itu memang berbadan agak kecil.

Dengan confidance calon sarjana itu tegas menjawab. Saya memang kecil, Tapi kalau bertanding memanjat kelapa dengan bapak, saya siap.

Sang profesor kaget dan spontan berkata. Tak usah ikut ujian. Kamu lulus, karena sarjana itu harus percaya diri. Kamu sudah memiliki apa yang menjadi penting menjadi seorang sarjana.

Profesor telah mengajarkan sikap profesional kepada muridnya. Sikap profesional memang akan muncul bila seseorang menyadari bahwa dia tidak memahami semua hal.

Dan dia berkeyakinan bahwa setiap orang yang dijumpai pasti memiliki kelebihan daripada dirinya, minimal dalam satu hal. Karena itu dia menghargai setiap orang, bukan hanya karena kaya atau punya kedudukan tinggi, tapi kepada semua manusia.

Perjalanan saya menaiki bus dari Padang ke Jakarta bulan Agustus, menambah keyakinan saya terhadap banyak hal.

Saya berharap, kemajuan transportasi bus antar wilayah ini, akan menambah pilihan banyak orang untuk berpindah tempat dengan rasa aman, nyaman dan nikmat.

Satu hal yang menurut hemat saya perlu dibenahi selain soal management perusahaan pelayanan dengan segala aspeknya adalah, tempat persinggahan dan jadwal persinggahan yang harus sebaik, sebersih, senyaman bus yang menjual brand eksekutif, super eksekutif, Royal eksekutif atau keas Sultan dan sebagainya, yang menggambarkan sesuatu yang berkelas.

Menikmati perjalanan darat dengan bus yang bagus saja tak cukup. Penumpang ingin semua perjalanan itu memang istimewa.

Tak ada yang sempurna sekaligus, kesempurnaan akan terjadi secara bertahap, asal mau berubah.

Kata prahalad, if you dont change, you will die.

Nasib yang dialami dinosourus yang berbadan besar, tapi lebih dahulu punah dibanding semut yang kecil, mungkin karena sudah merasa hebat karena besar tubuhnya. I am in my position, adalah sikap yang ternyata merugikan diri sendiri.

Jakarta, 29 Agustus 2022

Gamawan Fauzi.

Redaktur: Denni Risman