Pengakuan Korban Selamat Tragedi Stadion Kanjuruhan, Korban Berjatuhan karena Gas Air Mata

pengakuan korban selamat tragedi stadion kanjuruhan
Banyak korban berjatuhan di Stadion Kanjuruhan setelah polisi menembakan gas air mata ke arah tribun penonton (Foto: Screenshot Youtube Arekmalang)

LAMANRIAU.COM, MALANG – Pengakuan korban selamat dalam kerusuhan tragedi Stadion Kanjuruhan, banyak korban berjatuhan setelah polisi menembakan gas air mata ke arah tribun penonton.

Polisi mengungkap 127 orang dinyatakan meninggal dalam tragedi berdarah Stadion Kanjuruhan Malang, usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Septia, salah satu korban selamat, mengaku ia mendapat semprotan gas air mata saat berada di tribun utama. Ia selamat setelah di evakuasi ke lorong tribun VVIP Stadion Kanjuruhan Kepanjen.

“Saat semprotan gas air mata pertama kita itu panik. Mencoba mencari jalan keluar, karena kondisi gelap dan mata perih,” ucap Septia, perempuan berusia 18 tahun ini seperti di lansir, okezone, Minggu, 2 Oktober 2022.

Disebutkan juga, korban banyak berjatuhan di areal tribune paska tembakan gas air mata. Namun tenaga medis sangat sedikit sekali.

Septia beruntung di evakuasi oleh sejumlah penonton, salah satunya wartawan.

“Tadi banyak yang nolong, saya lemas mata perih. Sesak napas, terus kan keluar tadi rebutan,” ucapnya lagi.

Ia beruntung bisa di selamatkan dan tak perlu mendapat bantuan di rumah sakit.

Setelah beristirahat beberapa saat perempuan asal Pasuruan ini bisa melanjutkan perjalanan kendati matanya merah karena terkena semprotan gas air mata.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta menyebutkan korban kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang menyebabkan 127 orang tewas.

“Mereka pergi keluar ke satu titik di pintu keluar, kalau enggak salah itu 10 atau pintu 12. Kemudian terjadi penumpukan, di dalam proses penumpukan itulah terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen, yang oleh tim medis dan tim pergabungan ini di lakukan upaya penolongan yang ada di dalam stadion,” ungkap Nico Afinta saat memberikan keterangannya di Mapolres Malang pada Minggu, 2 Oktober, pagi.

Dari sanalah akhirnya para korban di evakuasi ke rumah sakit terdekat mulai RS Wava Husada, RS Teja Husada, RSUD Kanjuruhan, hingga ada yang di larikan ke rumah sakit di Kota Malang.

“Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang, dua di antaranya anggota Polri. Sebanyak 34 orang meninggal di stadion,” ucapnya lagi.

Korban yang meninggal di rumah sakit mayoritas nyawanya tak tertolong karena sudah dalam kondisi memburuk setelah kerusuhan yang terjadi. Mereka mayoritas menjalani sesak napas dan terjadi penumpukan sehingga terinjak – injak karena panik akibat tembakan gas air mata.

Penulis: Denni Risman
Editor: Denni Risman