Waspada! Nilai Tukar Rupiah Merosot, Harga Minyak Dunia Bakal Melejit

LAMANRIAU.COM, JAKARTA-Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus memburuk. Saat ini, nilai tukar rupiah sudah menembus Rp15.300-an per dolar Amerika Serikat (AS). Jika nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS akan berimbas kepada komoditas-komoditas yang dibeli secara impor salah satunya adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) dan juga Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Sebab selama ini, Indonesia menjadi negara net importir minyak mentah dan juga LPG. Tercatat, impor minyak Indonesia hampir mencapai setengah dari kebutuhan minyak mentah untuk BBM yang diperkirakan tembus 1,4-1,5 jutaan barel per hari.

Sementara untuk LPG, Kementerian ESDM mencatat impor LPG mencapai 76,9% dari kebutuhan LPG di dalam negeri atau tepatnya impor LPG mencapai 8 juta ton dari produksi LPG mencapai 1,9 juta ton.

Komoditas-komoditas yang menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia itu dibeli dengan menggunakan dolar AS.

“Sangat berpengaruh lantaran penetapan harga BBM dan LPG salah satunya adalah kurs rupiah terhadap dolar AS,” ungkap Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi kepada CNBC Indonesia, Rabu (2 Oktober 2022.

Melemanya rupiah terhadap dolar AS akan berdampak pada harga BBM dan LPG di dalam negeri bisa menjadi semakin mahal. Kondisi ini akan menyebabkan subsidi energi akan kembali membengkak.

“Jika harga tidak naik dalam kondisi tersebut, maka subsidi energi kembali membengkak,” ungkap Fahmy.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talatov menilai, harga BBM dan LPG bisa kembali mengalami kenaikan

Abra mencatat, penyebab terjadinya kenaikan harga BBM diantaranya adalah tingginya harga minyak mentah dunia yang diprediksi akan kembali menembus US$ 100 per barel.

“Jadi justru saya pikir ada dua beban terhadap pembentukan harga BBM di dalam negeri, yakni harga minyak mentah atau ICP (Indonesia Crude Price) dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Jadi bebannya ganda,” ungkap Abra sperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Melejitnya harga minyak mentah dunia saat ini ditengarai adanya kesepakatan kelompok produsen minyak mentah dunia yakni OPEC+ yang memutuskan untuk memotong produksi minyak sebanyak 2 juta barel per hari.

“Kalau kondisinya sekarang dengan asumsi pemangkasan minyak mentah, kemudian geopolitik global masih memanas, dan nilai tukar rupiah berpotensi masih terus tertekan. Saya pikir justru yang paling bisa terjadi harga jual BBM justru akan kembali dinaikkan, bukan kita bicara diturunkan,” tandas Abra.***

Editor: Zulfilmani/Penulis: M
Amrin Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *