Puisi-puisi Karya Mohd Adid Ab Rahman, Melaka (Bag.8)

Kota Ini

Kota ini semakin sesak penghuni dan aneka kenderaan lalu lalang
udara bukan lagi kata-kata sopan menyejukkan dada
seperti setiap kali melihat kembang mawar di pelataran pagi
tapi penuh asap jelaga dan abuk-abuk boleh membunuh siapa saja
kecuali sikap saling melangit diri hanya lontarkan maruah ke longkang
terkenal kotor bangkitkan bau seperti fitnah
duduk di sini aku jadi rimas berbaur cemas

Manusia kota ini kebanyakan sepakat
sibuk dan leka memburu mimpi secantik bianglala di langit sore,
sampai tak kenal kawan sendiri, tak peduli batasan
lupa berdoa
pada hal sudah tahu
harta sebanyak mana pun akan musnah
pangkat setinggi mana pun akan punah
sekadar hiburan dan perhiasan kehidupan sementara
tidak menjamin apa-apa kecuali rugi dan sesalan
panjang tak berhujung

Kita yang selalu sedar diasuh wahyu
punya jalur sendiri
mengejar harapan hanyalah untuk bisa hidup
buat memperhamba diri kepada-Nya
dunia adalah sawah maka kitalah petani menanam padi
dengan sungguh-sungguh, amanah dan ikhlas
ketika memetik satu hari nanti
nescaya hasil penuh berisi lagi berkualiti

Melaka 15/10/2022

Mungkin Saja

Mungkin saja aku bermain-main di sudut ujana nuranimu
sepantun laki-laki boleh diharapkan
di tengah terik hari akan segera merapat
lalu kembangkan payung
hindari kulit terbakar mungkin dedar demam
atau serangkap puisi mampu menyulut dadamu
untuk berani hidup di zaman semakin kasar
penuh cabar

Tapi sejatinya aku hanyalah laki-laki
tidak sebaik kaubayangkan kecuali surau sunyi
setiap waktu tertekan kehilangan jemaah
hidup segan mati tak mahu
masih berdiri dan menunggu
orang-orang mengambil wudhuk membersih diri
orang-orang taat sujud menyuci hati
tapi entah bila suasana itu nyata?

Terlintas di benak kau melangkah makin larut
dan melesap seperti asap
lalu mendesak akulupakan sama padamnya pelita
apakah boleh jadi misal kini langitku selalu cerah
ditemani sebutir bintang cemerlang?

Melaka, Jam 1.01 pagi 8/10/2022

Jejak-Jejak Membeku di Jalan Adalah Mutiara

Jejak-jejakmu membeku di jalan kemarin adalah mutiara
Patut sekali kiranya ditiru
buat menyoroti perjalanan ke padang hijau
rimbun kedamaian persis kaunikmati saat ini
dalam iklim cukup pantas bersahabat

Di batas waktu kini aku lelapkan jalur disusuri
di hari-hari terluput
sebab ternyata apa yang kudapatkan batin tertusuk
rusuh dalam kesuraman seperti sungai keruh
di hulu ada hikayat hutan ditebang tebas tanpa batas
lanskap alam semulajadi bertukar perempuan
tercemar dek pergaulan bebas
moga esok jumpa jalan pulang.

Kelak nanti dalam bayangan
hari-hari disengsarakan gerhana segera terperosok ke perut sepi
buat aku benar-benar merayakan kebahagiaan hakiki
dalam jaminan Tuhan

Melaka, 14/10/2022

——————–
Mohd Adid Ab Rahman bermukim di Melaka, Malaysia. Pernah menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Banda Aceh dalam bidang Dakwah dan UTM, Skudai, Johor (Universiti Teknologi Malaysia) Seorang pesara guru KPM (Kementerian Pendidikan Malaysia). Berminat dalam bidang puisi sejak masih belajar di sekolah dan sekarang menjadi ahli Ikatan Persuratan Melayu Melaka. Puisi-puisi pernah muncul di Berita Harian, Utusan Borneo, Harian Ekspres, Mingguan Malaysia, majalah Dewan Sastera, Tamadun Islam, Wanita dan lain-lain. Majalah online seperti LamanRiau.com, PotretOnline com, Kosana.my.id., sksp-literary.com, Sabah360 online, Suarakrajan online dan Riausastra.com. Sudah mempunyai puluhan antologi bersama di antaranya Antologi C Antagonis (ASWARA 2020) Bahtera Merdeka (Tinta Karya 2020) Pasrah (PTK 2020) Citra Yang Tak Padam (Narangkai Publications 2021) Sejernih Embun (KS 2021), Menjunjung Langit (Pena Padu 2022) Tangisan Tengkujuh (Pena Padu 2022). *

Baca : Puisi-puisi Karya Mohd Adid Ab Rahman, Melaka (Bag.7)

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]