Puisi Karya Amanda Amalia Putri

Ilustrasi

Alarm Wajah Kusut

Sebelum gelap
Sebelum hilang hayat
Sebelum menyerah
Sebelum semua terlambat
Seperti alarm yang terdengar pelan

Peringatan diatur tinggi
Menerabas kerucut oranye di tengah-tengah jalan
Makin dicari, makin depresi
Catatan harian habis dipakai langsung dibuang
Memilih keluar dari peraduan daripada harus memelihara kezaliman

Ketapang, 07 April 2026

Sebelum Dijemput Gulita

Sapu lidi menyapu sudut-sudut rumah
Meski terlihat rapuh, saling berdiri sendiri
Setiap pagi harus mencerna debu, mengangkut hewan-hewan kecil
Kemudian berakhir di tempat pembuangan sampah

Di kaca jendela, pada pandangan pertama adalah mengabaikan rasa sakit
Jarum dalam tumpukan jerami kering membenamkan rasa penasaran
Denyut musik mengirimkan sinyal suara sebelum dijemput gulita
Begitu ragu mencampurkan titik didih ke dalam purifikasi

Ketapang, 07 April 2026

Satu Kali Klik

Sebuah kertas dilipat dari bagian tengah membentuk noktah semerdanta
Keberadaan gambar pada harian cetak akan selalu ditemui di sela-sela jari
Nama yang tertera pada tabel satu arah berhasil mengembalikan
akun yang terhapus permanen
Menghadirkan tulisan yang kurang baik untuk dibaca
Enggan berkomentar dalam blog pribadi
Memaksakan sebuah topik agar tetap berjalan sesuai rencana
Terlambat menyadari bahwa keamanan data sedang terancam
Proteksi tambahan menutup riwayat penelusuran histori

Ketapang, 04 April 2026

———————–
Amanda Amalia Putri, lahir di Banyuwangi, 28 Februari 2004. Mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Puisi-puisinya termuat di Banera.id, Bantenhejo.com, biliksastra, darus.id, KBA News, Madurapers, Mbludus.com, MediaKTM, NOLESA.COM, Riausastra.com, Sanggam.id, Salik.id, pronesiata.id, SumenepNews.com, dan sepenuhnya.com. Beberapa puisinya termuat dalam buku antologi bersama antara lain: Pengembara Rindu (2020), Senandung Bait Cinta Pertama (2023), Gugur Cinta ke Pelukan Rindu (2023), Rahasia Hati Yang Tak Pernah Terucap (2023), Simpul Rasa (2023), dan Aku di Garis Penantian (2024), Jejak Masa Lalu (2025), dan Luka yang tak Bersuara (2025). *

Baca : Puisi-Puisi Karya Kang Thohir

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews