Dunia dalam Genggaman Mata
Ketika menutup mata, dunia seakan menjadi buta
Ketika membuka mata, dunia seakan menjadi hebat
Sepasang lensa menerjemahkan kata demi kata melalui kamus jendela jiwa
Penanda wacana siap mengarahkan percakapan tanpa mengubah makna
Sekurang-kurangnya ada sedikit tambahan dalam memenuhi standar inti kalimat
Ketapang, 24 Oktober 2025
Gema Kenangan
Setiap bertemu selalu berbuat mengalah
Demi menjaga keharmonisan agar tetap sehat seperti bayi yang baru lahir ke dunia
Setiap pergantian tahun, mengapa harus repot-repot mengganti mode tampilan transisi slide
Jika terus-terusan begini aku sendiri yang kewalahan, mengapa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya
Hubungan kita memang sudah terlewatkan
Tapi ketahuilah, kenangan dan perasaan itu tidak pernah benar-benar pergi dari ruang gawat darurat
Dimanakah cahaya terang yang akan menuntun kita pergi ke surga
Genggam erat tanganku, kita bersama-sama membangun mimpi yang indah
Walau debu batu bara mengotori tubuh kita yang membeku seperti es
Ketapang, 27 Oktober 2025
Suara yang Diredam
Pengakuan sementara hanya memberikan efek tebal pada proses pengetikan
Membantah alasan yang bertentangan dengan argumentasi logis
Teori-teori lama membuktikan isu-isu miring yang disebarkan oleh berbagai faksi
Menonaktifkan komentar dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga
Hasil temuan baru disembunyikan dalam brangkas mini
Di tengah konflik, sengaja memprovokasi amarah
Mencampuradukkan kesaksian palsu dengan kebatilan
Ketapang, 21 Oktober 2025
——————————
Amanda Amalia Putri, lahir di Banyuwangi, 28 Februari 2004. Mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Puisi-puisinya termuat di Banera.id, Bantenhejo.com, biliksastra, darus.id, KBA News, Madurapers, Mbludus.com, MediaKTM, NOLESA.COM, Riausastra.com, Sanggam.id, Salik.id, pronesiata.id, SumenepNews.com, dan sepenuhnya.com. Beberapa puisinya termuat dalam buku antologi bersama antara lain: Pengembara Rindu (2020), Senandung Bait Cinta Pertama (2023), Gugur Cinta ke Pelukan Rindu (2023), Rahasia Hati Yang Tak Pernah Terucap (2023), Simpul Rasa (2023), dan Aku di Garis Penantian (2024), Jejak Masa lalu (2025), dan Luka yang tak Bersuara (2025). *
Baca : Puisi Karya Sastrawan Musa Ismail






