Puisi-Puisi Karya Muhammad Febriansyah

Kembang Alam

Kau pun tumbuh sebagai kembang yang disirami Jibril
yang tak habis-habisnya menguarkan wangi pada kemarau
dan menghempaskan nyala majusi di taman bunga
seperti pucuk lilin yang menggigil di musim dingin

Engkau pun melihat Jibril
Yang menitahkan sayapnya pada malam hari
ketika kami tertidur. Pada riak angin yang mengindap-indap
di tangkaimu dan berkata:—masehi telah gugur

Ada mayat perempuan terbangun dari gurun mencari ayahnya
Ada menara-menara mencair dari kisra meracuni rajanya
Sekumpul gajah menelan batu di sekitar kabah dan berlutut pada petuah
Sekumpul batu tertelan kabah di sekitar gajah dan bertaubat pada sejarah

Jibril mulai meresap di antara kelopak-kelopakmu yang harum
—Memetikmu menuju rahasia Nur ala nur
Kemudian tak lama kau pulang, kami pun terbangun
Dan seketika seluruh awan adalah kembang tubuhmu yang ranum

Cirebon, 2026

Binti Khuwalid

Ketika darah telah menjadi legam
Ia pun mengutuk dirinya menjadi doa-doa

Yang tak suntuk semalaman
Doa-doa yang terus menggantung di batin Gua

Antara jabal nur dan lembah waktu yang kesepian
Doa-doa yang terus benderang

Sebagai hidangan yang dijarang keimanan
seorang perempuan

Cirebon, 2026

Pemusnahan Darwis

Di ruang penuh kehampaan
Tubuhku yang telanjang sudah dirasuki alunan seruling dan gendang

Tubuhku mulai diputar-putar bagai pusaran lautan
Dan kulihat sekumpul rindu berdatangan dari bulu-buluku

Membakar kedua mataku dengan cinta yang mereka janjikan
Di ruang penuh kehampaan. Di nelangsanya hatiku

Kulihat manusia-manusia hampir padam
di bawah cahaya lampu. Namun sekumpul rindu

satu-persatu menyerap di pori-poriku dan berseru
“Kaulah cahaya itu!”

Tubuhku semakin berputar tanpa menciptakan bayang-bayang
Tubuhku melambung di angkasa kesadaran

Tubuhku semakin menghilang
Tubuhku diunggis alunan seruling dan gendang

Cirebon, 2026

 

Sajak Sufistik

Ketika malam mulai payau di pangkuan-Mu
Mataku menjadi sepi seperti azali
Yang gelisah ingin menyingkap jejak-jejak-Mu
Yang kautenun di balik jubah para nabi

Cirebon, 2026
Takhdzim

Tidak, Kiai. Bau kecutmu bukanlah berasal dari kami
Bau kecutmu yang kauberi pada napas padi-padi
Adalah bau tubuhmu sendiri:
Tubuhmu yang semakin telanjang
Semakin mengkilap. dipertontonkan pada kami

Tidak, Kiai. Semakin telanjang dan mengkilap tubuhmu
bukanlah mula-mula dari kami
Kaulah yang membuat sorban dan kemejamu
terhempas jauh di lembah kering
Kaulah yang membuat sarungmu berkibar
di atas tebing dan ranting-ranting

Bukan, Kiai. Bukanlah kami penanam padi ketika maghrib
Bersumpah ingin memberkatinya sampai mati
Bukan, Kiai. Bukan pula kami yang melucutimu hingga hina seperti ini

———————-
M. Febriansyah, lahir pada 28 Februari 2004 di kota Cirebon Provinsi Jawa Barat. Ia seorang mahasiswa Fakultas Agama Islam Prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Universitas Muhammadiyah Cirebon. Dan juga santri di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Beberapa puisinya sudah ada yang terpilih dan dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi Nasional dan tersebar di media sastra online Indonesia. *

Baca: Puisi-Puisi Sulong A’dzam Shuhuf

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews