Sunset Romantis
(Le Coucher du Soleil Romantique)
Alangkah indah matahari demi terbitnya
Bagai ledakan yang melemparkan pagi
Berbahagialah sesiapa yang dengan cinta
Menyongsong matahari agung penuh mimpi
Aku ingat!…Telah kulihat semuanya, perigi, serokan, dan bunga
Terkapar di bawah matanya bagai hati yang berdebar
Larilah ke cakrawala, sudah terlambat, larilah cepat
Buat menangkap, setidaknya, segaris sinar, meskipun miring
Tetapi aku memburu dalam sia-sia, Tuhan yang tenggelam
Malam yang tak terhindarkan membangun singgasananya
Gelap, lembab, naas, dan penuh gigil
Bau makam berenang dalam kegelapan
Dan kakiku berkerut enggan, di sepanjang rawa
Ada siput dingin dan katak yang tak terduga
Mayat Riang
(Le mort joyeux)
Di tanah gembur penuh siput
Ingin kugali makam yang dalam,
Tempat leluasaku bersantai bentangkan tulang tuaku
Dan lelap lena bagai hiu dihanyut gelombang.
Aku tak suka surat wasiat, aku benci batu nisan ;
Daripada mengemis setetes air mata dari dunia,
Lebih sukaku mengajak gagak mengoyak badan
Hingga berdarah sekujur ini tubuh bangkai nista
O Cacing-cacing ! sahabat hitam sonder mata sonder telinga,
Lihat telah datang kepadamu mayat lepas dan bahagia ;
Filsuf bohemian, anak kandung kebusukan,
Pada kebinasaanku, menjelajahlah tanpa sesalan,
Dan sampaikan padaku misal tersisa dera siksa
Bagi Si Renta hilang jiwa, mayat di antara mayat !
Kesesuaian
(Correspondances)
Alam ialah kuil tempat tetiang tegak tumbuh
Kadangkala bisikkan suara pada rancunya kata-kata ;
Manusia melintasinya lewat belantara simbol dan tanda
Yang mengintai Ia dengan mata penuh teduh.
Laksana gema gemuruh dari jauh
Dalam keintiman utuh dan hilang terang,
Seluas gelap malam dan cemerlang siang,
Aroma, warna, dan suara berpaut-sentuh.
Ada sejuk merebak seperti pipi bayi,
Lembut bak obo, hijau bak padang rumput,
Dan lainnya, bejat, kaya, dan berseri,
Sanggup menghambur ke yang abadi,
Bagai kesturi, ambar dan dupa,
Meditasi
(Meditation)
Tenanglah engkau dan bijaklah lebih, O Ratapanku.
Kau mengharap malam ; lantas lingsir ia :
Hawa muram menyelimuti kota,
Menebar damai pada beberapa, gelisah bagi sisanya.
Ketika kaum fana dipecut
Kesenangan — pendera tanpa nurani —
Memungut sesalan dalam pesta budak,
Ratapanku, ulurkan tanganmu, turutlah jalan ini
Jauh dari mereka. Lihat tahun-tahun putus nyawa di usang gaun
Bersandar pada beranda surga;
Senyum sesal memancar dari dasar air
Matahari sekarat terlelap di bawah lengkungan, dan
Dengarkan, kekasih, sayup langkah kaki sang malam
Yang menapak ke timur ibarat kain kafan
——————————
Charles Pierre Baudelaire adalah seorang penyair Prancis, pengkritik dan penerjemah berpengaruh pada abad kesembilan belas. Baudelaire lahir tahun 1821. Ayahnya, seorang pegawai negeri dan seniman amatir, meninggal ketika Baudelaire masih kecil tahun 1827. *
Baca: Puisi-Puisi Karya Sultan Musa






