Puisi-Puisi Sulong A’dzam Shuhuf

mengalirlah mengalir, air
mengalirlah arusmu dalam deras darahku
agar sentiasa kau hidup sentosa
sebab darahku masih pun mengandung
……….butir darah merah-putih, hemoglobin, dan ….

mengalirlah mengalir, angin
mengalirlah desaumu dalam deru darahku
agar sentiasa kau hidup sentosa
sebab darahku masih pun berunsurkan
………..oksigen dan nitrogen dan karbondioksida dan ….

mengalirlah mengalir, api
mengalirlah kobarmu dalam panas darahku
agar sentiasa kau hidup sentosa
sebab darahku masih pun merah membara
………..semerah bara panas barahmu dan ….

mengalirlah mengalir, awan
mengalirlah sejukmu dalam hujan darahku
agar sentiasa kau hidup sentosa
sebab darahku masih pun mengundang
………..titik embun dan uap air dan ….

mengalirlah mengalir, tanah
mengalirlah adammu dalam selikat darahku
agar sentiasa kau hidup sentosa
sebab darahku masih pun menggunung
………..lumpur lanau gambut liat kapur dan ….

ADUH,
MENGALIRLAH …
ADUHAI.

Payungsekaki, 02||26

Hari Ini Kita Kebanjiran

atawa gurindam sebak

Hari ini kita kebanjiran
ketika kabut hujan berjatuhan
sementara tak ada rimba menyangga
sungai meluap, menyeret segala
menggenang pengap, hilang rona.

Hari ini kita kebanjiran
ketika kata kata berloncatan
sementara tak ada makna menyangga
dada meruap, menyeret siapa
mengenang senyap, hilang rasa.

Hari ini kita kebanjiran
ketika janji janji bertaburan
sementara tak ada apa menyangga
hati menguap, menyeret mana
mengerang kerap, hilang rana.

Hari ini kita kebanjiran
ketika duka duka berserakan
sementara tak ada asa menyangga
luka mengendap, menyeret mengapa
menggelang bengap, hilang rupa.

Hari ini kita kebanjiran
ketika hujan kata janji duka berbauran
sementara tak ada rimba makna apa asa menyangga
meluap segala
meruap siapa
menguap mana
mengendap mengapa.

Hari ini kita kebanjiran
tapi hilang segala.

Manado, 92|26.

Puaka Payungsekaki

petang ini aku melata di setiap lekuk tubuhmu
mengembara dalam aliran darahmu
ke jantung ke hati, ke limpa ke paru
ke usus ke lambung, ke ginjal ke empedu
ke laci-laci benakmu
mencari rahimmu, mencari asal-usulku.

aku terlahir dalam rahim sucimu
lalu puaka payungsekaki pun mengasuhku
dalam tinggi lembaga adat melayu.

aku memang pernah jauh darimu
berkelana dari istanbul sampai cordoba
bertemu thales hingga aristoteles
menyapa al-khawarizmi hingga ibnu khaldun
mengenal da vinci hingga hawking
berkelindan dalam minda dunia.

sekarang aku pulang padamu, kekasihku
rindu pada puaka payungsekakiku.

tetapi, di manakah masih rahimmu?

Payungsekaki, Agustus 2021.

—————————–
Sulong A’dzam Shuhuf adalah namapena. Menulis cerpen, novel, esai, dll yang – dengan menggunakan nama asli atau namapena lainnya – antara lain pernah dipublikasikan di Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kiblat, Riau Pos, Batam Pos, dll. Buku yang sudah diterbitkan al: Nubuat (novel, meraih Penghargaan Utama GANTI AWARD IV 2008), Benang Merah Keajaiban (novel), Menuju Metropolis (planologi), Risalah Jebat (kitab puisi, meraih Buku Pilihan ANUGERAH SAGANG 2017), dan sejumlah cerpen/puisi/esai yang termuat dalam beberapa buku antologi bersama. Naskah novelnya yang terbaru, Sophie: selikat haroem getah melajoe berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu novel terpilih dalam UNNES International Novel Writing Constest 2017, yang diikuti oleh 299 naskah novel dari seluruh dunia Sejumlah naskah novel (termasuk novel u/ remaja), antologi cerpen, dan humor dalam upaya penerbitan. Surel: [email protected]. Terakhir menerbitkan novel berjudul Matinya Toean Presiden, akhir 2024 lalu. *

Baca: Puisi-Puisi Karya Sholihul Mubarok

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews