Puisi Terjemahan Charles Baudelaire Prancis

Ilustrasi

Sunset Romantis
(Le Coucher du Soleil Romantique)

Alangkah indah matahari demi terbitnya

Bagai ledakan yang melemparkan pagi

Berbahagialah sesiapa yang dengan cinta

Menyongsong matahari agung penuh mimpi

Aku ingat!…Telah kulihat semuanya, perigi, serokan, dan bunga

Terkapar di bawah matanya bagai hati yang berdebar

Larilah ke cakrawala, sudah terlambat, larilah cepat

Buat menangkap, setidaknya, segaris sinar, meskipun miring

Tetapi aku memburu dalam sia-sia, Tuhan yang tenggelam

Malam yang tak terhindarkan membangun singgasananya

Gelap, lembab, naas, dan penuh gigil

Bau makam berenang dalam kegelapan

Dan kakiku berkerut enggan, di sepanjang rawa

Ada siput dingin dan katak yang tak terduga

Mayat Riang
(Le mort joyeux)

Di tanah gembur penuh siput

Ingin kugali makam yang dalam,

Tempat leluasaku bersantai bentangkan tulang tuaku

Dan lelap lena bagai hiu dihanyut gelombang.

Aku tak suka surat wasiat, aku benci batu nisan ;

Daripada mengemis setetes air mata dari dunia,

Lebih sukaku mengajak gagak mengoyak badan

Hingga berdarah sekujur ini tubuh bangkai nista

O Cacing-cacing ! sahabat hitam sonder mata sonder telinga,

Lihat telah datang kepadamu mayat lepas dan bahagia ;

Filsuf bohemian, anak kandung kebusukan,

Pada kebinasaanku, menjelajahlah tanpa sesalan,

Dan sampaikan padaku misal tersisa dera siksa

Bagi Si Renta hilang jiwa, mayat di antara mayat !

Kesesuaian
(Correspondances)

Alam ialah kuil tempat tetiang tegak tumbuh

Kadangkala bisikkan suara pada rancunya kata-kata ;

Manusia melintasinya lewat belantara simbol dan tanda

Yang mengintai Ia dengan mata penuh teduh.

Laksana gema gemuruh dari jauh

Dalam keintiman utuh dan hilang terang,

Seluas gelap malam dan cemerlang siang,

Aroma, warna, dan suara berpaut-sentuh.

Ada sejuk merebak seperti pipi bayi,

Lembut bak obo, hijau bak padang rumput,

Dan lainnya, bejat, kaya, dan berseri,

Sanggup menghambur ke yang abadi,

Bagai kesturi, ambar dan dupa,

Meditasi
(Meditation)

Tenanglah engkau dan bijaklah lebih, O Ratapanku.

Kau mengharap malam ; lantas lingsir ia :

Hawa muram menyelimuti kota,

Menebar damai pada beberapa, gelisah bagi sisanya.

Ketika kaum fana dipecut

Kesenangan — pendera tanpa nurani —

Memungut sesalan dalam pesta budak,

Ratapanku, ulurkan tanganmu, turutlah jalan ini

Jauh dari mereka. Lihat tahun-tahun putus nyawa di usang gaun

Bersandar pada beranda surga;

Senyum sesal memancar dari dasar air

Matahari sekarat terlelap di bawah lengkungan, dan

Dengarkan, kekasih, sayup langkah kaki sang malam

Yang menapak ke timur ibarat kain kafan

——————————
Charles Pierre Baudelaire adalah seorang penyair Prancis, pengkritik dan penerjemah berpengaruh pada abad kesembilan belas. Baudelaire lahir tahun 1821. Ayahnya, seorang pegawai negeri dan seniman amatir, meninggal ketika Baudelaire masih kecil tahun 1827. *

Baca: Puisi-Puisi Karya Sultan Musa

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews