Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany
HARI sudah sore. Jam kantor sudah berakhir. Sebelum pulang, teringat aku akan janji bertemu dengan salah seorang penulis, sekaligus petinggi di kampus Melayu di kota kecil Bengkalis ini. Dia adalah seseorang yang sejak tahun 2017 lalu telah mendedikasikan dirinya pada kampus itu, menjadi salah seorang tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Aama Islam Negeri (STAIN) yang kini berganti nama menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Datuk Laksemana Bengkalis.
Tanpa pikir panjang, setelah apel sore – kendaraan roda dua milikku yang kuparkir di halaman parkir kantor segera kunyalakan. Dari tempatku bekerja itu, kendaraanku kemudian kukendarai dan kukebut, langsung mengarah ke kampusnya yang terletak di Jl. Lembaga, Senggoro.
Di kampus negeri yang sebelum ini bernama STAIN itu, aku hendak bertemu dan menghadap dengannya. Beliau adalah Dr. Imam Ghozali, SH., M.Pd.I. Saat ini, pria yang kupanggil Pak Kiyai itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam. Sebelum ini, bahkan semasa kampusnya masih bernama STAIN, beliau tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.
Sebagai sesama penulis, meski selama ini diakui jika kami sangat jarang dan bahkan belum pernah saling bertatap muka dan bertemu mesra, saling berinteraksi dan berbicara panjang lebar bersamanya, namun ketika petang itu kami disatukan dalam sebuah pertemuan yang sederhana, seolah-seolah kami bagai sepasang sahabat, dua saudara yang lama terpisah tak berjumpa. Pertemuan dengannya menjelang senja itu bagiku demikian berarti, demikian hangat,- membuat aku tak merasakan lagi pada sejuk ruanggannya yang dingin dan ber-AC.
Dalam pertemuan dan perbincanganku bersama Pak Kiyai Imam Ghozali, atau lebih akrab kupanggil saja ia dengan panggilan Kang Yai,- aku merasa ada semacam aura positif yang menjalar ke dalam relung hati dan sanubari jiwaku. Betapa tidak, pertemuanku dengannya bagai sebuah nutrisi baru bagiku, menjadi tambahan energi dan semangat yang baru pula dalam menulis dan menghasilkan karya. Maklum saja-lah, penulis sepertiku ini manusia juga, memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, yang kadangkala turut mengalami masa-masa jenuh, juga pasang surut dalam menulis dan menghasilkan karya.
Setelah pertemuan itu usai, aku merasakan betul jika semangat menulis kian bertambah dalam diriku, terlebih lagi saat ku mendapat tahu jika beliau telah banyak menerbitka buku. Paling tidak sudah tercatat sekitar 20-an buku telah ia terbitkan selama ini. Di kalangan para dosen maupun penulis di kampusnya, ia merupakan sosok yang tergolong aktif dan sangat produktif dalam menulis, baik itu berupa artikel, opini, esai mau tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Rasanya, sangat beruntung dan bertuah sekali seluruh warga kampus yang memiliki seorang dosen seperti dirinya.
Berbagai tulisannya, selain selama ini terbit dan dimuat di website pribadi maupun kampusnya, juga terbit di berbagai media massa dan online lainnya, termasuk pula pada jurnal-jurnal ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tulisannya pun menyasar pada ragam topik dan tema, mulai dari tulisan yang ringan dan renyah dibaca hingga kepada tulisan-tulisan yang memerlukan pengetahuan tambahan serta sandingan referensi lain secukupnya.
Melihat dari kuantitas maupun kualitas tulisan yang dihasilkan, dijalani serta ditekuninya selama ini, aku meyakini bahwa beliau adalah seseorang yang memiliki gagasan maupun buah pikir yang besar dalam melahirkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kampus tempatnya mengabdi. Hal ini terpancar dari perbualan-perbuanku dengannya, betapa ia mendambakan agar kelak iklim menulis juga tumbuh dan berkembang dengan baik di kalangan para dosen, bahkan mahasiswa-mahasiswanya – sebagai generasi yang akan meneruskan estafet pembangunan, khususnya di bidang ilmu pengetahuan, sains dan budaya sebagaimana semangat kampus Melayu yang selama ini dicetus dan digaung-gaungkan.
“Termasuk juga kedepannya nanti, bagaimana kita sesama penulis ini dapat berkolaborasi, bekerjasama dalam menulis dan menerbitkan buku,” kata Imam Ghozali kepadaku di sela-sela pertemuan dan perbincangan kami itu.
Atas gagasan dan tawaran tulusnya itu, aku menyambutnya dengan penuh optimis dan segala bahagia. Di hati kecilku sempat berkata, bahwa melalui cara seperti itu sungguh ia ingin menjadi salah seorang ‘penghasut’ yang baik dan bijak, memotivasi siapapun juga untuk menulis, terutama dari kalangan teman-teman dosen, para akademisi dan pegiat literasi lainnya di Bengkalis. Jika rencana itu berhasil dan berjalan sebagaimana diharapkan, maka sudah tentu akan lahir banyak karya (tulisan dan buku) dari tangan para penulis di daerah yang berjuluk Negeri Junjungan ini.
“Insyaallah, Pak Yai! Jika rencana ini disambut baik oleh mereka, terutama teman-teman dosen kita, maka sudah pasti setiap tahun akan ada buku yang diterbitkan dari kampus ini,” kataku menimpali seraya berandai-andai – jika saja ada lima atau tujuh dosen berkolaborasi bersama, dan masing-masing menyumbangkan dua hingga tiga buah tulisan saja, maka sudah pasti tulisan-tulisan mereka itu akan menjadi sebuah buku yang tebal dan tentu menarik untuk dibaca.
“Tapi yang paling penting itu menjaga api semangat menulis. Kita yang sering menulis ini saja kadang malas menulis,. Ada masanya lagi mood, ada masanya tidak,- apalagi mereka yang belum terbiasa menulis, tentu sangat berat,” kataku. Kulihat ia tak kuasa menahan senyumnya yang khas mendengar kata-kataku. Lalu kami melanjutkan diskusi lagi, mencari solusi dan format yang sesuai bagaimana para dosen secara perlahan dapat menghasilkan karya tulis dan membukukannya.
Kembali kepada aspek pentingnya menulis, serta manfaat besar yang didapat dari menulis itu bagi para dosen.
Bagi kalangan dosen, menulis pada hakikatnya merupakan sebuah kewajiban serta kebutuhan akademik yang tak terpisahkan dari tugas pokoknya, yakni mengajar. Melalui aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, tentu akan memberikan manfaat besar, menjadi pilar utama dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan, membangun reputasi, serta memenuhi syarat pengembangan karir dan jabatan fungsional.
Berdasarkan sejumlah sumber bacaan, dalam dunia akademik – menulis memiliki beberapa peran fundamental, antara lain: 1) Kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi: Menulis hasil penelitian dan pengabdian masyarakat ke dalam jurnal ilmiah atau laporan adalah bentuk pertanggungjawaban publik dan pelaksanaan tugas dosen. 2) Syarat Pengembangan Karir: Publikasi karya ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi merupakan syarat mutlak untuk kenaikan pangkat dan jabatan akademik. 3) Transformasi Ilmu Pengetahuan: Menulis buku ajar atau artikel merupakan media efektif untuk mentransfer ilmu kepada mahasiswa dan masyarakat luas.
Selanjutnya yang ke, 4) Penguat Tradisi Akademik: Menulis menjaga budaya literasi, mempertajam analisis, dan mendokumentasikan gagasan intelektual agar tidak lekang oleh waktu. Terakhir, 5) Peningkatan Kredibilitas: Dosen yang aktif menulis akan lebih dikenal luas, diakui kepakarannya di bidang tertentu, dan karyanya dapat menjadi rujukan bagi akademisi lain.
Khusus bagi kampus Melayu, IAIN Datuk Laksamana Bengkalis, dosen-dosen yang gemar dan aktif menulis akan mendapatkan banyak keuntungan dan manfaat. Selain ia akan dikenal karena karya-karyanya, dengan menulis juga akan membuatnya semakin matang dan dewasa dalam berpikir, menjadi sarana yang sesuai dalam pengembangan ilmu di lingkungan akademik, serta menjadi bagian penting dalam menjaga budaya dan tradisi menulis (tradisi Melayu) yang telah berabad-abad lalu dicontohkan dan diwarisi.
Perbincangan demi perbincangan diantara kami pada petang menjelang senja yang bertuah itu terus mengalir – sehingga pada akhirnya datang-lah seorang dosen bernama Dr Maarif, S.Th.I, M.Hum yang juga turut bergabung dan berdiskusi bersama kami. Selain seorang tenaga pengajar di kampus Melayu itu, ia juga rupanya ‘orang kanan’ Pak Kiyai Imam Ghozali. Beliau adalah Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan yang setiap waktu turut pula membantu atasannya itu dalam memajukan kampus secara umum maupun Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam secara khusus.
Tak hanya membahas mengenai atsmosfer dunia kepenulisan di Bengkalis, khususnya di kalangan akademisi maupun penulis lainnya, perbincangan kami juga mengarah kepada hal-hal di luar nalar manusia pada umumnya. Kami juga turut membicarakan aspek bathiniyah dan ruhaniyah terkait keberadaan kami yang hari ini dapat berkumpul dan duduk bersama dalam sebuah forum, baik itu melalui forum-forum resmi maupun tidak resmi,- seperti yang terjadi petang itu. Apalagi salah satu diantara kami tiba-tiba nyelutuk – jika pertemuan hari itu bisa jadi tak terlepas oleh doa para orang tua kami, bahkan doa datuk-datuk kami yang pada masa lalu mereka pernah bersama dalam suatu moment dan pertemuan.
Kami tertawa lepas seolah-olah tanpa beban sedikit-pun di wajah kami. Namun, terlepas benar atau tidaknya anggapan tersebut, kata-kata yang terlontar itu terasa sangat menyentuh dan penuh makna pada diri kami. Kami yakin, bahwa pertemuan-pertemuan kami (baca: pertemuan-pertemuan kita) yang terjadi hari ini, kapan dan dimana-pun itu sesungguhnya menjadi buah dari untaian doa-doa, restu dan bahkan harapan yang mungkin pernah dipanjatkan oleh orang tua kita sejak dulu. Ia menjadi sambungan hati yang kuat, menjadi perekat yang menghubungkan setiap hati diantara kita untuk selalu bersama, terutama dalam menggapai kebaikan dan kemaslahatan, juga keberkahan diri kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di muka bumi ini.
Kita harus ingat, bahwa setiap langkah dan takdir yang mempertemukan kita di dunia ini, merupakan bentuk kasih sayang Tuhan yang tidak lepas dari rida mereka – para orang-orang tua kita dahulu. Semoga saja pertemuanku dengan Kang Yai Imam Ghozali membawa kebaikan dan keberkahan tersendiri buatku, juga buatnya sepanjang masa, di sepanjang kehidupan kami yang selalu berubah-ubah dan singkat ini. Amin ya rabbal ‘alamin.
Akhirnya, pertemuanku dengan Kang Yai ini berakhir dengan sesuatu yang manis. Selain pertemuan tersebut menjadi nutrisi yang berharga serta tambahan energi bagiku dalam menulis – sebuah buku berjudul Turakat dan Tarikat Gus Dur,- karya teranyarnya yang diterbitkan tahun 2025 lalu itu menjadi hadiah istimewa untukku. Buku yang menghimpun sebanyak 25 tulisan dan sepenuhnya belum habis kubaca ini, sebagian besar difokuskannya pada berbagai pembahasan atau persoalan yang hari ini sering muncul melalui sudut pandang ajaran Islam. Berbagai tema yang diangkat, selain dijelaskannya secara gamblang, juga tak jarang ia menghadirkan sejumlah potongan ayat-ayat al-Quran maupun kandungan Hadits Nabi sebagai teks serta dalil dalam menjawab persoalan sesuai tema yang dibahas dan dikemukakannya.
Selamat dan tahniah Kang Yai. Tetaplah menjadi suluh dan pelita lewat tulisan dan karya-karyamu yang indah, yang ‘kan selalu menyapa pembaca kapan-pun dan di mana-pun itu,- di waktu serta ruang yang tak terkira dan terjangkau oleh setiap panca indra. Semoga. Wallahu a’lam. ***
Di Bawah Kolong Langit, Bengkalis 4 Juni 2026
*) Marzuli Ridwan Al-bantany adalah sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Diantara buku esai yang pernah diterbitkannya berjudul Menuju Puncak Keindahan Akal Budi (Aden Jaya, 2019), Setitik Embun Pagi (Aden Jaya, 2020), dan Sabda Pujangga dari Negeri Junjungan (Dotplus Publisher, 2020). Saat ini sebuah buku kumpulan esai beliau berjudul Lembaran Pesan Sunyi sedang proses terbit.






