Perpustakaan Soeman Hasibuan, Cerpen Pertama di Riau Pos, dan Lampu Merah

Perpustakaan Daerah Riau Soeman HS. (Foto hasil bidikan Khairul Azzam El Maliky)

Oleh: Khairul Azzam El Maliky

Kesan Pertama di Perpustakaan Soeman Hasibuan

ADA pertemuan yang terukur dalam hitungan jam dan menit, namun jejak yang ditinggalkannya terpatri seumur hidup. Begitulah kesan yang membekas kuat dalam pengalaman penulis saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Perpustakaan Daerah Provinsi Riau yang bernama Soeman Hasibuan. Baginya, bangunan ini bukan sekadar tempat penyimpanan lembaran kertas bertinta, melainkan sebuah monumen kemegahan dan kebanggaan masyarakat Riau yang seolah berdiri tegak berkata: “Lihatlah, betapa kami menghormati ilmu dan pengetahuan.” Sejak pandangan mata pertama jatuh pada bentuk bangunannya yang unik dan penuh makna, ia sadar bahwa dirinya sedang berada di tempat yang istimewa, sebuah ruang di mana sejarah, seni, dan pengetahuan saling berangkulan dengan harmonis.

Arsitektur perpustakaan ini sungguh memikat hati, menyatukan corak tradisional Melayu yang anggun dengan sentuhan desain modern yang kokoh. Dinding-dindingnya dihiasi dengan beragam ukiran dan relief yang indah, menceritakan kisah budaya, kehidupan masyarakat, serta kekayaan alam tanah Riau yang melimpah. Setiap lekukan pahatan itu seolah bercerita, mengajak siapa saja yang memandangnya untuk menyelami kedalaman jiwa budaya Melayu yang santun dan bijaksana. Bangunan ini berdiri gagah, luas, dan tertata dengan sangat rapi, menampakkan kemegahan yang tidak hanya tampak pada penampilan luarnya saja, tetapi juga pada apa yang tersimpan di dalamnya.

Begitu melangkah masuk, kenyataan di dalamnya pun tak kalah memukau. Ruangan-ruangannya sejuk, terang, dan berbau kertas tua yang harum—aroma yang paling dicintai oleh para pencari ilmu. Koleksi bukunya luar biasa lengkap, seakan tak ada topik yang luput dari perhatian. Mulai dari kitab-kitab klasik warisan leluhur, karya sastra Nusantara maupun dunia, buku-buku pengetahuan umum, hingga literatur khusus tentang sejarah dan adat istiadat Riau, semuanya tersusun rapi di atas deretan rak yang menjulang tinggi. Namun, kemegahan fisik dan kelengkapan koleksi itu akan terasa hampa jika tidak diimbangi dengan pelayanan that baik. Di sinilah letak keistimewaan yang lain; para petugas dan pengelola di sana melayani dengan keramahan dan kesopanan yang luar biasa, menyambut every tamu layaknya saudara sendiri, siap membantu mencari apa yang dibutuhkan dengan senyum yang tak pernah pudar.

Suasana Berkarya dan Pertemuan dengan Para Penulis Lokal

Di tempat yang penuh ketenangan dan keindahan inilah, benih-benih tulisan penulis tumbuh subur. Ia sering duduk berjam-jam di sudut ruangan, membaca, mencatat, dan merangkai kata. Di sana pula ia berkesempatan bertemu dan berbincang akrab dengan para penulis lokal, para sastrawan yang namanya harum di tanah ini. Pertemuan-pertemuan itu baginya bagaikan menimba ilmu langsung dari mata airnya. Mereka menceritakan pengalaman, perjuangan, dan seluk-beluk dunia kepenulisan di daerah ini. Dari mereka, ia belajar bahwa menulis bukan sekadar bakat yang lahir begitu saja, melainkan hasil dari ketekunan membaca dan keberanian menuangkan isi hati ke atas kertas. Semangat mereka menular ke dalam darahnya, memacu keinginan yang kuat untuk bisa ikut berkarya dan memberikan sumbangsih pemikiran lewat tulisan.

Kebahagiaan Cerpen Pertama Dimuat di Riau Pos

Dorongan semangat itulah yang akhirnya membawanya pada satu pencapaian yang tak akan dilupakan seumur hidup. Pada tahun 2012, sebuah kebahagiaan luar biasa menghampirinya saat salah satu karya tulisnya, sebuah cerita pendek, diterima dan dimuat di halaman sastra harian Riau Pos, salah satu surat kabar terbesar dan paling berpengaruh di kota Pekanbaru. Saat itu, rasanya seolah dunia ini miliknya sepenuhnya. Kata-kata yang dirangkai dengan penuh keringat dan air mata itu akhirnya bisa dinikmati oleh ribuan pasang mata pembaca. Terbitnya cerpen pertama itu menjadi bukti nyata bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh kelak pasti akan membuahkan hasil. Ia merasa sangat bangga dan bersyukur, seolah telah melewati satu gerbang besar menuju dunia sastra yang sesungguhnya.

Pemandangan Memilukan di Balik Lampu Merah

Namun, kehidupan ini ibarat dua sisi mata uang; di satu sisi ada kemegahan dan keberhasilan yang patut disyukuri, namun di sisi lain ada kenyataan pahit yang menampar kesadaran. Ketika ia keluar dari gerbang perpustakaan yang megah itu, atau saat berkeliling kota membawa koran yang memuat tulisannya, mata penulis sering kali dihadapkan pada pemandangan yang sangat menyedihkan dan memilukan hati. Di persimpangan-persimpangan jalan utama kota ini, di tempat di mana lampu lalu lintas berganti warna, ia menyaksikan realitas yang kontras sekali.

Di simpang Jalan Riau, simpang Arengka 2, simpang di depan Kantor Gubernur Riau, hingga di simpang Pasar Kodim, pemandangan yang hampir sama selalu berulang. Di sana, berdiri anak-anak kecil, para anak perantauan yang bernasib kurang beruntung. Wajah mereka yang seharusnya bersinar cerah penuh keceriaan masa kanak-kanak, justru tampak lesu, kusam, dan penuh kepayahan. Pakaian yang mereka kenakan sederhana, bahkan sering kali tampak lusuh dan kurang layak dipakai. Di tangan kecil mereka tergenggam lembaran-lembaran koran, sama seperti koran yang memuat tulisan sang penulis. Namun, fungsi koran di tangan anak-anak ini berbeda jauh; baginya koran adalah media aspirasi dan wadah berkarya, bagi mereka koran adalah harapan seteguk nasi untuk hari ini.

Anak-anak inilah yang terpaksa putus sekolah di usia yang seharusnya masih sibuk memegang pensil dan buku tulis di dalam kelas. Entah karena kemiskinan yang mendera keluarga, entah karena orang tua yang tidak mampu lagi membiayai pendidikan, atau entah karena nasib yang membawa mereka ke kota besar ini tanpa bekal yang cukup, mereka akhirnya berada di sana. Pekerjaan mereka hanya satu: menjual koran. Mereka berlari-lari kecil di antara celah kendaraan yang berhenti karena lampu merah menyala, menawarkan barang dagangan mereka dengan suara yang memelas namun penuh harap.

Hati penulis terasa perih sekali menyaksikan hal itu. Di saat ia sedang bersuka cita karena tulisannya dimuat di koran, di saat ia sedang menikmati kenyamanan dan kelengkapan fasilitas perpustakaan yang megah, anak-anak seusianya atau bahkan jauh lebih muda, harus berjuang mempertaruhkan nyawa di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang berbahaya demi uang receh. Mereka tidak sempat menikmati indahnya membaca buku di perpustakaan, mereka tidak sempat bermimpi menjadi penulis atau apa pun cita-cita mereka, karena kebutuhan perut yang mendesak telah memotong mimpi-mimpi itu sejak dini.

Lampu merah di persimpangan jalan itu seolah menjadi saksi bisu sekaligus batas pemisah yang menyakitkan. Saat lampu merah menyala, mereka memiliki kesempatan untuk mendekati kendaraan dan berharap ada yang membeli. Namun saat lampu itu berubah hijau, mereka kembali tersisih ke pinggir jalan, menanti giliran berikutnya dengan harapan yang sama namun penuh ketidakpastian. Di bawah terik matahari yang membakar kulit dan di bawah rintik hujan yang membasahi tubuh, mereka tetap bertahan sekuat tenaga.

Makna dan Harapan di Balik Sebuah Perjalanan

Fenomena ini mengajarkan penulis satu kebenaran yang mendalam. Bahwa di balik kemajuan dan keindahan sebuah kota, di balik keberhasilan seseorang, selalu ada kisah lain yang penuh penderitaan yang menanti untuk diceritakan. Perpustakaan Soeman Hasibuan yang megah mengajarkannya tentang betapa tingginya harga sebuah ilmu dan budaya. Terbitnya cerpen pertamanya mengajarkannya tentang arti kerja keras dan harapan. Namun, pemandangan anak-anak penjual koran di perempatan jalan mengajarkannya tentang rasa syukur yang mendalam dan rasa tanggung jawab sosial yang besar.

Sebagai penulis, pemandangan kontras ini menyadarkannya akan tugas suci yang diembannya. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh hanya menulis hal-hal yang indah dan manis belaka, tetapi pena ini juga harus diarahkan untuk menyoroti kenyataan pahit seperti ini, agar orang-orang yang berkuasa dan mampu tergerak hatinya untuk memperhatikan nasib mereka. Ia berharap, kelak di masa yang akan datang, tidak ada lagi anak-anak yang harus putus sekolah dan menjual koran di jalanan berbahaya itu. Ia berharap, suatu hari nanti, anak-anak itulah yang akan terlihat duduk tenang di antara rak-rak buku indah Perpustakaan Soeman Hasibuan, membaca dan menulis dengan senyum bahagia di wajah mereka, karena mimpi masa kecil mereka akhirnya terpenuhi. ***

*) Khairul A.zzam El Maliky adalah pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa. Saat ini tinggal di Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews