Netty Prasetiyani: #IndonesiaTerserah Karena Pemerintah Plin-Plan Soal Penerapan PSBB

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani

LAMANRIAU.COM, JAKARTA – Ramainya video dan tagar ‘Indonesia Terserah’ yang menyindir aktivitas masyarakat yang nekat berkerumun di sejumlah tempat mendapat tanggapan dari Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani.

Netty menilai lahirnya tagar ini karena kebijakan pemerintah terkait PSBB sangat plin-plan.

“Tagar ‘Indonesia Terserah’ ini ada karena pemerintah plin-plan soal penerapan PSBB. Akhirnya membuat masyarakat berfikir masa bodoh dengan Covid-19, ” kata Netty seusai Webinar  yang diselenggarakan Kantor Cabang Bea Cukai Cirebon.

“Kenapa saya bilang plin-plan? Dulu waktu PSBB, aturan dibuat. Misalnya, layanan bandara Soekarno Hatta ditutup, bus keluar-masuk Jakarta tidak boleh dan orang bekerja diluar dibatasi. Tapi sekarang justru oleh pemerintah dibolehkan meski ada persyaratan. Jadi masyarakat bingung, yang benar yang mana. Jadi pemerintah juga tidak jelas soal aturan PSBB,” tambahnya.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, banyak masyarakat yang berkerumun di berbagai tempat seperti di mall, MCD Sarinah, terminal, bandara Soekarno-Hatta dan tempat publik lainnya.

Hal ini dinilai karena kebijakan pemerintah yang membolehkan masyarakat melakukan perjalanan keluar kota dengan beberapa syarat. Bahkan, syarat-syarat itu mudah pula dimanipulasi.

“Syarat-syarat seperti surat untuk melakukan pekerjaan dan menjenguk keluarga yang sakit keras itu mudah dimanipulasi, ini terbukti dengan mengularnya antrean penumpang di bandara Soekarno-Hatta. Lihat saja, apa orang-orang bisa bersamaan begitu kalau memang hanya untuk keperluan kerja?” ungkapnya.

Sikap tidak tegas pemerintah pusat, terang Netty, juga mulai diikuti pemerintah daerah. Kota Bekasi misalnya, mulai merancang wilayah zona hijau dimana masjid dibolehkan menyelenggarakan Salat Ied.

“Kebijakan ini tentu tidak mampu melarang masyarakat dari zona merah untuk berbondong-bondong mendatangi masjid di zona hijau. Masyarakat memang sudah rindu dengan masjid. Nah, dengan banyaknya warga yang berkerumun dan pergi ke keluar kota, kita sekarang justru mundur sepuluh langkah ke belakang. Alih-alih maju kedepan untuk menangani Covid-19,” sesal Netty.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini mengingat kasus Covid-19 di Indonesia masih tinggi.

“Saya berharap pemerintah punya solusi, karena sudah berapa ribu orang yang lolos mudik akibat aturan yang plin-plan itu. Jika ini tidak segera diatasi maka tidak menutup kemungkinan ada gelombang-gelombang serangan Covid-19 lainnya yang akan kita hadapi,” katanya.

Menurutnya, jika banyak orang yang sakit, kapasitas fasilitas kesehatan tidak akan mampu menampung.

“Jumlah dokter kita tidak lebih dari 200 ribu, dimana dokter paru hanya 1.976 orang. Jadi satu dokter paru harus melayani 245 ribu orang. Mereka tidak akan mampu melayani semua itu,” ujarnya.

Netty meminta pada masyarakat agar kembali mendisiplinkan diri, tinggal di rumah dan jaga jarak fisik.

“Saya mengerti, masyarakat pasti merasa lelah dan berat dengan segala situasi pembatasan ini. Sulit keluar, sulit bertemu, sulit juga keuangan. Apalagi jelang hari raya yang biasanya justru menjadi puncak silaturahim. Tapi tidak ada cara lain kecuali bersabar guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Indonesia harus menang lawan Covid-19, Indonesia jangan terserah,” tutup Netty. (RUL)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *