Pengecatan Pesawat Presiden Senilai Rp 2 Miliar Dianggap Mubazir

LAMANRIAU.COM, JAKARTA – Proyek cat ulang pesawat kepresidenan Rp2,1 miliar kala pandemi Covid-19 dihujani kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai hanya membuang anggaran di tengah ekonomi negara sedang kalut.

Pakar penerbangan Alvin Lie menilai kegiatan pengecatan ulang pesawat kepresidenan itu ibarat foya-foya di tengah kesulitan. Alvin menaksir biaya cat ulang pesawat setara B737-800 itu bisa menghabiskan anggaran hingga US$150 ribu.

Alvin menyinggung soal pemborosan uang di tengah pandemi. Menurutnya, pengecatan ulang pesawat bisa menelan biaya miliaran rupiah dan bentuk foya-foya.

“Hari gini masih aja foya-foya ubah warna pswt Kepresidenan Biaya cat ulang pswt setara B737-800 berkisar antara USD100ribu sd 150ribu Sekitar Rp.1,4M sd Rp.2.1M @KemensetnegRI @setkabgoid @jokowi,” cuit akun @alvienlie21, Senin kemarin.

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan cat ulang pesawat presiden tersebut bukan prioritas di tengah pandemi Covid-19.

Mardani mengatakan Komisi II DPR bakal segera memanggil Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno untuk meminta penjelasan rinci terkait cat ulang pesawat presiden yang memakan anggaran hingga Rp2 miliar.

Sementara, Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mempertanyakan urgensi cat ulang pesawat kepresidenan itu.

“Apakah penting dan prioritas mengecat pesawat kepresidenan saat ini? Apakah kalau tidak dicat saat ini, membahayakan nyawa presiden saat memakai?” ujar Herzaky, Selasa.

Ia menilai jika tidak membahayakan nyawa presiden, maka lebih baik pemerintah membatalkan rencana mengecat ulang pesawat kepresidenan itu.

Menurutnya, akan lebih baik pemerintah memfokuskan anggaran yang tidak penting untuk menangani pandemi Covid-19 yang belum terkendali.

“Pertama, semua anggaran fokus untuk penanganan Covid-19. Kedua, mengecat pesawat tidak prioritas saat ini,” katanya.

Petinggi DPP Partai Demokrat Andi Arief mempertanyakan sekaligus menyindir pengecatan ulang pesawat kepresidenan dari warna biru ke merah.

Ia mengaku bingung dengan pemilihan warna merah untuk pesawat tersebut.

“Sekarang pesawat kepresidenan berwarna merah. Entah maksudnya apa, bisa warna bendera bisa juga corona. Dulu biru,” kata Andi lewat akun Twitter miliknya, @Andiarief_,.

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Gunardi Ridwan menilai Presiden Joko Widodo perlu meminta maaf kepada masyarakat terkait pengecatan ulang pesawat kepresidenan di tengah pandemi Covid-19.

“Saya rasa presiden perlu memberikan konfirmasi dan permintaan maaf ke publik, agar tidak terjadi kegaduhan di masyarakat dan menjaga wibawa pemerintahan pusat,” kata Gunardi.

Ia menilai wibawa pemerintahan Jokowi bisa berkurang lantaran selama ini pusat kerap menekan daerah untuk sensitif menggunakan anggaran di tengah situasi pandemi Covid-19.

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN Guspardi Gaus juga mengatakan pemerintah seharusnya memiliki sense of crisis terkait proyek cat ulang pesawat kepresidenan tersebut.

“Harus punya sense of crisis lah ya. Harus mempunyai rasa kepedulian terhadap kondisi kekinian,” kata Guspardi saat dihubungi, Selasa (3/8).

Guspardi meminta Istana Kepresidenan memberikan penjelasan yang gamblang ke masyarakat terkait proyek cat ulang pesawat kepresidenan, mulai dari anggaran hingga perubahan warna di badan pesawat tersebut.

Menurutnya, penjelasan pihak Istana penting agar isu ini tidak menjadi liar di tengah penanganan pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon, menilai Istana tidak memiliki empati dengan kondisi masyarakat yang sedang kesulitan akibat pandemi Covid-19 ini.

“Menurut saya menunjukkan perasaan yang tak sensitif dan kurang empati gitu. Di tengah banyak persoalan lain yang prioritas kenapa harus mengecat Pesawat Kepresidenan,” ujar Fadli, Rabu 4 Agustus 2021.

Oleh sebab itu, anggota Komisi I DPR ini menilai pemerintah telah menghabur-hamburkan uang negara saja. Padahal masih banyak kebutuhan yang lebih menjadi prioritas ketimbang melakukan perubahan warna Pesawat Kepresidenan.

Pihak Istana belakangan mengklarifikasi bahwa pemerintah tidak hanya melakukan pengecatan ulang terhadap Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 atau Pesawat BBJ 2. Ada dua pesawat lain yang juga dicat ulang, salah satunya Helikopter Super Puma.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyampaikan pengecatan pesawat-pesawat itu telah direncanakan sejak 2019. Pengecatan dilakukan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia pada 2020.

“Proses pengecatan sendiri merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan pesawat RJ,” kata Heru dalam keterangan tertulis.

Heru menyampaikan tiga pesawat itu tidak dicat dalam waktu bersamaan. Helikopter Super Puma dan pesawat RJ sudah dicat terlebih dulu.

Adapun Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 baru dicat tahun ini. Pengecatan pesawat itu menunggu jadwal perawatan yang jatuh pada 2021. (cnn)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *