Ada 2.148 Bencana Terjadi Sepanjang Tahun 2021

Bencana
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

LAMANRIAU.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan, sepanjang tahun 2021 ini, telah terjadi 2.148 kejadian bencana. Sekitar 98 persen antaranya merupakan hidrometeorologi.

Kejadian bencana hidrometeorologi tersebut didominasi oleh banjir, angin puting beliung dan tanah longsor. Selain itu, terdapat tren kenaikan bencana hidrometeorologi yang hampir delapan kali lipat lebih tinggi dari pada tahun 2005 silam.

“Upaya antisipasi dan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi harus kita dorong dan menjadi fokus perhatian kita bersama, khususnya pada tahap pra bencana ini,” kata Muhadjir, Sabtu 30 Oktober 2021.

Baca : Waspadai Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Menurutnya, upaya antisipasi tersebut tidak hanya untuk mengurangi risiko kerugian dan korban jiwa, namun juga akan memberikan manfaat kestabilan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ujungnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan serta ketahanan negara.

“Karena itu kita berupaya keras untuk mengendalikan pola perilaku alam yang negatif oleh rekayasa yang kita buat dengan baik. Yaitu ini merupakan misi dari BMKG yang sangat strategis dalam membangun perilaku alam dalam artian yang positif,” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemangku kebijakan untuk menyadari betapa pentingnya mengikuti, memantau, dan mencari informasi yang bersumber pada BMKG terkait strateginya dalam kesiapsiagaan bencana.

Dampak La Nina

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulanagan Bencana (BNPB) menginstruksikan BPBD untuk mengambil langkah kesiapsiagaan untuk menghadapi fenomena La Nina di 34 provinsi.

Hal itu bertujuan untuk mencegah maupun menghindari dampak buruk bahaya hidrometeorologi. Seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang yang dipicu fenomena La Nina.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi mengatakan, kesiapsiagaan ini perlu merujuk pada informasi BMKG mengenai potensi La Nina di Indonesia.

“Hal ini dapat terjadi pada periode Oktober 2021 hingga Februari 2022,” kata Prasinta.

Prasinta menyebut, fenomena La Nina merupakan anomali iklim global yang dapat memicu peningkatan curah hujan.

Menurut catatan, fenomena La Nina di Indonesia tahun lalu, menyebabkan peningkatan akumulasi curah hujan bulanan sekitar 20 persen hingga 70 persen dari kondisi normalnya. (rri)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *