Puisi-puisi Karya Musa Ismail

Selat Jiwa

Bismillah,
Ombak tipis menderas di selat jiwa
memanggil rindu pada yang satu
luruh dalam permohonan sepertiga malam
ketika dahi menyepuh tikar lembut di sudut hati

Darah jiwa ngalir bagaikan air selat
Gemuruh dalam ghirah tak bertepian
ketika badan bagaikan alif dan dal
lalu, jiwa menyatu dengan sentuhan lembut
berdialog suci dalam getaran ombak Ilahi

Selat jiwa ini selalu menderas dalam badan
Pulau-pulau tubuh selalu saja angkuh, padahal rapuh
rentan tatkala kepedihan datang dari tuhan

Ke mana alir selat nak kita turutkan?
kalau jiwa kerontanng sepanjang jalan
Ke mana rindu nak kita sampaikan?
kalau angkuh jua yang kita lakukan
Ke mana ghirah nak kita semangatkan?
kalau tubuh rapuh di depan dunia

Dalamnya selat jiwa ini
Aku serahkan pada Ilahi!

Alhamdulillah.
Di Perairan Selatpanjang, Rabu, 20 Zulkaidah 1442/01 Juli 2021

Tanjung Durhaka

Bismillah,
Pantai landai berpasir putih permai
Tanjung berbukit, berbatu, berpohon perepat
telah menjadi tanda pendurhakaan
Anak durhaka kepada Emaknya

Bukan si Tanggang, si Malin Kundang, atau Dedap
Ambat si Bujang Bongkak menjadi elang
Inilah tamsil kesombongan bagai azazil di depan tuhan

Tanjung Ambat adalah tamsil kerinduan Emak
pada kita sebagai anak yang lalai budi, rapuh akhlak
karena harta, sebab kuasa, Emak jadi lupa
dipandang hina dan bodoh karena hodoh

Ketika keangkuhan menjadi tuhan
Lenyaplah kerinduan ditelan ombak lautan
turun badai kutukan
kaku menjadi batu
hilang menjadi helang
tersebab khianat kepada Emak

Tanjung Ambat tanjung durhaka
kakubeku di bibir pantai permai
Orang-orang memandangnya
Ada air mata Emak di sana

Alhamdulillah.
Bengkalis, Sabtu, 29 Zulkaidah 1442 / 10 Juli 2021

 

Tiang Cahaya

Bismillah,
Seratus kalimah tauhid,
seratus kalimah iman
Setiap hari bersayap dari lisan
Bergetar tiang cahaya di Arsy
Pengampunan diberikan
Dosa-dosa berguguran dari tiang nur
bening dalam nur Muhammad

Laa ilaaha illallah
Tiada tuhan selain Allah
Lebih mulia daripada semesta
berat dalam timbangan penuh rahmah
para malaikat berhimpun dalam pembelaan

Noda-noda hitam melepuh dalam nur
laksana terlahir kembali
bercahaya dari dalam diri
menembus legamnya hati

Perjalanan dengan seratus kalimah tauhid
mengalirkan sungai-sungai iman
menggetarkan Arsy

Alhamdulillah.
Pekanbaru, Ahad, 20 Ramadan 1441 H /02 Mei 2021

Jalan Sunyi

Bismillah,
Melewati jalan sunyi
seperti darah berjalan dalam diri
Duri-duri mencucuk setajam diri
di penjara sepi

Mengaji sayap-sayap suci dari hari ke hari
Lembaran demi lembaran seputih melati
merangkak dalam lisan basah berkaca
Sunyi dalam sila di atas tikar menyental hina
Semakin senyap dalam kalbu
Menyelinap membisikkan ke palung hati
Ada Illahi

Jalan sunyi yang suci
Kaki-kaki melepuh rindu
Mata mengeja dalam ngantuk lelah
Pada setiap helai ayat-ayat sunyi
Terhampar dalam semesta rahmat
Terbangkan gemuruh gelisah

Langkah terus menelusuri jalan ini
Biarpun lelah mendera hati
Walaupun duri lepuhkan diri

Aku berdiam di jalan sunyi
tersungkur dari waktu ke waktu
memaknai hakikat perjalanan
sebelum tiba pada tujuan

Alhamdulillah.
Bengkalis, Senin, 08 Rabiul Akhir 1442/23 November 2020

—————–
Musa Ismail, lahir di Pulau Buru Karimun, Kepulauan Riau, 14 Maret 1971. Karyanya adalah kumpulan cerpen “Sebuah Kesaksian” (2002), esai sastra-budaya “Membela Marwah Melayu” (2007), novel “Tangisan Batang Pudu” (2008), kumpulan cerpen “Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut” (2009), kumpulan cerpen “Hikayat Kampung Asap” (2010), novel “Lautan Rindu” (2010), kumpulan cerpen “Surga yang Terkunci” (2015), dan novel Demi Masa (2017). Pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan (2010) dan peraih Anugerah Pemangku Prestasi Seni Disbudpar Provinsi Riau (2012). Puisi-puisinya terjalin dalam beberapa antologi karya pilihan harian Riau Pos, antologi “Setanggi Junjungan” (FAM Publishing, 2016), antologi puisi HPI “Menderas sampai ke Siak” (2017), “Mufakat Air” (2017), Jejak Air Mata: Dari Sitture ke Kuala Langsa (Jakarta, 2017), Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi (Jakarta, 2017), Dara dan Azab (Malaysia, 2017), Kunanti di Kampar Kiri (Pekanbaru, 2018), Jazirah (Tanjungpinang, 2018). Kumpulan puisi perdananya bertajuk Tak Malu Kita Jadi Melayu (TareBooks, 2019). Pada 2019 juga, terbit bukunya berjudul Guru Hebat (Tarebooks). Pada 2020, terbit buku esainya yang berjudul Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik (Tarebooks, 2020) dan novel Sumbang (dotplus, 2020). Dia masih terus belajar menulis. ***

Baca : Puisi-puisi Karya Winda Puspitasari

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.