Puisi-puisi Karya Sastrawan Umbu Landu Paranggi

umbu landu

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa Ada Angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari
Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya
Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Di Sebuah Gereja Gunung

Di Sebuah Gereja Gunung lonceng kecil yang bertalu,
memanggil-manggil belainya di tengah kesunyian,
minggu pagi yang cerah mereka pun berduyunlah ke sana:
warga petani dan gembala dalam dandanan sederhana,
bangkit dari kampung,
lembah bukit dan padang-padang sepi hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan,
telah terpanggil dan lonceng gereja
lalang di lereng gunung itu
menuntun setia dalam galau kesibukan
mereka sehari-hari tak pernah lupa panggilan minggu:
di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
— berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan —
bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketentraman
— di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini —
pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini:
mazmur mereka keyakinan yang telah terpatri, bersemi,
tak terikat ruang dan waktu juga dalam gereja lalang ini,
terpencil jauh dan sunyi jauh dari genteng,
kegaduhan listrik serta deru oto tak mengenal surat kabar,
jam radio ataupun televisi tapi keyakinan,
pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang sama mentari
dan bulan yang bersinar di mana pun —
dan tuhan mendengar seru doa mereka

 

Doa

sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi
Kauku

Ibunda Tercinta

Ibunda Tercinta
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba di atas pundaknya
setiap anak tegak berdiri menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

Sabana

Sabana
memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang
sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda
sabana tandus mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu
lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala

Umbu Landu Paranggi, adalah penyair legendaris lahir di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 10 Agustus 1943. Umbu Landu Paranggi yang berjuluk Presiden Malioboro meninggal dunia dalam usia 77 tahun di Bali, 6 April 2021 dini hari. Dia juga dikenal sebagai guru bagi para penyair dan sejumlah sastrawan besar Indonesia. Alumnus jurusan Sosiatri, Fisipol UGM ini kemudian pulang ke Sumba pada tahun 1975. Tiga tahun kemudian, dia menetap di Bali hingga meninggal. Semasa hidupnya, Umbu meraih banyak pencapaian dan pengakuan atas sepak terjangnya sebagai penyair. Salah satunya Penghargaan Seni pada tahun 2019 dari Akademi Jakarta. ***

Baca : Sajak dan Puisi Ni Made Purnama Sari

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.