Puisi-Puisi Karya Penyair Syaukani Al Karim

Kemana Kau Menghala

Akulah tebing yang menggilai suara deburmu,
bermusim-musim kecewa aku menanti kabar dari jilatan riak,
tapi buih yang sampai hanya mengabarkan kisah:
ombak telah menjalin kasih dengan angin di sempadan hatiku yang ingin.

“Kapankah dapat kuhanyutkan sesaji rindu,
badai mengaburkan tuju,
sedang waktu-waktu pasang yang menghempas
tak pernah mengirimkan isyarat.”

Kau masih saja bertahan sebagai laut,
saban hari melukis kaki langit dengan garis yang berbeda,
menggoreskan dawat-dawat harapan dengan kuas rindu yang gagap:
membuat coretan-coretan yang tak dapat kuterjemahkan dengan sekedar tatapan

Engkau terus menjelma jadi laut,
kian menyamudera,
dan perahu kecilku yang berlayar mengirim tanda tak dapat menyembulkan api.
Badai dan gunung gelombang menggulungnya ke dasar yang paling purba,
dan kita tak dapat bertukar isyarat,
meski dengan segaris cahaya.

Di laut mana lagi aku mesti menunggu,
jika di setiap tebing pedih menating,
pada kakilangit manakah harus kuletakkan impian
jika setiap garis yang terlukis hanya menawarkan tangis.

“Ketika senja datang dengan lembayung memerah,
ketika cericit camar bersahutan dengan gemuruh gelombang,
ketika itulah kuantar isyarat tanpa syarat,” katamu

Tapi sudah tak terbilang luas laut yang kutimang,
entah berapa dasar yang kujelang mengenangkan kenang,
namun tuju pergimu hanya menyisakan arah
yang mati pada tiap janji

Entah berapa palung yang sudah kuarung,
tak terhitung tanjung yang dikunjung,
namun pada daun-daun bakau yang gugur hanya kutemukan sigau yang siur,
dan pada jalan setapak tempat citra pernah berjejak,
telah kering ditimpa panas
yang lebih membahang dari sekedar seabad kemarau

Entah berapa teluk yang telah diseluk,
sudah tak terbaca samudera yang kupeta.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan,
dan tahun-tahun perjalanan
membibitkan kepedihan yang lebih luas dari hamparan kesunyian

Oh, kemanakah kau menghala,
aku sudah mencarimu di lorong-lorong kasih yang putih,
di ruang-ruang sayang yang membentang,
di rumah cinta yang purna,
tapi kelebatmu menggelap tak terbaca.
Aku seperti seorang kelana yang berjauh dari segenap kampung

Kemanakah kau menghala,
aku telah mencarimu di tapak-tapak pertemuan kenangan,
di rumah-rumah sejarah yang bersepah sumpah,
di peta-peta kusam yang kau lukis dengan tangis,
tapi tak terbekas langkahmu yang tegas.
Kau seperti bingkas dari jerat tangkas yang pungkas,
hilang lenyap ditelan keluasan sang senyap

Ke manakah kau menghala,
aroma rindu yang pernah kau sebarkan kian mewangi dalam diri,
singgah tak tersanggah di hatiku yang gundah.
Wahai, ke manakah kau menghala,
aku telah mengirim beribu pesan pada setiap dermaga,
tapi dermaga menjawabnya dengan sepi
“Tak ada tali yang menambat diri, selain sunyi yang bahri.”

Kukirimkan Engkau ke Negeri Mimpi

anak-anakku: AAA, SSS, APGS, dan FAYA

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi,
tanah yang disenandungkan setiap bunda,
Mungkin sudah kau cecap asinnya,
lewat air mata yang tumpah ke rahim,
tempat tumbuh meneguh janji.

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi,
tempat orang-orang meratapi rindu di setiap purnama.
Kan terdengar nyanyian itu: parau pungguk merayu bulan,
memohon sapurba turun ke bumi,
membawa padi berbulir emas,
untuk membayar kalah bertahun cemas.

Inilah negeri mimpi itu: jazirah yang ditinggalkan cahaya.
Akan kau lihat gelap bergelut di segenap sudut,
dan orang-orang saling berkelahi
merebut kerlip yang kian malap ditelan senyap.

Inilah negeri itu: tanah yang menyimpan rasa.
Orang-orang menyimpan perihnya dalam tawa,
di antara ayat sejarah yang berkisah tentang kejayaan.
jejak kalah itu kian panjang,
menapaki gurun dan tanjung,
dengan air mata yang membelukar tak bertepi.

Inilah negeri mimpi itu: lautan yang menggelombangkan nestapa.
Kapal-kapal yang bertolak dari pelabuhan sejarah,
tak jemu mengangkut pedih ke segenap perhentian,
juga di dermaga,
tempat engkau menunggu perahu
yang akan membawamu melintasi mimpi.

Negerimu adalah hamparan kesedihan yang maha luas,
setiap waktu, orang menurunkan berpikul-pikul duka,
membariskan berlaksa getir,
mengirimkannya ke segenap kampung,
menjadi makanan tahun-bertahun.
Negerimu adalah luka sayat yang tak tertanggung.
Arus yang menderas di bawah kakimu,
adalah alir darah dari berlapis tikam berbilang hunjam,
dan engkau tak mungkin dapat menyentak dayung,
karena setiap kuak akan mengoyak harap,
kan menyibak ratap yang mengendap dalam diam.

Maka seperti Musa,
jangan pernah berhenti menemukan tanda:
Perahu negeri yang terombang-ambing,
rumah rakyat yang kian rebah,
dan anak-anak yang disembelih keserakahan,
adalah siarah yang harus kau sesah,
adalah itibar tempat engkau memahami debar.

Seperti Khaidir, luaskanlah tafsir.
Dirimu adalah tubuh yang terkepung
dalam peradaban yang memaki-maki sejarah,
antara sejarah yang bersilang jalan dengan kemestian.

Dirimu seperti para penari yang dikacaukan rentak,
melenggang dalam bunyi yang sumbang,
hingga langkah dapat kecundang di sembarang irama.

Tapi jangan ragu merangkum rindu,
atau harap yang telah kau sulam menjadi kalam.
Dalam sengsara ada bahagia
dalam gundah ada hikmah,
dalam perih kan ada kasih bangkit bersilih.

Jangan bimbang menjemput gemilang,
meski tangis menghadang dengan bengis,
meski kalah telah membarah,
meski setiap langkah bersagang dengan resah.
Datanglah sebagai pendatang,
dengan hati yang jantan,
seperti moyangmu mengembangkan layar kuasa,
mengayuh kota segara pada setiap deras air,
pada rimbun bukit ombak,
menikahkan nafsunya di serata tanah dan pulau

Datanglah sebagai pendatang
dengan hati yang jantan,
seperti raja kecil,
garang menyentak parang
membela marwah yang hilang,

seperti raja haji
tak lelah menunaikan janji
menyambut maut di teluk ketapang,
berkafan darah berlahat samudera,

atau seperti tambusai ,
melawan tak usai
menyelamatkan sansai.

Kukirimkan engkau ke negeri itu
Dengan dendang sayang
Dengan ikhlas sebagai pedang
Maka tebaslah mimpi dengan hati
Agar luka berbayar lunas dengan cinta

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi
Di sanalah engkau harus bertahta

Puisi Subuh

bangkitlah dari tidurmu kekasih,
aku sedang menghangatkan subuh dengan api rindu,
lihatlah gelegak ghairahnya,
melambung ingin ke puncak hendak.

bangunlah dari tidurmu kekasih,
telah kusiapkan segelas senyum,
puaskan dahagamu nan dikepung malam.

bangkitlah dari tidurmu kekasih,
di meja bimbang telah kuhidang sayang,
kan kusuapi engkau dengan kenang.

bangkitlah dari tidurmu kekasih,
mari bersama menyantap cinta.

————————
Syaukani Al Karim dilahirkan di Bengkalis. Karya-karyanya antara lain, Hikayat Perjalanan Lumpur (Kumpulan Sajak), Airmata 12 (Antologi Puisi), Makam (Antologi Puisi), Jazirah Luka (Antologi Puisi), Cerita Rakyat Riau, Dari Percikan Kisah, dan Membentuk Provinsi Riau (Sejarah). *

Baca : Puisi-Puisi Karya Rektor Unilak Dr Junaidi

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews