Cerpen Ahmad Ijazi H: Perahu Bagaduang

UPACARA penyambutan Monti Dirajo Thamrin, Penghulu Kuantan Mudik, Lubuk Jambi telah usai. Kedatangan beliau ke Kuantan Mudik untuk meresmikan balai adat yang dibangun di tepi Sungai Kuantan. Rukhayah menjadi ‘ratu’ yang menarikan tari persembahan yang mengharuskannya membawa tepak sirih sebagai lambang persaudaraan, beberapa saat yang lalu.

Matahari telah melengkung ke sisi barat. Angin mendesah, mengibas-ibaskan kurong yang dikenakan Rukhayah, elok sekali. Arantona kekasih hati yang sangat ia cintai itu, berjalan di sisinya, sejajar melangkah menapaki jalan berbatu menuju ke sebuah anjung bertingkat di hulu Sungai Kuantan.

Langkah kaki sepasang sejoli itu akhirnya menjejak teras anjung. Arantona menoleh, menyerahkan tepak yang dibawanya kepada Rukhayah yang hendak menaiki anak tangga anjung. “Aku pulang dulu ya, Rukhayah?” Arantona menyimpul senyum, sembari menggulung kemeja lengan panjangnya sebatas siku.

“Naiklah dulu ke anjung barang sekejap, Bang,” Rukhayah meletakkan tepak di muka pimtu lalu menarik tangan Arantona menaiki tangga anjung.

Mak Halimah yang baru saja berganti pakaian segera melongok ke ruang tamu. Wajahnya masam, menunjukkan ketidaksukaannya atas kedatangan Arantona.

“Kapan Abang akan mengantar limau untuk melamarku?” tanya Rukhayah sembari merapikan rambutnya yang sedikit kusut dan basah oleh lelehan keringat.

“Perahu baganduang untuk mengantar limau belum selesai, Rukhayah. Mungkin dua minggu lagi,” sahut Arantona dengan suara datar, tetapi mengandung kecemasan.

Wajah Mak Halimah semakin masam mendengarnya. “Kau serius atau tidak melamar putriku, Arantona? Kalau sampai minggu depan limau itu tak kau antarkan juga, jangan salahkan kami bila nanti ada pemuda lain yang akan melamar Rukhayah.”

“Emak cakap apa? Bang Arantona sungguh-sungguh ingin melamarku. Tak bisa emak menunggu barang sekejap lagi?”

“Dua minggu itu terlalu lama, Rukhayah. Orang-orang sudah mencibir Emak, katanya Arantona tak serius ingin melamar kau.”

Rukhayah bergeming. Napasnya berembus seperti jarum yang berguguran. Arantona tertunduk lirih. Ia sungguh tak menyangka Mak Halimah akan berkata seperti itu. Sungguh nyeri mengoyak hati, tetapi ia menyadari bahwa pemuda miskin sepertinya memang tak pantas mendapatkan cinta seorang gadis dari keluarga keturunan raja yang dihormati. Sementara keluarganya hanyalah orang pendatang yang hidup sederhana, tak memiliki harta berlimpah, terlebih jabatan membanggakan seperti yang dimiliki kaum bangsawan di tanah Kuantan Singingi.

“Baiklah, aku akan berusaha mengantarkan limau itu minggu depan,” tegas Arantona akhirnya.

Mak Halimah menatap Arantona tajam. Tatapannya seperti kilat pedang mengandung percik api. “Limau yang harus kau bawa adalah kain tenun siak lejo tabir dan perahu baganduang lima jalur.”

Rukhayah terbelalak. Arantona menelan ludah. Sebuah ledakan petir seperti baru saja menghantam ubun-ubunnya.

“Mak, limau itu terlalu tinggi. Bang Arantona mana sanggup.” Rukhayah berusaha melakukan pembelaan karena Arantona tak berani bersuara. Ia tak ingin limau itu menjadi beban yang begitu memberatkan keluarga Arantona.

“Kalau dia tak sanggup ya sudah. Emak tak akan memaksa. Masih banyak pemuda-pemuda mapan lain yang ingin meminang engkau,” Mak Halimah kian sengit meninggikan suaranya.

“Ya Tuhan…,” Rukhayah tak habis mengerti. Emak seperti telah berubah wujud menjadi wanita yang teramat tamak kini.

“Coba kau lihat ini…,” Mak Halimah mengeluarkan sebentuk gelang mutiara dari dalam saku kurong-nya. “Ini pemberian Tuan Anthonius, anak bungsu Monti Dirajo Thamrin, Penghulu Kuantan Mudik! Gelang ini ia berikan buat kau Rukhayah. Itu artinya, Tuan Anthonius menaruh hati pada kau, Rukhayah!”

Rukhayah menutup telinganya rapat-rapat. Perkataan emaknya barusan seperti sebuah bencana yang begitu mengerikan baginya.

Sementara Arantona semakin hening, menyepuh percikan api yang tiba-tiba menyala, membakar jantungnya, membakar harga dirinya!

Di mata Mak Halimah, ia benar-benar tak ada harganya lagi kini.

***

DEBU seperti tepung yang menguap ke udara tatkala Arantona melangkah pulang. Tatapan matanya layu. Kakinya yang jenjang tampak setengah menggigil, hampir kehilangan keseimbangan. Pikirannya sungguh kusut kini, memikirkan kata-kata yang baru saja Mak Halimah ucapkan.

Kain tenun lejo tabir?

Perahu baganduang lima?

Ya Tuhan … sungguh berat limau itu! Sepertinya ia tak mungkin sanggup memenuhi limau yang disayaratkan Mak Halimah. Apalagi ia hanya penakik getah yang mengerjakan kebun karet milik orang lain. Uang yang ia kumpulkan beberapa tahun belakangan ini juga masih sedikit. Masih jauh dari cukup. Sementara ia telah berjanji akan mengantarkan limau itu minggu depan. Ya Tuhan tolong aku! Arantona menjerit dalam bungkam. Ia benar-benar gamang kini.

“Kau kenapa, Arantona?” Emak melangkah menghampirinya sembari membawa nampan berisi lopat ubi dan secangkir the hangat.

“Wajah kau tampak kusut sekali?”

“Tak apa-apa, Mak,” Arantona menyahut gelisah.

“Tak apa-apa bagaimana? Wajah kau pucat begitu. Apakah hubunganmu dengan Rukhayah mengalami masalah?”

“Ah, tidak, Mak. Hubungan kami baik-baik saja.”

“Kau jangan bohong. Apakah limau yang diminta keluarga Rukhayah terlalu tinggi?”

Arantona diam. Untuk yang satu ini, ia tak mungkin membohongi emak. Tetapi kalau emak sampai tahu yang sebenarnya, emak pasti akan sangat sedih dan kecewa. Ia tak mau limau itu menjadi beban bagi emak. Selama ini, emak sudah cukup menderita ditinggal abah yang pergi merantau ke Arab Saudi hingga kini, taka da kabar berita. Jangankan berkirim uang, berkirim surat pun tak pernah. Hidup yang dijalani emak saat ini sungguh sulit. Menghidupi keluarga dengan tiga orang anak seorang diri.

Emak beranjak menghampiri lemari pakaian. Ia mengambil sesuatu di bawah tumpukan baju-baju.

Arantona memandang bingung ketika emak meraih tangannya.

“Pakai saja ini,” ucap Emak seraya menyerahkan sebuah cincin emas kepada putra sulungnya itu. Mata Arantona membulat seketika.

“Jangan, Mak! Inikan cincin perkawinan Emak. Aku tak kan mungkin menjualnya!”

“Sudahlah, Arantona. Jual saja. Emak ikhlas memberikannya padamu. Emak hanya ingin melihat kau bahagia. Kalau kau bahagia, Emak juga akan sangat bahagia.”

***

PERMUKAAN air Sungai Kuantan kemilau seperti mutiara. Arantona naik ke atas perahu baganduang-nya. Matanya memicing menepis silau yang datang merubung, terasa sangat menyengat. Tetapi Arantona tetap sigap, melangkah ke puncak perahu baganduang sembari membawa beberapa buah kuba di genggamannya. Kuba tersebut berbentuk bulan bewarna putih dan bintang bewarna keemasan.

Angin berembus liar, mengibarkan kain batik panjang serta umbul-umbul yang telah diikatkan pada sebilah bambu panjang. Pak Cik Hilman dan Pak Ngo Zakariya turut naik ke atas perahu baganduang membawa payung sutan berwarna orange dan kain barendo berwarna merah hati.

“Perahu baganduang ini telah siap berlayar mengantarkan limau,” ucap Pak Cik Hilman sembari menepuk pundak Arantona yang baru saja turun dari puncak perahu.

Arantona tersenyum kecut, “Ya, Pak Cik Hilman. Tetapi aku khawatir kalau limau-ku tak mampu menarik hati keluarga Rukhayah …” Arantona kembali dirundung kegalauan.

“Kau harus optimis, Arantona,” Pak Cik Hilman menepuk pundaknya sekali lagi. “Kau sudah mempersiapkan segalanya sejauh ini. Perahu baganduang ini adalah bukti kesungguhanmu. Kerja kerasmu tak akan sia-sia.”

“Tetapi kain tenun Siak lejo tabir yang disyaratkan Mak Halimah sebagai limau belum kudapatkan hingga kini. Aku juga hanya mampu membuat perahu baganduang tiga. Sementara Mak Halimah memintaku membuat perahu baganduang lima.”

Pak Cik Hilman terdiam. Ia tak menyangka kalau lima yang disyaratkan Mak Halimah untuk melamar Rukhayah seberat itu. Ia juga sangat menyayangkan, kenapa harus sekarang Arantona mengutarakan hal itu. Jika sejak jauh-jauh hari berita itu ia dengar, pasti semuanya bisa diusahakan.

“Kapan kau diharuskan mengantar limau itu?” Tanya Pak Cik Hilman kemudian.

“Besok pagi,” Arantona menyahut dengan suara serak.

“Baiklah. Tetapi kuatkan niatmu, jangan mudah menyerah. Kita memang harus berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan cinta yang kita impikan. Yang penting tetap sungguh-sungguh. Berdoa dan berusaha. Pak Cik yakin, Tuhan pasti akan memudahkan segala urusan kita.” Pak Cik Hilman melemparkan senyumnya.

Mata Arantona seketika berbinar-binar. Sebuah kuantan memenuhi rongga dadanya kini.

***

ANGIN sore berembus mengarak awan, memayungi air sungai yang tampak jernih dan memutih. Arantona dan Rukhayah duduk di pinggir Sungai Kuantan. Tangan mereka saling bergandengan. Dua sejoli itu menatap ke tengah sungai. Menatap perahu baganduang tiga yang telah dihias sedemikian rupa. Siap berlayar mengantarkan limau.

“Perahu baganduang ini sungguh menawan,” mata Rukhayah berbinar-binar.

“Apa kau yakin limau-ku akan diterima?”

“Kenapa Abang berkata begitu?”

“Sampai hari ini aku belum bisa mendapatkan kain tenun lejo tabir yang disyaratkan emakmu. Perahu baganduang ini juga hanya tiga jalur. Padahal yang diminta emakmu perahu baganduang lima jalur.”

“Emak memang keterlaluan. Mematok limau terlalu tinggi. Mana ada kain tenun lejo tabir yang dijual di Kuantan Mudik. Kalau pun ada, mencarinya pasti sulit sekali dan harganya bisa berkali-kali lipat dari harga aslinya. Mana lagi perahu baganduang lima, itu permintaan yang sungguh tak masuk akal. Selama ini belum ada pernah aku melihat perahu baganduang lima. Kebiasaannya kan perahu hantaran hanya baganduang tiga?”

Arantona mengembus nafas berat, lalu mengangguk pelan. “Ya kau benar. Lalu aku harus bagaimana?”

“Abang datang saja besok. Jangan hiraukan kata-kata emak.”

“Tapi, kalau emak kau tetap tak menerima limau-ku bagaimana?”

“Yang ingin menikah itu kan aku, jadi aku yang berhak memutuskan, bukan emak.”

Matahari telah condong ke barat. Embusan angin semakin gelisah. Begitupun yang dirasakan Arantona kini. Gelisah. Gelisah kalau-kalau limau-nya tak mampu menarik hati Mak Halimah. Khawatir kalau-kalau keluarganya akan dipermalukan. Dipermalukan oleh semua penolakan.

“Rukhayah, pulang kau!” tiba-tiba terdengar suara keras seorang pria dari arah belakang hulu sungai. Arantona dan Rukhayah menoleh seketika. Ternyata Syamsudin, abang tertua Rukhayah yang datang.

“Aku masih ingin bersama Bang Arantona di sini!” sahut Rukhayah sembari bersembunyi di balik punggung Arantona yang kekar.

“Pulang, kataku!” Syamsudin menarik tangan adiknya itu dengan kasar.

“Untuk apa aku pulang?” Rukhayah berusaha berontak.

“Tuan Anthonius dan Monti Dirajo Thamrin beserta rombongan menuju ke anjung kita!”

“Untuk apa mereka ke anjung kita?”

“Untuk melamar kau!”

Rukhayah terhenyak bukan kepalang. Seluruh belulangnya seakan telah remuk kini. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sementara di kejauhan, perahu baganduang lima yang ditumpangi Monti Dirajo Thamrin telah berjalan perlahan menuju anjung-nya disertai bunyi kumpang yang ditabuh ramai.

“Ayo pulang! Jangan sampai kau mempermalukan keluarga!”

Rukhayah merintih, melangkah dengan hati teriris. Sekilas ditolehnya Arantona yang diam membeku, Kristal-kristal disudut matanya menetes.

Rukhayah …” Arantona menjerit lirih, tersungkur di tanah.

Di muka pintu, emak memandang nanar. Bola matanya bergerak-gerak penuh iba. “Sesungguhnya adat di kampong ini tak pernah mempersulit kita, Putraku. Tetapi jika adat telah diselimuti oleh keserakahan dan ketamakan, maka semuanya akan menjadi begitu sulit dan mahal. Seluruh pengorbanan dan cinta yang tulus sekalipun tak kan mampu membelinya. Tetapi kau juga harus tahu, putraku, harga diri kita jauh lebih mahal dari itu …” tubuh emak hampir limbung, namun tangannya masih sempat menyambar daun pintu sebagai pegangan untuk menyangga tubuhnya agar tidak jatuh.

Tetapi air mata emak tetap jatuh. Rina hujan pun jatuh. Langit benar-benar diselimuti mendung yang teramat tebal kini. ***

*) Cerpen ini dikutip dari buku 100 Tahun Cerpen Riau

————————
Ahmad Ijazi Hasbullah lahir di Desa Tanjung Sari-Rengat, 25 Agustus 1988. Penulis pernah meraih beberapa penghargaan dibidang menulis, diantanya; Juara III sayembara penulisan cerita pusaka BM. Syam Award, yang diselenggarakan oleh Bandar Serai bekerjasama dengan Cecom Pekanbaru (2006), Juara II lomba karya tulis ilmiah Forum Komunikasi Pemuda Remaja Masjid dan Mushalla (FKPRMM) Pekanbaru (2007), Juara I lomba menulis cerpen islami KAMMI UIN Suska Pekanbaru (2007), Juara I lomba karya tulis memperingati hari ibu FS. Nuri UIN Suska Pekanbaru (2007), Juara I sayembara menulis cerpen islami Buletin A-Rroyyan, Universitas Riau (UR) Pekanbaru (2008), Fiksi pilihan sayembara cerpen forum kepenulisan Cikal Bakal UIN Suska Pekanbaru (2008), Juara II lomba resensi buku tingkat mahasiswa Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru (2008), nominasi pemenang penghargaan sayembara novel Anugerah Ganti Award se-Riau dengan novel “Metafora dan Alegori”, Pekanbaru (2008), Juara I lomba cerpen tingkat mahasiswa-umum se-Riau, Unversitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru (2009), Juara III lomba cerpen Bahana Mahasiswa Universitas Riau Pekanbaru (2009), dan Juara III lomba cerpen remaja Balai Bahasa Riau (2009). *

Baca : Cerpen Yulita Fitriana: Mentariku Redup Ditelan Senja

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]