CERPEN: Lelaki dan Sebuah Peci Tua

Ilustrasi

Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany *)

ANGIN malam menyapu surau kecil di ujung kampung dusun itu. Catnya sudah mengelupas, tapi suara azan Isya dari menaranya tak pernah sumbang.

Di dalam surau, Tok Hasan melipat sajadah dengan tangan yang gemetar. Usianya sudah menginjak 73 tahun, tapi tiap Maghrib dia selalu jadi orang pertama yang datang, dan paling akhir pulang.

Bagi Tok Hasan ada satu hal yang tak pernah lepas dari kepalanya, yakni peci hitam. Warnanya sudah pudar, pinggirannya terkoyak bekas digigit tikus, dan ada tambalan kain sarung di bagian belakang. Anak-anak muda sering berbisik dan tertawa apabila melihat Tok Hasan mengenakan peci itu.

“Peci museum, Tok. Ganti yang baru saja mengapa?”

Tok Hasan hanya tersenyum dan terdiam tak menjawab. Ia mengusap peci itu dengan lembut,- seolah-olah tengah mengusap kepala seorang bocah kecil.

***

Malam itu, secara mendadak surau Tok Hasan kedatangan tamu. Namanya Ihsan, 22 tahun, mahasiswa di perantauan yang baru pulang karena ayahnya meninggal dunia. Wajahnya keras, matanya merah bukan karena menahan tangis, melainkan amarah yang terpendam.

“Buat apa ibadah, Tok? Ayah aku saja rajin ke surau ini, tapi tetap kalah sama barah yang ia derita. Tuhan tak adil!”

Tok Hasan tak menjawab. Dia hanya melepas pecinya, meletakkannya di samping anak muda yang duduk di sudut surau itu.

“Pakai dulu peci ini. Akhir-akhir ini di surau ini udaranya sangat sejuk! Nanti kepalamu berembun!”

Ihsan mendengus memandang wajah Tok Hasan, tapi tetap mengenakan peci tua itu. Aneh. Bau yang menguar bukan apek, tapi bau kayu cendana bercampur keringat lama. Saat peci menyentuh kepalanya, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Bukan pusing, tapi seperti dipenuhi suara.

“Ihsan, bangunlah! Waktunya salat tahajud. Engkau mau jadi apa kalau subuh saja kesiangan?” sebuah suara lelaki terdengar berat dan tegas.

Ihsan terperanjat. “Tok, ini suara siapa?”

Tok Hasan menatap lantai. “Suara Abah Atok. Pemilik peci ini sebelumnya.”

Sejak itu, tiap Ihsan memakai peci, dia mendengar potongan-potongan hidup. Dia dengar tangis Abah Tok Hasan saat mengubur tiga anaknya karena kelaparan pada tahun 1965, tapi besoknya tetap mengajar ngaji dengan perut kosong. Dia juga mendengar suara Tok Hasan muda, umur 20, bersumpah di depan makam Abahnya:

“Peci ini saksi, Bah! Aku tak akan meninggalkan surau ini, meski aku cuma seorang penjaga!”

Tapi yang paling memilukan bukan itu. Suatu malam, saat Ihsan tertidur di surau dengan peci itu masih melekat di kepala, dia “melihat” kejadian 15 tahun lalu. Dia lihat dirinya sendiri, umur 7 tahun, rewel minta dibelikan peci baru untuk lomba 17-an. Ayahnya, yang saat itu masih sehat, hanya punya uang pas-pasan buat membeli beras.

“Pake peci Abah dulu, Nak. Yang penting bersih,” kata ayahnya.

Ihsan kecil mengamuk. Dia membanting peci tua milik ayahnya itu ke tanah becek, lalu menginjaknya.

“Peci jelek! Abah tak sayang padaku lagi! Abah miskin!”

Dalam ingatan itu, Ihsan melihat ayahnya terdiam. Tanpa marah, ayahnya cuma jongkok, mengambil peci yang berlumpur, mengelapnya dengan ujung sarung, lalu memakainya lagi sambil tersenyum pucat.

“Iya, Nak. Abah miskin. Tapi peci ini tak pernah bikin Abah tinggal salat.”

Malam itu juga ayahnya pergi, meminjam uang ke tetangga. Besoknya Ihsan dapat peci baru. Peci tua itu disimpan ayahnya diam-diam, dicuci, dijahit yang sobek, dan dipakai tiap ke surau sampai dia meninggal.

Ihsan terbangun dengan peci tua itu basah oleh air matanya. Dadanya sesak. Selama ini dia menyalahkan Tuhan atas kematian ayahnya, padahal ayahnya sudah lama “mati” tiap kali hatinya tersakiti. Dia marah karena merasa Tuhan tidak adil, tapi dialah yang tidak pernah adil pada cinta ayahnya.

***

Ihsan mencari Tok Hasan, ingin mengembalikan peci itu. Tapi surau kosong. Tok Hasan sudah wafat saat Subuh, di tempat yang sama, dengan posisi duduk bersandar di tiang. Wajahnya tenang. Dan di wasiatnya, cuma satu kalimat: “Peci untuk Ihsan. Biar dia tahu, iman itu diwariskan, bukan dari ceramah, tapi dari teladan yang tak banyak bicara. Dan maaf itu, nak, kadang harus diucap ke tanah.”

Kini Ihsan yang jadi penjaga surau. Pecinya masih peci yang sama. Tambalan kain sarung di belakang tetap dia pertahankan, karena itu bekas ayahnya menambal peci yang dulu dia injak.

Kalau ada anak muda tanya, “Bang, tak mau ganti peci yang baru?”

Ihsan cuma jawab sambil menatap nisan ayahnya dari jendela surau, “Ini bukan peci, Dik. Ini utang. Utang maaf yang tak akan pernah lunas.”

Dan setiap angin malam berhembus, dari surau kecil itu terdengar lagi suara azan. Tak pernah sumbang. Tak pernah telat. Tapi kini, di sela-sela azan itu, selalu ada isak yang ditahan dan kenangan yang selalu tersimpan. ***

——————–
*) Marzuli Ridwan Al-bantany, penulis novel Jalan Pulang. Kini selain aktif di Bawaslu Bengkalis, juga aktif di beberapa organisasi sosial dan kemasyarakatan, seperti di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Adat Melayau Riau (LAM-R), Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis. *

Baca: Kolak Labu Super Pedas

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews