Oleh: Daisy Rahmi
DIA dikenal sebagai Paman. Semua orang memanggil begitu dan tak ia permasalahkan. Tidak ada yang tahu nama aslinya atau asal-usulnya. Enam bulan lalu ia muncul dan menyewa rumah di ujung jalan. Meskipun latar belakangnya misterius, tak ada yang keberatan. Pria itu diterima dengan tangan terbuka.
Hari itu, seperti hari-hari yang lain, sekelompok bocah, lelaki dan perempuan, duduk berimpitan di lantai rumah yang tak seberapa luas. Duduk di antara dua kakaknya, Dewa menatap sosok di depan tak berkedip. Lelaki itu pandai bercerita. Tutur kata dan ekspresinya ketika bicara memukau para pendengar cilik itu. Kehadirannya dirasa sebagai berkah di desa yang minim hiburan.
Setengah jam kemudian ia mengakhiri kisahnya. “Sudah sore. Kalian pulanglah.”
Terdengar gumam kecewa di kerumunan. Semua anak tak rela cerita tersebut selesai.
Laki-laki itu tersenyum. “Kalian boleh datang lagi besok.”
“Untuk apa Paman pergi ke tempat-tempat itu?” tanya seorang anak.
Mendengar pertanyaan itu teman-temannya yang sudah siap bergerak pulang berhenti menunggu jawaban. Yang ditatap diam sesaat.
“Paman sedang mencari sepotong ujung pelangi.”
“Apa itu?”
Lelaki itu menggeleng.
“Tidak ada yang tahu sebelum menemukannya.”
“Bagaimana Paman menemukan sepotong ujung pelangi tanpa tahu wujudnya?”
Si lelaki menatap saksama bocah yang bertanya. Anak itu lebih tua dari yang lain. Ia juga terlihat lebih bersih. “Kau anak cerdas,” pujinya. Suara hati Paman yang akan memberitahu. “Kalian juga bisa memilikinya,” sambung laki-laki itu kepada para pendengarnya.
“Benarkah?” tanya anak lain. Matanya terbuka lebar.
Yang ditanya mengangguk.
***
“Akan kucari sepotong ujung pelangi nanti saat dewasa,” ucap seorang anak.
Sore hari itu tujuh anak laki-laki duduk berjuntai di cabang sebuah pohon yang menjorok ke sungai. Semua bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek. Meski pohon itu lumayan tinggi dan orang-orang dewasa selalu melarang mereka memanjatnya, bocah-bocah cilik itu tak peduli. Permainan favorit mereka adalah melompat ke sungai.
Didu yang bertubuh gempal mencemooh. “Sepotong ujung pelangi itu tidak ada. Paman mengarangnya.”
“Untuk apa Paman berbohong?” sergah kakak Dewa.
“Tentu saja karena Paman seorang pendongeng.”
“Seorang pendongeng bukan berarti seorang pembohong.”
“Benar …. benar ….”
Terdengar gumaman setuju. Dalam sekejap cabang pohon berubah jadi arena debat kusir. Anak-anak tersebut terpecah jadi dua kubu, masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya.
Beberapa saat kemudian Didu mengibaskan tangan, bosan. “Sudahlah. Siapa mau terjun duluan?”
Salah seorang dari mereka berdiri. Setelah mengambil ancang-ancang, dengan gerakan luwes ia melompat ke bawah.
Detik berikutnya anak itu sudah berada di permukaan sungai.
Beberapa kali kepalanya dibenamkan, air sungai menetes-netes dari rambutnya. Ia mengusap muka dengan gembira. Penuh semangat dilambaikannya tangan pada teman-temannya yang menanti di atas pohon. “Airnya enak. Dingin.”
Mendengar ucapannya, tanpa dikomando anak-anak yang lain serentak terjun ke sungai. Air sungai membuncah, menerima tubuh mereka secara bersamaan. Terdengar pekik jerit kegirangan.
Anak-anak berkejaran dan asyik bermain air. Hanya satu yang tinggal, tetap berdiri di cabang pohon sambil berpegangan di sebuah cabang. Sebagai yang termuda, Dewa tak berani mengikuti yang lain. Si sulung melihat adiknya berdiri terpaku di atas pohon. Tak sabar ia melambai. “Ayo, Dewa. Giliranmu.”
Dewa menggeleng. “Aku di sini saja.”
“Jangan jadi pengecut, Dewa,” omel kakaknya.
“Tutup matamu lalu lompat,” Didu ikut memberi semangat.
“Kamu pasti bisa,” seru yang lain.
Dewa memandang ke bawah, ragu-ragu. Sungai tampak sangat jauh dari tempatnya berdiri. Ia ngeri.
Di bawah teriakan-teriakan memberi semangat bersahutan.
Bocah tersebut menutup mata. Usai menarik napas panjang, diberanikannya telapak kaki meninggalkan pijakan. Matanya baru terbuka setelah dingin air sungai menyentuh tubuh. Kedua kakak Dewa mengacak rambut adik mereka. Dewa memandang pohon tempatnya berdiri sedetik lalu dengan bangga. Rasanya ia bagai telah menaklukkan dunia.
***
Suatu hari, sepulang sekolah, Dewa bersama dua kakaknya dan beberapa anak lain pergi ke rumah si lelaki. Mendadak langkah mereka terhenti. Anak-anak itu tertegun. Dari pintu depan yang terbuka terlihat dia sedang berkemas, memasukkan barang-barang ke tas besar. Merasa diperhatikan, pria itu berpaling. Disapanya kerumunan anak di ambang pintu.
“Datang untuk mendengar cerita? Sayang sekali.”
“Paman mau pergi?”
“Ya.”
“Mencari sepotong ujung pelangi?”
Laki-laki yang ditanya tak menjawab. Sesaat berselang senyumnya muncul.
“Panggil teman-teman kalian. Paman akan bercerita sebagai hadiah perpisahan.”
Anak-anak itu berpandangan lalu mengangguk semangat. “Kupanggil Budi dan yang lain.”
“Siti dan Maesaroh juga.”
Mereka berpencar dan datang kembali setengah jam kemudian bersama belasan anak.
Semua masuk ke rumah. Laki-laki itu mulai bercerita, berdiri di hadapan para pendengar yang duduk berdesakan di lantai. Ia bercerita lebih lama dari biasa, kisahnya baru berakhir menjelang senja.
Disampirkannya tali tas ke bahu sebelum berjalan keluar. Puluhan anak mengikuti dari belakang.
“Paman pergi sekarang.”
“Ke mana Paman pergi?”
“Ke mana saja kaki Paman melangkah.”
“Paman akan kembali ke sini?”
“Tidak.”
Dewa yang sedari tadi tak bicara, maju dan melingkarkan kedua tangan ke pinggang pria di depan yang awalnya terkejut lalu balas memeluk. Usai Dewa melepas rangkulannya, anak-anak lain bergiliran melakukan hal yang sama. Laki-laki itu terharu.
“Selamat tinggal, Anak-anak. Carilah sepotong ujung pelangi kalian sendiri setelah kalian dewasa.”
Bocah-bocah itu memandang si lelaki melangkah pergi sampai sosoknya tidak lagi terlihat sebelum membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing.
***
Tiga belas tahun kemudian Dewa meninggalkan rumah untuk mencari sepotong ujung pelanginya.
Pagi itu Dewa bangun lebih awal dari biasa. Untuk sesaat ia bergeming, berbaring diam di tempat tidur mendengarkan napas pelan dan teratur perempuan tua yang tertidur nyenyak di sampingnya. Dewa menyibakkan selimut. Dalam keadaan polos tanpa dibalut sehelai benang pun, ia bangkit dan menuju jendela. Mobil-mobil di jalan tampak seperti mainan dilihat dari apartemennya di lantai 15.
Sudah enam tahun lebih ia pergi dari kampung halaman, menjauhkan diri dari keluarga dan teman-temannya. Tak pernah terbersit keinginan untuk menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran, meski hanya untuk berlibur. Untuk apa pulang? Untuk apa mengenang masa lalu yang bergumul dengan kemiskinan? Uang yang dikirimnya setiap bulan sudah lebih dari cukup.
Dewa memandang tubuh yang tergolek di ranjang. Selimut menutupi tubuhnya sebatas dada, rambut yang telah berwarna dua tergerai di bantal. Perempuan tua itu memiringkan tubuh, memunggungi Dewa. Wanita tua tersebut pasti puas, mungkin saat ini ia sedang bermimpi indah.
Bayangan seseorang dari masa lalu berkelebat di depan mata Dewa.
Anak muda itu meringis. Hatinya nyeri.
Napas berembus dari mulut. Nyeri yang dirasakan tak kunjung reda. Tatapannya terarah ke jam dinding. Pukul 04.15. Mungkin ia perlu berolah raga sebentar. Pemuda tersebut membuka lemari pakaian lalu mengenakan setelan training. Setelah memakai sepatu kets serta menulis pesan untuk wanita tua yang masih tidur pulas, Dewa berjalan ke lift.
Beberapa tahun lalu seorang kenalan menawarkan pekerjaan ketika dirinya di titik nadir. Walau tak pernah menyesal, setelah menjalani sekian lama pemuda itu merasa jenuh. Bukan ini yang diangankannya waktu meninggalkan rumah. Di saat yang sama bayangan limpahan materi yang tidak bisa lagi dinikmati memupus habis keinginan untuk berhenti.
Pintu lift terbuka begitu tiba di lantai dasar. Dewa keluar dari gedung apartemen. Ia menengadah memandangi langit yang kelam, segelap masa depannya. ***
———————–
Daisy Rahmi lahir di Manado, 30 April 1976. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya: Kepak Sayap Merpati (Alinea Publishing, 2022). Antologi: Musim Bahagia (Gigih Mandiri Pustaka, 2022), Yang Tak Diketahui (Alinea Publishing, 2022), Kembalinya Imam Surau (Phoinex Publisher, 2022). Kini ia tinggal di Jakarta. *
Baca: Jembatan






