Puisi-puisi Karya Mohd Adid Ab Rahman, Melaka (Bag.7)

Demi Cinta Paling Murni

Senada nuansa langit, tak cerah selalu
hati insan sekali waktu kelabu sekali waktu putih
selembut bayu membelai dan menyejukkan
amukan bimbang nanti angan tak kesampaian
kenyataan tak sejalan perancangan

Janji kau dengar semanis apapun belum tentu jadi
sebab setiap manusia tidak semua jujur
sanggup mengunyah daging saudara sendiri
demi kantung dan perut berisi
kecuali beberapa orang mampu bertahan
enggan langgar hukum
timbang-timbang, kawan
sebelum cenderung percaya

Masanya kini kita teguhkan iman
di tengah zaman kian keras dan mencabar
istiqamah laksanakan perintah Allah
kenal lelah, jemu dan lupa tidak sekali-kali
demi cinta paling murni
cinta tak mati-mati

Melaka, Malaysia, 23 Agustus 2022

Kesendirian

Agaknya sudah jadi hukum setiap sepi
di sudut hati terlintas gambaran hari-hari suram semalam
seperti kegembiraan terkoyak oleh sebuah tragedi
mendadak orang tersayang lepasi garis hidup
tanda kasih doapun dilepaskan
insan pujaan dalam dekap-Nya tanpa hujung

Mata sukar terpejam
sepanjang malam berselimutkan gerah
seperti seorang ibu menjaga anak gering
mengingatkan selalulah berbuat baik kepada siapa pun
dan jangan sekali-kali menyakiti
sebab bila lebih dulu mereka pergi
niscaya penyesalan tidak lagi menguntungkan

Kesendirian sesuai berintrospeksi diri
perjalanan di jalur kemarin dalam kewajarankah atau cela
ibadah dinukilkan benarkah sempurna lagi diterima?
hulurkan cahaya dan kekuatan, Tuhan
untuk mendaki sebuah keberhasilan
rindunya akhirku di jurusan keredhaan-Mu

Melaka, Malaysia, 21 Agustus 2022

Zaman Kini sudah Rancu dan Cedera

Zaman kini sudah rancu dan cedera
rasakan udara penuh debu membingkas
asap kelabu dari kenderaan, kilang kadang hutan berapi
semua sepakat menyekat saluran nafas
tak mustahil singkatkan hayat

Persahabatan antara sesama meruntuh jambatan
saling menggelar keegoan
sengketa cetuskan perang
bumi bertukar merah dek tumpah darah
suasana damai berkecai lerai

Lalu pelbagai petaka dilepaskan di tengah-tengah kita
banjir ngeri, laut meluap, kemarau mengeringkan pohon-pohon
jutaan virus mematikan menyerang tak terhadang
agaknya sebuah teguran
agar semua tak sewenang-wenang memperlaku alam
mengikut hawa nafsu
tapi dengan aman jalankan amanah sejujurnya
tidak lagi alpa di pentas kehidupan songsang
kembali mengingati Tuhan
dari-Nya datang dan kembali setelah tiba waktu
mengikut persis jadual tertentu

Melaka, Malaysia, 20 Agustus 2022

———————–

Mohd Adid Ab Rahman bermukim di Melaka, Malaysia. Pernah menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Banda Aceh dalam bidang Dakwah dan UTM, Skudai, Johor (Universiti Teknologi Malaysia) Seorang pesara guru KPM (Kementerian Pendidikan Malaysia) mulai tahun 2022. Berminat dalam bidang puisi sejak masih belajar di sekolah dan sekarang menjadi ahli Ikatan Persuratan Melayu Melaka. Puisi-puisi pernah muncul di Berita Harian, Utusan Borneo, Harian Ekspres, Mingguan Malaysia, majalah Dewan Sastera, Tamadun Islam, Wanita dan lain-lain. Majalah online seperti LamanRiau.com, PotretOnlinecom, Kosana.my.id., sksp-literary.com, Sabah360 online, Suarakrajan online dan Riausastra.com. Sudah mempunyai puluhan antologi bersama di antaranya Antologi C Antagonis (ASWARA 2020) Bahtera Merdeka (Tinta Karya 2020) Pasrah (PTK 2020) Citra Yang Tak Padam (Narangkai Publications 2021) Sejernih Embun (KS 2021), Menjunjung Langit (Pena Padu 2022) Tangisan Tengkujuh (Pena Padu 2022). *

Baca : Puisi-puisi Karya Mohd Adid Ab Rahman, Melaka (Bag.6)

*** Laman Puisi terbit setiap hari Minggu. Secara bergantian menaikkan puisi terjemahan, puisi kontemporer nusantara, puisi klasik, dan kembali ke puisi kontemporer dunia Melayu. Silakan mengirim puisi pribadi, serta puisi terjemahan dan klasik dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] [redaksi]