Cerpen Maulana Satrya Sinaga: Dua Lembar Jilbab buat Aisyah

DIA adalah Aisyah. Wanita penyejuk cuaca dengan raut wajah di segala musim. Berdiri kokoh dengan iman dan takwa, diantara angin yang kian hari membawa dosa. Dia adalah Aisyah wanita dalam balutan jilbab suci, penawar hati. Lambang wanita yang jauh dari gemerlap dan fatamorgana dunia. Dialah Aisyah.

***

Senja baru saja sampai di ufuk barat, begitu juga aku. Sampai di bandara ini. Aku masih mengedarkan pandangan mencari seseorang yang katanya akan menjemput. Tapi, belum juga tertangkap oleh mataku.

Waktu berselang. Tampak sebuah taksi berhenti. Pintu terbuka dan seseorang keluar. Hatiku sedikit lega. Akhirnya, Irwan—anak dari bibiku—berlari dan langsung erat merangkulku.

“Lama kali awaktu tak pulang?”

“Iya. Wan, saya kan sudah terikat kontrak kerja”

“Kalau tak salah sudah empat tahun awaktu di Jepang.” katanya sambil melepaskan rangkulan rindunya.

“Benar Wan, bagimana kabarmu dan keluarga kita di sana sehat?”

“Alhamdulillah, awak dan keluarga disini sehat. Mari Fathir kita pulang,” bujuknya dengan senyum.

Tidak banyak juga yang berubah dari kota ini hanya bangunan ruko-ruko menjamur menghiasi pinggiran jalan sepanjang mata memandang.

“Awaktu kerja dimana,” Irwan mulai membuka suara.

“Di M.C Kinley, di Kawasaki industri saya buat tangki sepeda motor”

“Berapa jam awaktu dari Jepang kemari? nampak kali letihnya”

“Dari Bandara Narita Jepang saya menempuh perjalanan delapan jam ke Jakarta dan dari Jakarta ke Medan dua jam. Untung selamat dari delay

“Pantaslah awaktu nampak capek, bagaimana Thir, enaknya di kampung orang? awaktu tinggal dimana rupanya?”

“Kadang ada enaknya kadang ada susahnya. Saya tinggal di Azeria Haitsu Apartement di Jalan Shizuoka Ken Hamamatsu Shihousoe Chomiwa 115 Banchi no 7 Koopo Sachi 203900, kalau dari apartement tempat saya tinggal menuju tempat kerja hanya sepuluh menit naik sepeda. Jarang ada yang naik sepeda motor seperti di sini. Padahal negara tempat saya bekerja penghasil sepeda motor. Tapi Wan, susahnya kalau salat Jum`at, bisa satu jam lebih kalau naik sepeda ke masjid, karena jarak antara apartement ke jalan itu satu jam, nggak kayak di sini Wan”

“Oh, kalau boleh tau gaji awaktu berapa rupanya, kan bisa beli kereta buat ke masjid”

“Gaji saya seratus lima puluh ribu yen atau setara kurang lebih dua belas juta rupiah. Saya rasa tak cukuplah Wan. Belum lagi ngirim buat ibu saya di sini”

Memang kalau dibandingkan dengan negara ini, gaji yang aku peroleh cukup bisa dibilang besar, tapi biaya hidup di kota Jepang juga tinggi, begitupun masih sempat aku arrubaito (kerja sampingan) di salah satu hon ya (toko buku) di kota Hamamatsu provinsi Shizuoka tempat aku bekerja. dan sebahagian hasilnya aku tabung dan sebahagian lainnya aku kirim ke kampung. Dan kini kedua orang tuaku telah mempunyai wartel dan toko grosir sendiri.

Tiga belas jam perjalanan dari Jepang-Medan, benar-benar melelahkan. Kini taksi merubah haluan, tidak melewati bundaran seperti yang aku tahu. Bundaran dengan air terjun, di tengahnya terdapat jam tua dengan simbol salah satu surat kabar. Kini, taksi melewati jalanan kecil di samping kantor pos. Di sinilah titik nol kota Medan dihitung, empat puluh kilometer lagi sampai ke kampung halamanku.

Ada unjuk rasa ternyata. Para mahasiswa dengan spanduk-spanduk, menghias tamantaman kota. Lengkap dengan ban-ban terbakar : Menentang kenaikan BBM.

Aku heran. Kalau tidak salah baru setengah tahun yang lalu BBM di negeri ini naik dan kali ini naik lagi. Pantas saja mahasiswa-mahasiswa itu tidak setuju. Tapi aku pikir lebih baik mereka—mahasiswa-mahasiswa—menggunakan waktunya untuk mendalami ilmu dan membantu cara kerja sistem negeri ini, untuk mengolah minyak buminya sendiri. Tanpa harus meminta bantuan orang asing yang punya otak lebih. Tapi, kalau dipikir-pikir banyak juga orang Indonesia yang jenius, tapi mereka tidak di negeri ini untuk membantu mengolah sumber daya alam yang melimpah ruah. Kenapa tidak mau membantu negeri ini. Alasannya mungkin mereka memilih penghidupan yang lebih layak dan dihargai dengan otak mereka yang layak, dengan gaji yang berkali-kali lipat dari gaji yang di berikan oleh negeri ini. Wajar saja aku pikir.

Persimpangan lampu merah. Udara keruh. Telah berkembang sangat pesat rupanya sepeda motor di kota ini. Aku senyum miris sendiri. Di tempat aku bekerjalah kendaraan-kendaran itu dibuat, tapi kami memakai sepeda saat pergi kerja. Kami sadar polusi sangat berpengaruh bagi pernafasan dan sel-sel otak. Sangat berbeda.

Kaca mobil tumpangan kami diketuk. Alunan lagu dari gitar kecil (ukulele) dan kerincing di sebilah kayu dengan tutup-tutup minuman ringan terpaku di sana. Wajah-wajah lugu seperti ini harus mengorbankan masa depannya dan bertarung dengan kekejaman zaman. Tidak tega aku melihatnya. Toh, mereka telah dipelihara negara meskipun aku lupa pasal dan ayat berapa.

Jadi mereka ini anak bangsa. Tapi sering juga mereka diperjualbelikan di luar negeri. Aku bergumam dalam hati apakah setelah empat tahun aku pergi, pasal dan ayat itu masih berlaku. Mudah-mudahan saja do`aku.

Tapi beginilah hidup. Tanpa kerja keras dan semangat, pasti kita akan tertinggal dan tergilas peradaban.

Aku mengambil selembar uang lima puluh ribuan. Memberikannya kepada dua anak kecil itu. Mereka terlihat girang, berlari lalu hilang di bawah selangkangan gedung-gedung kota.

Senja mulai terapung. Perlahan, kelam mulai menjilati pesisir-pesisir awan berwarna emas. Senja tersudut di ufuk barat. Saat alunan adzan maghrib menyeru ke setiap sudut-sudut pelosok legam. Bersamaan juga kami sampai di tempat ini. Sebuah lingkungan yang jauh dari polusi. Bukannya desa, tapi masih dalam satu wilayah kodia. Udara di sini masih sejuk dan banyak ditumbuhi pohon-pohon nyiur dan sawit. Kami membuka pintu taksi dan turun di salah satu masjid yang berada di daerah ini. Aku tidak mau menyiakan suara surga yang disampaikan oleh Muadzin, meskipun sekitar enam ratus meter lagi aku sampai di rumah, tempat tinggalku.

Argo taksi melambangkan empat ratus dua puluh ribu rupiah. Sebelum Irwan lebih cepat mengeluarkan tangan. Langsung saja aku mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah dan membayarnya. Kembaliannya aku ikhlaskan. Supir taksi pun pergi setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Kami bergerak cepat, bergegas mengambil air wudhu, karena Imam telah mentakbirkan rakaat pertama.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” salam penutup imam dua kali.

Zikir dan doa telah kami hatamkan dan setelah itu bersalaman. Kontan saja canda pecah, rangkulan dan beribu pertanyaan disuguhkan kepadaku. Teman sepermainan, sanak family bahkan saudara. Mereka berebut menyuguhkan pertanyaan.

Akhirnya aku keluar, setelah menjawab berbagai pertanyaan mereka meski belum sepenuhnya terjawab. Kaligrafi dengan cat kuning masih tetap di ambang pintu, sebaris ayat dengan arti: shalat lebih baik daripada tidur. Aku mengangkat ransel yang berisi pakaian-pakaian untuk sanak famili.

Tampak Irwan sedang menggendong anak. Aku mulai menyungging senyum. Irwan sedang bercanda dengan mengesek-gesekkan hidung di pipi anak yang kira-kira berumur 3 tahun, tentu saja mirip dengannya, tapi lebih cantik, putih dan berambut lurus. Tidak seperti kulit Irwan yang hitam, juga berambut keriting. Tapi, kenapa kabar pernikahan dia tidak aku dengar.

Aku tertatih-tatih melangkah membawa ransel yang lumayan berat. Tiba-tiba ransel itu jatuh. Mungkin aku terlalu lelah setelah empat belas jam perjalanan. Seseorang membantuku, mencoba mengangkat ransel. Tapi pasti saja dia tidak kuat. Dia masih mencoba. Wanita dengan mukenah, yang aku duga baru saja siap salat dari masjid ini. Dia masih tertunduk.

“Terima kasih mbak sudah mau membantu, tapi ransel itu memang berat. Biar saya saja yang mengangkatnya”

Akhirnya dia mulai melepaskan pegangan ransel, mulai mengangkat wajah. Perlahan aku mulai melihat bibirnya yang tipis hidung mancungnya dan gerimis di matanya. Butiran tangis jatuh. Dia menatapku, gerimis makin lebat di wajahnya, perlahan aku mencoba menangkap raut wajah itu. Tangisan yang sepertinya tertahan selama empat tahun dari seorang wanita.

“Aisyah” pekikku tertahan.

***

Wanita itu sedang bermain dengan hujan, meski berkali-kali jeritan dari ibunya seperti suara guntur yang jatuh di telinga, tidak dihiraukannya. Dia terus tertawa, menengadahkan wajah ke arah langit. Menatap ujung gerimis. Dia terus berlari berkejaran dengan jentik hujan berbicara pada pohon yang basah atau sesekali bercanda pada angin yang dingin.

Aku melihatnya dari sela jendela. Rumahnya berhadapan dengan rumahku. Hanya di pisahkan jalan dan taman-taman di teras rumah. Ingin rasanya aku turut. Berenang pada hamparan hujan yang luas. Sekarang dia sedang berkejaran dengan ummi-begitu dia memanggil ibunya. Akhirnya dia tertangkap. Permainannya dengan hujan selesai.

Dia anak baru di kota ini. Juga anak baru di sekolahku. Satu-satunya sekolah SMA Negeri yang bersantadar internasional di kota ini. Entah kenapa aku terlalu sering memperhatikan wajahnya. Serasa ada keteduhan yang menjalar.

Aku masih ingat, saat dia memperkenalkan dirinya dengan gagap, dan terbata-bata dia menyebutkan nama. Kontan saja satu kelas tertawa, tapi Irwan—sepepuku—membela. Entah kenapa rasa cemburu hadir padaku. Dia hanya tersenyum saat Irwan membelanya.

Hari mulai berganti. Dia sudah mulai akrab dengan teman-teman yang lain. Terlebih pada Irwan. Dia mencoba tersenyum dan akrab padaku, terlebih aku menjabat sebagai Ketua Osis di sekolah. Aku hanya tersenyum hambar kepadanya. Andai saja waktu itu aku yang berbicara seperti Irwan. Tapi aku berfikir mengapa bibit cemburu harus aku tanam. Dia bukan siapa-siapaku dan aku juga bukan siapa-siapanya. Aneh, rasa apa ini.

Kemesraan Irwan dan Aisyah pun semakin lengkap. Apalagi sekarang Irwan setia mengantar-jemput Aisyah. Masih saja perasaan cemburu ini tidak pernah lekang.

Makin teduh saja aku memandang wajahnya. Jilbab yang terus dikenakannya tak pernah henti memancarkan kesejukan. Tak pernah lekang juga dari wajahnya. Bahkan saat dia bermain dengan hujan sekalipun.

Hingga pada suatu hari. Teman sekelasku yang terkenal jahil. Mencoba membuka jilbab yang dikenakannya. Ingin melihat rambutnya yang belum pernah terlihat dengan penuh misteri mereka membukanya. Tapi dengan paksa dia mencoba mempertahankan keagungannya sebagai wanita. Akhirnya aku ikut juga bertindak. Melindunginya dan perkelahianpun tak terhindarkan dengan mereka. Meski aku kalah dan lumayan babak belur. Wajar saja. Karena lawanku tiga orang.

Tapi setelah itu mereka pun menjauh dan enggan meneruskan menyelidiki rambut Aisyah yang belum pernah dilihat oleh satu orang pun di sekolah ini. Dia menangis, sambil tangannya terus membersihkan darah pada keningku. Aku tersenyum. Kemudian dia bertanya. Apakah ada yang salah pada dirinya, hingga aku begitu tak memperdulikannya. Jujur. Aku jawab bahwa aku cemburu melihat dirinya begitu akrab pada sepupuku. Langsung saja aku utarakan perasaan yang memang telah lama berkarat di jantungku.

Lama dia terdiam. Juga aku. Mulai dia menggangkat suara.

“Sebenarnya aku dan Irwan hanya teman biasa. Sejak dulu aku memiliki perasan yang aneh, perasaan suka padamu. Aku juga memang mencintaimu. Sejak lama. Sejak pertama kali bertemu. Tapi aku mempunyai prinsip. Bahwa pacaran itu ada setelah menikah, jadi aku menerimamu sebagai kekasihku, tapi bukan untuk pacarku. Aku mau menjadikan dirimu pacarku, tapi setelah kita menikah nanti. Itu janjiku padamu,” jawabnya setelah tangis sedikit mereda dari wajahnya.

Sejak itulah aku mulai akrab dengannya tertawa dan memainkan hujan bersama. Aku melihat seutas cemburu yang mereda. Hingga akhirnya, akupun memilih meninggalkan negeri ini dan dirinya untuk menyambung hidup ke Jepang. Dia hantar kepergianku dengan senyuman. dan lambaian jilbabnya.

***

Dia masih menangis. Aku hanya tersenyum melihatnya. Lama aku memandang butiran bening di wajahnya. Agar rasa lelah ini sedikit berkurang.

“Aisyah, lama kita tidak berjumpa. Sudahlah hentikan tangismu,” bujukku.

“Maaf, aku bukan Aisyah yang dulu,” katanya terbata masih dengan gerimis yang belum reda.

“Maksudmu?” tanyaku heran.

Irwan mulai datang menghampiriku dengan menggendong anak kecil yang menggamit-gamit tangannya ke arah Aisyah.

“Ummi”

Aisyah mengendongnya. Mengambil dari rangkulan Irwan.

“Jadi, ini anak kalian berdua? mengapa tidak mengundangku dulu,” tanyaku lirih. Aku rasa suaraku tersendat di kerongkongan dengan seribu jarum yang bargantian menusuk ulu hati.

“Maaf, Thir Bukan Begitu,” sekarang Irwan yang mulai mencoba menjelaskan. Sedangkan Aisyah makin lebat saja meneteskan gerimis.

“Jadi, apa maksud kalian?”

“Aku terpaksa menikahi Aisyah. Aku tahu hubungan kalian sebenarnya. Aku tahu. Aku juga tahu janji kalian. Aku tidak mungkin mengkhianati sepupuku sendiri”

“Lantas!” nadaku kian meninggi sekarang. Entah karena sedih ini makin menyayat dan tertahan di kerongkongan.

“Aku hamil di luar nikah,” Aisyah sekarang membuka suara. Sejenak kami diam, Aisyah juga sedari tadi menutup mulutnya untuk menahan tangis. Aku masih terkejut tak percaya.

“Benar, Aisyah hamil di luar nikah, dia diperkosa oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan demi menutup aibnya akulah yang bertanggung jawab,” ucap Irwan datar.

Ini semua salahku, aku terhasut oleh teman-teman yang menyuruhku untuk sekali saja tidak menggunakan jilbab karena mereka pikir aku lebih cantik kalau tidak menggunakan jilbab, tapi mereka salah dan akhirnya..” tangisnya makin menjadi dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya yang aku rasa sangat perih untuk diceritakan. Anaknya mulai merengek serasa dia pun ingin mengeluhkan siapa bapaknya.

“Maafkan awak Thir, tidak mengundangmu di pesta pernikahan kami dulu. Awak takut awaktu akan sangat marah kepada kami tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya”

Aku masih diam mencoba menghembuskan nafas perlahan. Entahlah, sedikit butiran tangis rupanya sudah hadir di pipiku.

Aku menunduk membuka ransel dan mengambil sehelai jilbab putih yang aku beli di depan salah satu masjid yang ada di Jepang.

“Ini untukmu, Tapi kamu baru bisa memakainya setelah kamu besar, rencananya Paman mau memberikan ini kepada Ummi kamu, tapi buat kamu juga nggak apa-apa. Oh ya siapa namanya?”Aku memberikannya kepada anak Aisyah dan mungkin anak Irwan juga sekarang.

“Aisyah om”jawabnya lugu.

Aku sedikit terkejut nama yang sama seperti ibunya atau Aisyah sengaja memberikan nama yang sama dengan namanya agar tidak sia-sia jilbab yang dia titip kepadaku sebelum pergi.

“Maafkan aku mengingkari janjimu, Thir, aku tidak menyangka kalau semuanya ditakdirkan seperti ini..” kembali Aisyah membuka suara pedihnya.

Aku mulai melangkah, dengan suatu ketidakpercayaan yang aku hadapi. Tampak dari luar masjid. Irwan menenangkan Aisyah merangkul dan memeluknya erat.

Aku hanya bisa tersenyum di antara penantian, janji dan sedih yang tak berujung. Aku mencoba mengikhlaskan kejadian ini. Meski berat dan perlu waktu.

Kembali aku melangkah untuk menemui satu Aisyah lagi, dan diranselku telah tersedia juga satu jilbab untuknya. Aisyah yang selalu mencemaskanku. Menanti, berharap dan berdoa akan keselamatanku. Aisyah yang sejak kecil menyayangiku dan akupun menyayanginya lebih dari Aisyah-aisyah lain. Aisyah: Ibuku. ***

Medan, Juni 2008

—————-
Maulana Satrya Sinaga. Lahir di Medan, 04 Januari 1989. Alumni SMK Negeri 4 Medan Beralamat di Jln Danau Siombak No 41 Medan Marelan. Karya-Karyanya dimuat di surat kabar terbitan Medan. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Medan, email: [email protected] *

Baca : Cerpen Katarina Retno Triwidayati: Melukis Langit

Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews