Pengunjung Diprediksi Meningkat, Begini Skema Penanganan Sampah Pacu Jalur di Tepian Narosa

Deflides Gusni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuantan Singingi.

LAMANRIAU.COM, TELUKKUANTAN – Festival Pacu Jalur Tradisional 2025 di Tepian Narosa Telukkuantan akan digelar pada 20-24 Agustus mendatang. Jumlah pengunjung yang akan datang menyaksikan secara langsung helat akbar kebudayaan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) tahun ini diprediksi akan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Ini sehubungan dengan viralnya gaya tarian Rayyan Arkan Dikha bocah tukang tari jalur yang dijuluki ‘aura farming’ yang mencuri perhatian dunia.

Dengan meningkatnya jumlah pengunjung ke Telukkuantan pada saat berlangsungnya event ini nantinya, baik dari kabupaten/kota lainnya di Provinsi Riau, provinsi tetangga, atau bahkan wisatawan dari mancanegara, sudah barang tentu jumlah sampah yang dihasilkan pun akan meningkat pula nantinya.

Dalam bincang-bincangnya dengan LamanRiau.com, Rabu 16 Juli 2025 di ruang kerjanya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuansing Deflides Gusni, SP, MSi, memaparkan bagaimana penanganan sampah yang akan dilakukan pihaknya nantinya. Baik pada saat berlangsungnya pacu jalur, maupun setelah ditutupnya helat akbar ini nantinya. Ia bertekad akan berupaya semaksimal mungkin mewujudkan pacu jalur minim sampah.

“Kita memprediksi jumlah pengunjung pacu jalur tahun 2025 ini di Tepian Narosa akan lebih banyak. Asumsinya dengan hitungan 500.000 pengunjung perhari saja, dikali indeks setiap orang itu menghasilkan sampah 0,4 Kg. Kita memprediksi lebih dari 1.000 ton akan terjadi timbulan sampah selama pelaksanaan event pacu jalur ini. Sampah-sampah ini, ada yang di darat di ibukota (Telukkuantan, red) ini, dan ada yang di aliran sungai,” ujarnya.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan pihaknya terhadap Inovasi Pacu Jalur Minim Sampah dua tahun terakhir ini yakni pacu jalur 2023 dan pacu jalur 2024, menurut Deflides, kelemahannya ada di penanganan sampah yang berada di aliran sungai. Adapun kendalanya yang dihadapi, pertama alat-alat dan sarana prasarana untuk di aliran sungai itu yang memang dari sisi penganggaran belum punya.

“Yang kita butuhkan itu minimal ada bot, yang jumlahnya sekitar lima unit. Di dalam masing-masing bot itu ada dua atau tiga pekerja yang standby. Kemudian, alat yang digunakan adalah jaring atau tangguk. Pekerja itu akan dibagi per-shift. Jadi kita juga akan fokus di aliran sungai itu,” ujarnya.

Pihaknya, kata Deflides, akan melakukan pelayanan sampah itu selama 24 jam. Untuk itu, pekerja akan dibagi menjadi empat shift. Shift I adalah shift pagi dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, sejumlah 40 orang (sudah termasuk supir dan tenaga lainnya). Shift II dari pukul 12.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB, juga berjumlah 40 orang. Kemudian shift III dari pukul 18.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB, itu ada 70 orang. Terakhir shift IV dari pukul 24.00 WIB sampai subuh, itu juga ada 70 orang.

Pihaknya, kata Deflides, juga melakukan koordinasi dengan Camat Kuantan Tengah, dengan seluruh lurah yang ada di Kuantan Tengah, yakni Lurah Pasar, Lurah Simpang Tiga, serta Lurah Sungai Jering. Begitu juga pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak desa yang pengunjung itu berada di desa-desa tersebut. Antara lain Desa Seberang Taluk, Desa Koto Taluk, Desa Beringin, Desa Sawah, serta Desa Pulau Aro.

Koordinasi ini dibutuhkan guna memastikan di desa-desa atau di kelurahan-kelurahan tersebut jika terjadi tumpukan sampah yang tidak tertangani, pihak desa atau kelurahan tersebut minimal mengkoordinasikan ini ke posko. Akan ada posko juga nanti di Taman Jalur, di Tugu Air Mancur, nama poskonya Posko Pacu Jalur.

Deflides juga menyebut upaya-upaya lainnya yang dilakukan pihaknya dalam mewujudkan minim sampah pacu jalur ini, yakni dengan menggandeng beberapa komunitas pencinta lingkungan, seperti KPK (Komunitas Peduli Kuansing), kemudian ada kelompok Educita dari Gunung Toar, serta kelompok Elang Pulau dari Pangean.

Termasuk juga nanti setelah penutupan pacu jalur, walaupun sampah sudah dilakukan penanganan selama event pacu jalur, tetapi diprediksi masih akan banyak sampah yang tertinggal. Supaya sampah ini bisa dituntaskan cepat, melalui surat bupati selaku pimpinan daerah, akan dimintakan perwakilan masing-masing sekolah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta beberapa pemangku kepentingan lainnya untuk bersama-sama bergotong-royong, membersihkan sisa-sisa sampah yang tertinggal.

“Kita harapkan dengan skema yang ada, dua hari pasca penutupan pacu jalur, sampah tuntas di ibu kota (Telukkuantan), sehingga kota tidak berbau. Kembali kita bisa hidup dengan sehat, normal,” ujarnya.

Pihaknya, lanjut Deflides, juga melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagrin), terkait dengan penertiban pedagang (lapak). Soalnya, jika lapak itu sampai berserakan, menumpuk di mana-mana, sampah pun tak bisa keluar. “Jangankan lagi orang, sampah pun tak bisa keluar. Makanya, perlu dilakukan koordinasi bersama ini,” ujarnya.

Pihaknya, menurut Deflides, juga akan melakukan koordinasi dengan Satpol PP. Produk hukum daerah baik itu Perbup maupun Perda, Satpol PP yang bisa mengeksekusi di lapangan peraturan itu. “Tak mungkin dinas teknisnya. Ini perlu juga koordinasi dengan Satpol PP ini,” jelasnya.

Dinas lainnya yang juga akan dilakukan koordinasi, lanjut Deflides, yakni Dinas Perhubungan. Ini terkait dengan pengaturan parkir. Seandainya ini semua berjalan sesuai dengan tugas dan kewenangan, Deflides yakin pacu jalur ini bisa tertib dan bersih.

Ini tentu kami mohon dukungan dari teman-teman media, untuk mengedukasi masyarakat juga, untuk juga menyampaikan masukan. Tentu kita berharap siapa pun yang datang berkunjung nanti pada saat pelaksanaan event pacu jalur tradisional di Tepian Narosa itu pada tanggal 20-24 Agustus 2025, menimbulkan kesan yang positif terhadap Kuantan Singingi, khususnya ibu kota Telukkuantan,” ulasnya. (shr)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews