Sinergi Tiga Pilar: Akademisi, Desa, dan Masyarakat Adat Gali Potensi Hutan Ghimbo Bonca Lida lewat Riset

Tim Peneliti dari Universitas Riau bersama pemerintah desa dan masyarakat adat menyelenggarakan diskusi menggali potensi Hutan Adat Ghimbo Bonca Lida.

LAMANRIAU.COM, KAMPAR – Tim Peneliti dari Universitas Riau menyelenggarakan diskusi terfokus pada Selasa 26 Agustus 2025 di Kantor Desa Kampa, untuk menggali potensi Hutan Adat Ghimbo Bonca Lida.

Hutan seluas 100,8 hektar di Desa Kampa, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar ini telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Kampar Nomor 660-328/IV/2019.

Dalam diskusi, hadir sekitar 15 peserta yang mewakili Pemerintah Desa Kampa, tokoh masyarakat adat, akademisi, dan mahasiswa membahas langkah konkrit pemberdayaan masyarakat berkelanjutan berbasis hutan adat.

Riset ini didanai DPPM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun anggaran 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Desa Kampa, yang akrab disapa Bu Pipit mewakili Pemerintah Desa memaparkan kondisi terkini Hutan Adat Ghimbo Bonca Lida.

“Hutan kami ini merupakan kawasan konservasi primer yang masih sangat terjaga. Pemerintah desa sepenuhnya mendukung upaya pemeliharaannya, termasuk melalui kegiatan penanaman bersama instansi terkait,” jelasnya.

Namun, Sekdes juga mengakui bahwa statusnya sebagai hutan primer hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengelolaan lebih lanjut yang dapat memberdayakan masyarakat sekitar.

Pernyataan ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana menjaga kelestarian sekaligus menggali manfaat berkelanjutan.

Ketua Tim Peneliti, Dr T Romi Marnelly, S.Sos., M.Si, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan ini.

“Perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat adat adalah tiga pilar yang menyatu dan memiliki potensi besar untuk menjalin kemitraan yang saling menguntungkan,” tegas Dosen FISIP Universitas Riau tersebut.

Romi melihat Hutan Adat Ghimbo Bonca Lida tidak hanya sebagai aset ekologis, tetapi juga sebagai laboratorium penelitian hidup yang bernilai tinggi.

“Hutan ini adalah identitas masyarakat adat. Ia berpotensi menjadi ruang belajar tanpa harus merusak fungsinya sebagai konservasi. Sinergi kita kunci untuk menjaga kelestariannya sambil mencari model pemberdayaan yang tepat bagi masyarakat,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menekankan pendekatan berbasis kearifan lokal dan penelitian ilmiah. Diskusi yang berlangsung hangat dan partisipatif ini juga menggarisbawahi peran krusial Pemerintah Daerah. Para peserta sepakat bahwa dukungan kebijakan dan fasilitasi dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan tercapainya keseimbangan antara fungsi ekologis dan fungsi ekonomi hutan adat. Tujuannya jelas yakni pemberdayaan masyarakat adat setempat melalui pengelolaan sumber daya hutan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan nilai konservasinya yang tinggi.

Penelitian yang dipimpin Dr. Romi Marnelly ini melibatkan tim multidisiplin, terdiri dari Dr. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos., M.Si; Dr. Defri Yoza, S.Hut., M.Si; Resdati, S.Sos., M.Si; dan Seger Sugiyanto, S.Sos., M.Si.

Keunikan penelitian ini terletak pada keterlibatan langsung mahasiswa Program Studi S1 Sosiologi dan S2 Magister Sosiologi FISIP UNRI. Keikutsertaan mahasiswa ini memberikan pengalaman lapangan yang tak ternilai, mempelajari secara langsung dinamika kompleksitas pengelolaan hutan adat di tengah masyarakat.

Penelitian ini sendiri tidak hanya berfokus di Desa Kampa, tetapi juga menjangkau Desa Koto Perambahan dan Desa Petapahan di Kabupaten Kampar, untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.

Harmonisasi antara pelestarian hutan adat sebagai warisan ekologis dan budaya dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat adat memang merupakan tantangan sekaligus peluang besar.

Diskusi di Desa Kampa ini menjadi langkah awal yang menjanjikan, menanamkan benih harapan bahwa melalui kolaborasi erat antara kampus, desa, masyarakat adat, dan dukungan pemerintah daerah.

Hutan Adat Ghimbo Bonca Lida dapat menjadi model pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. ***

Editor: Fahrul Rozi

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews