Fakta Seputar Kentut dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Ilustrasi

LAMANRIAU.COM – Kamu akan sangat merasa malu bila kentut pada waktu yang kurang tepat, misalnya saat berada di dekat orang lain. Meski begitu, aktivitas alami yang tubuh manusia lakukan ini pada dasarnya memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Apa sajakah itu?

Kentut atau flatus adalah proses pelepasan gas dari sistem pencernaan yang terbentuk sebagai hasil dari pencernaan makanan atau akibat udara yang tertelan. Tubuh manusia secara alami akan melepaskan kelebihan gas melalui anus dengan buang angin maupun lewat mulut dengan sendawa.

Sebagian besar kentut tidak berbahaya bagi tubuh. Bahkan, buang angin yang teratur menandakan bahwa saluran pencernaan dalam kondisi sehat. Tak heran, flatus ini juga menjadi tolok ukur kepulihan pasien setelah mendapatkan obat bius saat operasi.

Seberapa banyak orang sehat kentut dalam sehari? Rata-rata, orang sehat buang angin sekitar 12 – 25 kali per hari. Namun, tak jarang frekuensi ini meningkat bila kamu mengonsumsi makanan yang bikin buang angin.

Secara umum, 99% dari gas yang dikeluarkan saat kamu buang angin adalah kombinasi dari nitrogen (N2), hidrogen (H2), oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), dan metana. Sebagian besar gas tersebut tidak berbau. Namun, jenis makanan tertentu seperti makanan berserat tinggi dan mengandung sulfur bisa memicu timbulnya bebauan.

Beberapa bakteri yang menghasilkan hidrogen sulfida juga bisa menambah bau khas seperti telur busuk. Gas ini umumnya hanya memenuhi sekitar 1% dari keseluruhan gas yang dikeluarkan. Kentut sebenarnya sudah berbau sejak awal dilepaskan. Akan tetapi, butuh waktu beberapa detik hingga bau tersebut mencapai lubang hidung dan diolah di dalam otak.

Gas yang menyebabkan buang angin bisa ditemukan di seluruh saluran pencernaan, termasuk lambung, usus kecil, usus besar, dan rektum. Canadian Society of Intestinal Research membagi dua sumber gas di dalam sistem pencernaan, yakni gas eksogen dan gas endogen.

Gas eksogen berasal dari luar tubuh akibat menelan udara saat makan dan minum, pemasangan gigi palsu yang kurang pas, mengunyah permen karet, maupun merokok. Sedangkan gas endogen diproduksi di dalam tubuh ketika bakteri usus besar mencerna makanan, terutama karbohidrat (pati, gula, serat) yang sulit dicerna.

Selain kedua kondisi tersebut, penyebab buang angin bisa berasal dari pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Ini lebih umum terjadi pada pengidap diabetes dan radang usus.

Kentut dihasilkan oleh gerak peristaltik, yakni rangkaian kontraksi otot usus guna menggerakkan sisa makanan menuju anus. Proses ini dirangsang oleh aktivitas makan yang menjadi alasan mengapa kamu merasa ingin buang air besar setelah makan.

Gerak peristaltik menciptakan bagian bertekanan tinggi yang memaksa isi usus (termasuk gas) bergerak menuju tempat yang tekanannya lebih rendah, yakni ke anus. Gas lebih mudah bergerak dibandingkan komponen lainnya. Gelembung-gelembung gas kecil bersatu menjadi gelembung udara yang lebih besar, lalu bergerak menuju “pintu keluar” tersebut. Setelah jumlahnya cukup, gas akan keluar dari anus. Proses ini menimbulkan suara dan bau khas yang dikenal dengan istilah buang angin atau kentut.

Suara kentut bukan dihasilkan oleh kepakan dua sisi bokong, melainkan getaran dari rektum. Tinggi-rendah dan panjang-pendek nada suara buang angin bergantung pada keketatan otot sfingter (cincin otot lurik yang mengelilingi anus) serta tekanan gas yang akan dikeluarkan.

Manfaat bagi kesehatan tubuh

Buang angin secara teratur bisa menjadi pertanda bahwa sistem pencernaan berfungsi dengan baik. Berikut ini beberapa manfaat buang angin bagi kesehatan.

1. Mengurangi perut kembung

Saat kamu makan, minum, atau mencerna makanan, gas akan terkumpul dalam saluran cerna. Terlalu banyak gas yang menumpuk bisa menyebabkan perut kembung. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, tubuh kamu secara alami akan mengeluarkan gas dengan lebih sering kentut maupun sendawa.

2. Menandakan alergi dan intoleransi makanan

Munculnya gangguan pencernaan berupa perut kembung dan buang air berlebihan dapat menjadi tanda bahwa kamu kemungkinan mengalami alergi dan intoleransi makanan. Jika kamu merasakan adanya kelebihan gas dalam perut setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, cobalah menguranginya sementara waktu.

3. Menurunkan risiko penyakit serius

Riset yang dilakukan peneliti dari University of Exeter dan University of Texas menemukan bahwa gas hidrogen sulfida dalam kentut bisa menjadi kunci pengobatan penyakit serius. Pada tingkat seluler dan jumlah yang kecil, gas kentut mungkin bisa melindungi mitokondria. Mitokondria merupakan bagian dari sel tubuh yang berperan dalam menghasilkan energi.

Nah, perlindungan terhadap mitokondria dipercaya mampu mencegah beberapa penyakit seperti rheumatoid arthritis, serangan jantung, hingga stroke dan demensia. ***

Editor: Fahrul Rozi/Sumber: Hellosehat.com

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews