Oleh: Samad Behrangi
[ bagian 1 ]
SAAT itu adalah malam yang panjang di musim dingin. Di dasar laut itu seekor induk ikan yang sudah tua berkumpul bersama 12.000 anak-anak dan cucu-cucunya, dan mulai menceriterakan kisah ini.
Pada suatu masa adalah seekor anak ikan black fish betina yang tinggal bersama induknya di sebuah telaga kecil di tepi gunung. Rumah mereka berada dalam lindap, lelumut menutup bebatuan, di mana mereka berdua tidur di bawahnya kala malam. Sesekali si ikan kecil melihat cahaya bulan di dalam rumah mereka. Dari pagi hingga malam, sang induk dan anaknya biasa berenang saling berkejaran; setiap hari. Kadangkala mereka bergabung dengan ikan-ikan lainnya, atau keluar dan masuk celah-celah yang sempit melesat cepat bagai mata anak panah. Little Black Fish, si ikan kecil itu, adalah satu-satunya anak yang berhasil hidup dari 10.000 telur yang ditetaskan sang induk.
Selama beberapa hari itu Little Black Fish sepertinya sedang berpikir keras tentang sesuatu hal sehingga sedikit sekali berbicara. Dia hanya berenang perlahan di belakang induknya mengelilingi telaga dan tidak bermain-main dengan ikan-ikan lainnya. Induknya berpikir sang anak mungkin sedang sakit dan berharap akan segera sembuh, seperti biasanya. Kenyataannya, sakitnya si kecil adalah sesuatu yang lain!
Awal suatu pagi sebelum lagi matahari terbit, Little Black Fish membangun-bangunkan induknya dan berkata,
Bunda, nanda ingin bicara denganmu.
Setengah terlelap sang induk hanya menjawab,
Sayang, ini bukan waktunya untuk berbicara. Simpanlah kata-katamu itu untuk nanti. Pergilah berenang.
Tidak, Bunda! Nanda tidak ingin lagi cuma sekadar berenang-renang di sini. Nanda ingin dan harus pergi dari sini.
Kamu benar-benar harus pergi?
Iya Bunda, nanda harus pergi.
Sebentar! Ke mana kamu akan pergi pagi-pagi buta seperti ini?
Nanda mau pergi untuk melihat di mana aliran air ini berakhir. Apakah Bunda tahu, nanda terus bertanya-tanya di dalam hati di manakah ujung akhir dari aliran air telaga kita ini …. Nanda tidak lagi dapat memikirkan hal-hal yang lainnya. Nanda bahkan tak dapat tertidur barang sekelip pun sepanjang malam. Akhirnya, nanda putuskan untuk pergi saja, untuk menemukan di mana aliran air ini berakhir. Nanda juga ingin tahu apa yang terjadi di tempat-tempat lainnya.
Sang induk tertawa.
Ketika Bunda kecil, Bunda biasa juga memikirkan hal-hal semacam itu. Tetapi, nona kecilku sayang, aliran air tiada berawal dan tiada berakhir. Begitulah adanya. Air hanya mengalir dan tak pernah pergi ke mana pun.
Tapi Bunda, bukankah benar bahwa segalanya ada awal dan akhir? Malam berakhir, siang berakhir, minggu, bulan, tahun .
Sudah, lupakanlah cakap tinggi ini. potong sang induk. Pergilah berenang. Sekarang adalah saatnya untuk berenang, bukan berbicara .
Tidak Bunda, nanda sudah bosan dengan berenang seperti ini. Nanda ingin pergi dan melihat-lihat apa yang terjadi di tempat lain. Mungkin Bunda pikir seseorang telah menghasut nanda, tetapi percayalah Bunda pada nanda, nanda sudah memikirkan hal ini sangat lama. Nanda juga sudah belajar banyak hal di sana-sini. Contohnya, nanda tahu bahwa kebanyakan ikan bila menjadi tua mereka sering mengeluh tentang berbagai hal. Nanda ingin tahu apakah kehidupan begitu sederhananya, hanya berkeliling dalam sebuah tempat yang kecil sampai kita menjadi tua dan tak ada hal yang lainnya lagi; atau adakah cara lain untuk menjalani hidup di dunia ini?
Ketika Little Black Fish selesai berbicara, sang induk berseru,
O, anakku tersayang, apa kamu sudah gila? Dunia! Dunia! Apa itu dunia yang lain! Dunia ada di sini, di mana kita berada. Kehidupan adalah sebagaimana kita memilikinya .
Segera setelah itu seekor ikan besar mendatangi rumah mereka dan berkata,
Tetangga, apa yang kau perdebatkan dengan anakmu? Tidakkah kau berencana untuk berenang hari ini?
Mendengar suara tetangganya, sang induk keluar dan berujar,
Apa yang terjadi pada dunia! Sekarang bahkan anak-anak pun ingin mengajari ibu mereka!
Bagaimana bisa? tanya sang tetangga.
Dianggapnya kolam kita ini begitu kecil, lalu dia mau minggat! jawab sang induk dengan kesal. Katanya berulang-ulang: aku ingin pergi melihat apa yang terjadi pada dunia. Kata-katanya begitu tinggi sekali!
Nona kecil, kata sang tetangga kemudian kepada Little Black Fish, sejak kapan kamu jadi seorang sarjana dan filsuf, dan tak mengatakannya pada kami?
Nyonya, jawab Little Black Fish, nanda tak mengerti apa yang Nyonya maksudkan dengan sarjana dan filsuf itu. Nanda hanya bosan dengan cuma berenang-berenang di sini melulu. Beta tak ingin terus melanjutkan hal yang membosankan ini, gembira bagai si pandir. Sampai ketika suatu hari nanti terjaga dan, seperti kalian semua, melihat diri nanda sendiri sudah menjadi tua tapi masih juga pandir seperti saat ini.
Oh, kata-kata apa itu! kaget sang tetangga.
Aku tak pernah berpikir anakku satu-satunya akan jadi seperti ini. sahut sang induk pula. Aku tak tahu setan mana yang telah merasukinya sehingga membuat buah hatiku jadi begini.
Tak sesuatu pun yang membuat nanda jadi dalam keadaan apa pun! seru Little Black Fish berkeras hati. Nanda punya pikiran, kepandaian, dan pemahaman. Nanda punya mata dan nanda bisa melihat.
Dik, kata sang tetangga kemudian pada sang induk black fish, ingatkah kau pada siput sedeng itu?
Ya, kau benar. Dia suka berakrab-akrab pada anakku. Tuhan tahu apa yang seharusnya aku lakukan padanya!
Cukup, Bunda! sahut Little Black Fish. Dia sahabat nanda.
Persahabatan antara seekor ikan dan seekor siput? Bunda belum pernah mendengar hal yang seperti itu!
Dan nanda juga tidak pernah mendengar tentang seekor ikan dan seekor siput saling bermusuhan. jawab Little Black Fish pula. Tapi kalian semua sudah menenggelamkan sahabat nanda yang malang itu.
Sudah, tidak usah mengungkit masa lalu. kata sang tetangga akhirnya.
Nyonya sendiri yang mengungkitnya. balas Little Black Fish.
Siput itu memang layak menerima hukuman mati. kata sang induk seperti tak peduli. Apa kamu sudah lupa hal-hal yang biasanya dia katakan ke mana pun dia pergi?
Kalau begitu, bunuhlah nanda11q juga karena sudah mengatakan hal yang sama!
Singkat cerita, suara-suara perdebatan itu kemudian menarik perhatian ikan-ikan lainnya. Kata-kata Little Black Fish itu membuat marah mereka semua. Satu di antara ikan tua itu berkata,
Apa kamu berpikir kami harus mengasihanimu?
Bocah ini agaknya butuh sedikit tempelengan. kata yang lainnya.
Pergi, hardik sang induk, jangan kausentuh anakku.
Yang lainnya lagi berkata,
Nyonya, bila kau tidak dapat mengajar anakmu dengan benar, kau boleh berharap dia akan mendapatkan hukuman.
Si nyonya tetangga tadi berkata pula,
Aku jadi malu tinggal di sebelah rumahmu.
Yang lainnya akhirnya berkata,
Mari kita lakukan pada bocah ini seperti apa yang telah kita lakukan pada siput tua itu sebelum ia jadi masalah besar.
Ketika mereka mencoba menangkap Little Black Fish, teman-temannya berkumpul mengelilinginya dan membawanya pergi dari keributan itu. Si induk menghantuk-hantukkan kepala dan dadanya dan menangis.
Oh, anakku tersayang sudah meninggalkanku. Apa yang harus aku lakukan? Sungguh terkutuk apa yang telah menimpaku!
Bunda, jangan menangis untuk nanda. teriak Little Black Fish di antara teman-temannya. Menangislah untuk ikan-ikan tua yang tinggal itu.
Jangan sok pintar, bocah! teriak seseorang dari kejauhan.
Bila kamu pergi dan setelah itu menyesalinya, kami tidak akan mengizinkanmu untuk kembali. sahut yang kedua.
Itu cuma khayalan, Nak. Jangan pergi. kata yang ketiga.
Apa memangnya yang salah dengan tempat kita ini? tanya yang keempat.
Tak ada lagi dunia lainnya, Nak. Dunia hanya ada di sini. Kembalilah! seru yang kelima.
Kalau kamu waras dan segera kembali pulang, maka kami akan menganggapmu benar-benar sebagai ikan yang pintar. bujuk yang keenam.
Tunggu, kami sudah terbiasa melihatmu berkeliling . tambah yang ketujuh.
Sang induk menangis,
Maafkan Bunda, Sayang. Jangan pergi! Jangan pergi!
Tetapi Little Black Fish tidak memiliki apa pun lagi yang akan dikatakan pada mereka. Beberapa teman sebaya menemaninya hingga sejauh air terjun. Saat mereka berpisah, dia berkata,
Teman-teman, aku berharap dapat bertemu lagi dengan kalian. Jangan lupakan aku!
Bagaimana mungkin kami akan melupakanmu? kata teman-temannya. Kamu sudah menyadarkan kami dari tidur yang lelap. Kamu sudah mengajari kami banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kami sebelumnya. Kami berharap akan bertemu lagi denganmu, sahabat yang pemberani.
Little Black Fish berenang mengarungi air terjun dan jatuh ke dalam sebuah telaga yang penuh dengan air. Pada awalnya Little Black Fish kehilangan keseimbangannya, tetapi setelah beberapa saat dia mulai dapat berenang dengan baik kembali dan berputar-putar mengelilingi telaga itu. Dia belum pernah melihat air yang begitu banyak terkumpul dalam satu tempat.
Ribuan kecebong menggeliat di dalam air. Mereka tertawa ketika melihat Little Black Fish.
Bentuk yang sungguh lucu! Makhluk jenis apa kamu?
Little Black Fish melihat mereka semua dan berkata,
Tolong jangan menghinaku. Namaku adalah Little Black Fish. Katakan padaku nama-nama kalian supaya kita semua saling mengenal.
Kami satu sama lain saling memanggil dengan nama kecebong. jawab satu di antara mereka.
Kami berasal dari keluarga bangsawan. kata yang lainnya.
Kau tidak akan menemukan satu pun yang lebih cakep daripada kami di seluruh dunia.
Dan kami tidak berbentuk dan berwajah jelek sepertimu. tambah yang lainnya lagi.
Little Black Fish berkata,
Aku tidak menyangka kalian akan begitu angkuh. Baiklah, aku harus memaafkan kalian atas ketidaktahuan kalian itu.
Dalam satu suara para kecebong itu menyelak,
Apa kau bermaksud mengatakan kami bodoh?
Kalau kalian tidak bodoh, jawab Little Black Fish pula, kalian harusnya tahu bahwa banyak lagi makhluk lainnya di dunia ini yang juga bangga dengan penampilannya. Kalian bahkan tidak memiliki nama untuk diri masing-masing kalian sendiri.
Para kecebong itu jadi sangat marah. Tetapi karena mereka tahu Little Black Fish berkata yang sebenarnya, mereka mengubah suara mereka dan berkata,
Sungguh! Kata-katamu omong kosong! Kami berenang mengelilingi dunia setiap hari dari pagi hingga malam, tetapi kecuali diri kami sendiri serta ayah dan ibu kami, kami tidak melihat satu pun makhluk lainnya. Tentu saja ada cacing-cacing kecil, tapi mereka tak masuk hitungan.
Kalian bahkan tidak pernah meninggalkan telaga ini. kata Little Black Fish. Bagaimana mungkin kalian berbicara tentang perjalanan keliling dunia?
Apa! Kamu pikir ada dunia lain selain telaga ini? teriak para kecebong.
Akhirnya! Kalian harusnya heran dari mana air telaga ini berasal dan apa yang ada di luar sana.
Di luar air! seru para kecebong. Di mana itu? Kami belum pernah melihat keluar air. Ha ha ha . Kamu gila!
Little Black Fish juga mulai tertawa. Dia lalu berpikir akan lebih baik bila ditinggalkan saja kecebong-kecebong ini dan pergi menjauh, tetapi ia kemudian mengubah pikirannya dan memutuskan untuk berbicara dengan ibu mereka.
Di mana ibu kalian? tanyanya.
Tiba-tiba suara yang berat dari seekor kodok membuatnya terlonjak. Sang kodok sudah nongkrong di sebuah batu di sisi telaga. Dia melompat ke dalam air mendatangi Little Black Fish dan berkata,
Aku ada di sini. Apa yang kauinginkan?
Halo, Nyonya Besar. sapa Little Black Fish.
Sang kodok menanggapi,
Makhluk tak berharga, sekarang bukan waktunya untuk pamer. Kau bertemu dengan anak-anakku dan mereka mendengarkanmu berbicara hal yang tinggi-tinggi. Aku sudah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa dunia adalah telaga ini. Urus urusanmu sendiri dan jangan kau buat anak-anakku jadi sesat.
Kalau pun Nyonya hidup sampai seratus tahun, jawab Little Black Fish, Nyonya tetap tak lebih dari seekor kodok pandir dan tak tertolongkan.
Sang kodok jadi berang dan melompat ke arah Little Black Fish. Tetapi Little Black Fish melenting dengan cepat dan melarikan diri bagai kilat; mengaduk-aduk lumpur dan cacing-cacing di dasar telaga. (BERSAMBUNG)
