Opini  

Amanah Teknologi dalam Cahaya Pesantren

Penulis bersama siswa didiknya di SMP Islam Qurani Albahjah Pekanbaru.

Oleh: Arfan Yuza A

SEBAGAI guru biologi di sekolah berbasis pesantren, saya sering merenung tentang bagaimana kita harus bersikap terhadap kemajuan zaman, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI. Di pesantren tempat saya mengajar, siswa tidak diperbolehkan membawa perangkat elektronik. Aturan ini bukan karena keterbatasan fasilitas, tetapi karena ingin menjaga suasana belajar yang fokus, tertib, dan beretika. Namun, saya juga sadar bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Dunia luar terus bergerak maju, dan siswa kita nantinya harus bisa menyesuaikan diri. Dari situ saya mulai memandang AI bukan sebagai ancaman, tapi sebagai amanah — sesuatu yang bisa membawa manfaat besar bila digunakan dengan bijak.

Secara ontologis, saya memandang AI sebagai ciptaan manusia, bukan sesuatu yang memiliki kesadaran atau nilai moral. AI hanyalah alat, sama seperti mikroskop dalam pelajaran biologi. Alat itu berguna selama digunakan oleh tangan yang benar. Maka, AI tidak boleh menggantikan peran manusia dalam berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan. Di pesantren, kami selalu diajarkan untuk menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya. Begitu juga dengan AI, hakikatnya tetap sebagai sarana, bukan sebagai sumber kebenaran mutlak. Dengan memahami hal ini, kita bisa menumbuhkan sikap bijak terhadap kemajuan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

Dari segi epistemologis, saya melihat bahwa AI memang membuka jalan baru dalam memperoleh pengetahuan. Ia dapat mengolah data dan memberikan jawaban dengan cepat. Namun, pengetahuan sejati tetap lahir dari pengalaman nyata dan proses berpikir kritis. Dalam mengajar biologi, saya lebih suka mengajak siswa mengamati langsung alam sekitar pesantren — tumbuhan, hewan, dan fenomena kehidupan. Setelah itu, saya jelaskan bahwa teknologi seperti AI bisa digunakan untuk memperdalam hasil pengamatan mereka. Jadi, siswa belajar berpikir ilmiah dan terbuka terhadap pengetahuan, tanpa sepenuhnya bergantung pada mesin. Dengan cara ini, AI justru menjadi pelengkap proses belajar, bukan pengganti.

Sedangkan secara aksiologis nilai menjadi kunci utama. Bagi saya, teknologi harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Di pesantren, kami menanamkan nilai adab, kejujuran, dan tanggung jawab dalam setiap kegiatan belajar. Maka, saat mengenalkan AI kepada siswa, saya juga menekankan pentingnya etika digital. Mereka harus tahu bahwa teknologi bisa menjadi bermanfaat bila disertai niat baik dan kontrol diri. AI tidak boleh membuat kita malas berpikir, meniru tanpa paham, atau mengabaikan nilai kejujuran. Justru, dengan teknologi, kita bisa belajar lebih banyak tentang tanggung jawab dan penggunaan ilmu secara benar.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa AI adalah amanah, bukan ancaman. Ia adalah bagian dari perjalanan manusia dalam memahami ciptaan Tuhan. Tugas kita bukan menolak atau takut, tapi belajar mengelolanya dengan kebijaksanaan. Sebagai guru pesantren, saya ingin siswa-siswa saya tumbuh menjadi generasi yang mampu menapaki kemajuan teknologi dengan hati yang bersih dan pikiran yang tajam. Mereka boleh hidup di dunia digital, tetapi tetap membawa cahaya nilai-nilai pesantren di dalam diri mereka. Dengan begitu, ilmu pengetahuan dan iman bisa berjalan beriringan menuju kemaslahatan bersama. ***

*)Arfan Yuza. A adalah Guru IPA SMP Islam Qurani Albahjah Pekanbaru,
Alumni Universitas Negeri Padang dan Mahasiswa Magister FKIP Universitas Riau.

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews