Opini  

Guru Tangguh, Murid Tumbuh

Oleh: L.N. Firdaus
Pensyarah di FKIP Universitas Riau

PERUBAHAN cepat dalam dunia pendidikan menuntut guru untuk memiliki ketangguhan yang lebih dari sekadar kemampuan mengajar. Di tengah derasnya arus digitalisasi, dinamika karakter siswa, tuntutan administrasi, serta ekspektasi orang tua, profesi guru berada pada persimpangan tantangan yang semakin kompleks. Karena itulah, daya juang (resiliensi) dan minda bertumbuh (growth mindset) menjadi dua kompetensi kunci yang harus dimiliki oleh para pendidik masa kini.

Resiliensi bukan hanya kemampuan untuk bertahan, tetapi juga kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan terus melangkah maju setelah menghadapi kesulitan. Guru yang resilien mampu tetap tenang di tengah tekanan, kreatif mencari solusi, serta konsisten menjaga kualitas pembelajaran meski berada dalam situasi penuh ketidakpastian.

Bertahan, Berubah, Bangkit menjadi fondasi resiliensi guru. Bertahan berarti tetap hadir dengan emosi yang stabil; berubah berarti adaptif terhadap metode pembelajaran baru; dan bangkit berarti kembali mencoba setelah mengalami kegagalan. Ketangguhan ini sangat memengaruhi iklim kelas, semangat belajar murid, hingga budaya sekolah.

Selain resiliensi, guru abad ke-21 juga membutuhkan growth mindset—keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi tepat, dan pembelajaran dari kesalahan.

Guru dengan growth mindset tidak mudah menyerah, terbuka terhadap kritik, berani mencoba metode baru, serta melihat murid lambat belajar bukan sebagai masalah, tetapi sebagai tantangan pedagogis.

Pelaksanaan kegiatan seminar PGRI yang berlangsung di Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Siak, Kamis (27/11/2025).

Mindset berpengaruh langsung pada kreativitas, kualitas pengajaran, hingga kesehatan mental guru. Karenanya, mengubah cara berpikir menjadi langkah awal bagi guru untuk mengubah kualitas praktik mengajar.

Ketangguhan guru bukan hanya soal kemampuan bertahan, tetapi juga komitmen pada panggilan profesi dan dedikasi dalam membentuk generasi masa depan. Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan: tekanan administratif, perubahan teknologi yang cepat, tuntutan sosial, serta keberagaman karakter murid. Untuk itu, guru perlu strategi menjaga semangat juang.

Melalui momentum HUT PGRI ke-80 dan HGN 2025, pesan kunci yang disampaikan adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. PGRI berperan sebagai rumah perlindungan, peningkatan kompetensi, sekaligus wadah kolaborasi bagi para pendidik. Guru dipandang sebagai arsitek utama pembangunan manusia.
Resiliensi dan growth mindset bukan bakat bawaan, tetapi keterampilan yang dapat dilatih seperti otot (muscle memory). Ketika guru memiliki keduanya, maka lahirlah guru yang tangguh—yang bukan hanya mampu mengajar, tetapi menginspirasi.

Pada akhirnya, guru tangguh akan melahirkan murid yang tumbuh, dan pendidikan Indonesia akan melangkah menuju masa depan yang lebih kuat. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews