Opini  

Biologi untuk Mencintai Kehidupan

Penulis saat meneliti etnobotani tumbuhan obat di hutan Universitas Andalas

Oleh : Arfan Yuza. A
Alumni Pend. Biologi Universitas Negeri Padang dan Mahasiswa Magister FKIP UNRI

SAYA pertama kali mengenal biologi di sekolah. Saat itu, saya hanya berpikir bahwa biologi adalah pelajaran tentang tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia. Guru saya di MAN 1 Solok, Pak Mulyadi, memberikan dasar tentang apa itu kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa setiap makhluk hidup punya peran. Saya belajar menghafal sel, jaringan, dan sistem organ. Namun pada masa itu, saya baru sampai pada tahap tahu, belum sampai pada tahap peduli.

Waktu berlalu. Saya melanjutkan kuliah sarjana FMIPA UNP, kemudian menempuh pendidikan magister di FKIP UNRI. Di perjalanan inilah saya pelan-pelan menyadari bahwa biologi bukan hanya pelajaran tentang makhluk hidup, tetapi pelajaran untuk mencintai kehidupan itu sendiri. Ternyata, semakin tinggi pendidikan saya, semakin jelas bahwa perhatian kita terhadap alam bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan.

Ada satu pandangan yang selalu saya ingat dari David W. Orr, seorang tokoh pendidikan lingkungan:

“Tujuan pendidikan bukan hanya membuat kita pintar, tetapi membuat kita peduli dan bertanggung jawab.”

Kata-kata itu menampar saya secara halus. Banyak orang berpendidikan, tetapi tidak semua memahami tanggung jawab terhadap kehidupan di bumi. Kita bisa sangat cerdas secara akademik, tetapi tetap membuang sampah sembarangan, merusak hutan, atau mengabaikan lingkungan.

Kemudian saya menemukan satu kalimat dari Prof. Firdaus LN yang semakin menguatkan pemahaman saya tentang Hakihat Pembelajaran Biologi:

“Guru biologi harus membantu siswa bukan hanya tentang kehidupan, tetapi mencintai dan menjaganya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Pendidikan biologi tidak berhenti pada pengetahuan. Tugas guru biologi adalah menumbuhkan rasa memiliki terhadap alam, menanamkan empati pada makhluk hidup, dan mengajak siswa melihat dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai amanah.

Hari ini, ketika saya melihat fenomena kerusakan lingkungan, perubahan iklim, punahnya spesies, dan sampah plastik di mana-mana, saya semakin yakin bahwa pembelajaran biologi harus membawa kita pada satu kesimpulan: kita tidak bisa menjadi penonton. Kita bagian dari kehidupan, dan kita bertanggung jawab menjaganya.

Biologi bukan hanya teori di kelas. Ia adalah cara pandang. Ia mengajarkan bahwa pohon tidak sekadar berdiri, tetapi memberi napas. Bahwa lebah kecil menjaga keberlangsungan pangan dunia. Bahwa sungai bukan sekadar air mengalir, tetapi sumber kehidupan.

Jika hari ini anak-anak belajar biologi hanya untuk lulus ujian, maka kita telah kehilangan tujuan sebenarnya. Tetapi jika mereka belajar untuk mencintai dan menjaga kehidupan, maka pendidikan biologi telah menemukan maknanya yang sejati.

Karena pada akhirnya, kehidupan bukan hanya untuk dipahami tetapi untuk dihargai, dicintai, dan dijaga. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews