Opini  

Kita dengan Ujian Hidup yang Berbeda-Beda

Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany

HIDUP ini sesungguhnya indah, seindah pagi dengan cahaya alam yang putih berseri. Apalagi bila dipadukan dengan kicau merdu burung-burung yang hinggap di ranting pepohonan, sudah tentu dapat menambah suasana hati kita kian berbunga dipenuhi aroma bahagia.

Akan tetapi, betulkah keindahan (baca : kebahagiaan hidup) itu hanya diperoleh melalui cara demikian (seperti pernyataan di atas?). Atau adakah cara lain yang lebih ekstrim lagi bahwa untuk mendapatkan keindahan dan kebahagiaan memerlukan pengorbanan yang besar, melalui kerja keras dan bahkan harus ditempuh dengan cara apapun jua untuk mendapatkannya?

Terkadang pikiran dan fokus keinginan kita hanya tertumpu pada hasil semata, pada objek keindahan/kebahagiaan itu sendiri, tanpa lagi memperhatikan sebuah proses yang tengah dijalani, bahkan dengan tanpa rasa sadar menyadari jika kebahagiaan yang dititipkan pemberi kebahagiaan (al-Khaliq) kepada kita tak ubahnya sebagai sebuah sarana dalam rangka mendidik dan membentuk keperibadian diri kita agar lebih baik lagi dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Bertitik tolak pada judul tulisan ini,- dan itu ada kaitannya dengan rasa indah dan bahagia yang dirasakan oleh setiap diri kita, sudah tentu setiap kita mengalami ujian hidup yang berbeda-beda – ada yang diuji dengan sakit, kesulitan ekonomi, permasalahan keluarga, rasa takut dan kekurangan, kehilangan harta benda, kematian, dan bahkan kesenangan dan kebahagiaan itu sendiri.

Setiap ujian yang menimpa itu tentu pula akan disikapi dan dihadapi sesuai kadar keimanan diri kita dan batas kemampuan yang dimiliki. Bagaimanapun juga, ujian adalah sunnatullah, ketetapan Allah untuk menguji kesabaran kita, dalam rangka meninggikan derajat hidup serta penghapus akan dosa-dosa kita.

Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan bahwa sakit adalah jalan menuju derajat tinggi di sisi Allah. Semakin besar ujian, semakin besar pula pahala bagi yang mampu bersabar atas rasa sakit yang dideritanya. Orang yang bersabar saat sakit akan dicintai Allah. Itulah kemuliaan yang tidak bisa diukur dengan materi. Selain itu, hadis tentang sabar dan syukur ini tentu mengingatkan kita bahwa cinta Allah itu lebih berharga daripada kesehatan yang kita miliki.

Bila kita mampu membaca hakikat ujian dari Allah, bahwa ujian yang diberikan itu pada dasarnya disesuaikan dengan kapasitas, kemampuan individu dan seringkali menyasar pada titik terlemah seseorang – bukan berarti ujian yang diberikan pada setiap individu itu didasari atas persoalan yang satu lebih ringan dari yang lain atau sebaliknya. Begitulah kita, dengan berbagai ujian yang berbeda yang kadang membuat kita berpikir jika kita berada dinposisi saudara kita dalam menerima ujian itu, mungkin kita tidak sanggup menghadapinya.

Meski ujian hidup kita di muka bumi Allah ini berbeda-beda, dan begitulah takdir dariNya, namun jangan sesekali kita berpikir bahwa ujian yang kita jalani itu lebih besar dan lebih berat dari orang lain. Setiap hati punya bebannya sendiri dan hanya diketahui oleh sang pemiliknya dan Allah saja.

Di satu sisi kita mungkin melihat seseorang itu terlihat kuat dan tegar dalam menghadapi ujian atau musibah yang diberikan kepadanya, tapi siapa tahu di sepertiga malam ia menangis dan tenggelam dalam doanya kepada tuhan. Di sisi yang lain, mungkin dari luar kita melihat seseorang dengan ujian yang menimpanya terlihat hidup tiada lagi berarti seolah-olah kebahagiaan telah berakhir dan menjauh darinya.

Atas segala bentuk dan macamnya ujian yang Allah berikan kepada kita, pada hakikatnya mengandung kebaikan dan kemaslahatan. Yakinlah, bahwa Dia tidak pernah salah dalam memberi ujian. Dia juga Maha Tahu akan batas kemampuan hamba-Nya dalam menjalani ujian itu Jika hari ini kita merasa ujian yang kita jalani terasa berat, ingatlah bahwa tidak ada ujian yang sia-sia dari-Nya. Setiap pedih luka menguatkan, setiap airmata menyucikan, dan setiap kesabaran kita akan mendatangkan pahala yang tak terhingga nilainya.

Sesekali jangan pula pernah membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain. Selalulah fokus pada perjalanan hidupmu sendiri. Hadapi setiap ujian dengan ikhlas, karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Dan di balik setiap ujian, pasti ada rencana Allah yang jauh lebih indah dan lebih baik dari apa yang kita bayangkan.

Sebagai kunci utama dalam menghadapi ujian Allah, lain tak bukan adalah dengan banyak bersabar, bertawakal, berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah dengan tetap berikhtiar, serta mengucapkan istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun). Wallahu a’lam. ***

Bengkalis, 18 Maret 2026 M, bertepatan 28 Ramadan 1447 H.

*) Marzuli Ridwan Al-bantany adalah sastrawan bermastautin di Bengkalis, Riau. Diantara buku esai yang diterbitkannya berjudul Sabda Pujangga dari Negeri Junjungan.

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews