Pertaruhan
Dua pasang mata jatuh
menjadi koin bertaruh atas tubuhku
Kartu-kartu berseteru
setelah aku menjelma rupa lain
Orang-orang makin kencang
mengikat leher di tiang gantungan
demi kunci keselamatan
Setelah itu
kembali dilaga
wajahku berpindah ke panggung jumawa
menebalkan bedak
tiga bidak
Siap ditembak
dan merah adalah as
dengan was-was
Gresik, 4 Juni 2026
Untung
Cukuplah untung disambung
ketika tawa dan isak
saling tabrak
Arloji luput dari denyut pergelangan
semakin mesra
dan akan memangsa
Detak jadi detik berderit
menyimpan ngilu yang sunyi
pada tatapan malam
Sepasang kunang-kunang
mengendapkan cahaya
di saku celana
Gresik, 4 Juni 2026
Hoaks
Kupikir hari akan habis
di sepiring gorengan
Di antara cabai muda
hijau kekuningan adalah kenangan
Nyatanya?
Hari masih gigih
ketika bahasa tumpang tindih
dan lidah belum tuntas
mengecap yang lebih pedas
Kukira kita akan musafir
di antara jumawa wajah-wajah satir
Wajah yang acap kali muntah
setelah mulut menyulut api
pada narasi yang mengunyah diri sendiri
Gresik, 4 Juni 2026
Residium
Setelah musim gugur ada yang masih tinggal
dan tanggal secara janggal
di tanah yang mulai lelah menanggung jejak manusia
Tiga putik tumbuh
merasa angkuh di kaki waktu
di mata tanah yang menunggu hujan
Angin menjadi tebasan pasti bagi dua putik
setelah kisah ditakar masa
dan hutan kehilangan rindang
Satu putik menjadi cantik
sesuai versi dirinya sendiri
dan sunyi menyerupai bisikan sisa musim
yang pernah bermukim di bumi
Yang gugur tidak pernah hilang
Waktu menurunkannya menjadi tanah
dan dari sanalah sunyi diam-diam
menumbuhkan akar baru bagi kehidupan
Gresik, 5 Juni 2026
Anonim
Tiada lagi kutemui namamu
di seluk-beluk ingatan bumi
singgahan mula para pengelana
Sebab mereka telah mengutukmu:
terlampau tergesa kau terbangkan frasa
serupa burung muda baru menggenapi bulu sayap
ingin menaklukkan udara
yang kini sesak asap kota
dan deru mesin penumbang hutan
Kau jatuh sebelum pena kehabisan tinta
kata-kata berserakan
guguran ranting dari pohon ranggas
pada halaman silam yang pernah bernapas hijau
Saksikan tepi pantai itu
serakan botol plastik
dan sunyi laut
perlahan belajar menahan sakit
Menanti ombak
menyapu pasir tergerus waktu
Lalu hilang
berulang
Namun bumi tidak pernah benar-benar lupa
di tanah retak
di laut asin oleh luka
jejak kita tetap baka
sebagai detak yang pernah merusak
Gresik, 5 Juni 2026
Antroposen
Langit dan hamparan air
bertukar tawa
lirih angin menyisir langkah
mengurai sisa hujan
belum tuntas dibaca tanah
Ada riang tertinggal
pada tiap desir dan riak
juga pada gigil embun
meniti ujung rumput
sebelum jejak manusia
mulai mengusik jernihnya
Sepanjang jalan ini
aku pulang ke lambung ingatan
seperti menemukan rumah tua
dengan pintu tetap terbuka
meski halaman mulai sunyi
ditinggalkan rimbun bayang pohon
Sebab pada sisa dahan itu
cericit burung tak lagi menenun udara
mereka mengeja sunyi samar
menjadi selembar hening paling tenang
seakan pagi berbisik lirih:
rawat sisa napas ini
Gresik, 5 Juni 2026
———————-
Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985, serta aktif berkarya sebagai penyair di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, seperti Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, hingga antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku tunggal, ia kerap menghadirkan karya berbentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya bertajuk Dalam Semesta Matamu (2026). *
Baca: Puisi Terjemahan Charles Baudelaire Prancis






