LAMANRIAU.COM, PEKANBARU – Dosen Ilmu Politik Universitas Riau, Saiman Pakpahan menilai, aksi demo massa Aliansi Mahasiswa Penyelamat Uang Negara (Ampun) terhadap Gubernur Riau Syamsuar yang berlangsung, Rabu 2 Juni 2021 lalu, terlalu masuk ke ranah politis, bukan lagi pada unsur penyampaian aspirasi yang tepat.
Saiman mengaku menyesalkan terjadi aksi tersebut. Terlebih jika massa Ampun hanya mengusung kepentingan pihak-pihak tertentu beesifat politis untuk menjatuhkan marwah Gubernur Riau
“Apakah aliansi tersebut benar murni mahasiswa atau jangan-jangan ada ditunggani pihak lain. Jika murni suara mahasiswa, sangat disesalkan dengan membentang spanduk yang bernada menghina tersebut,” kata Saiman, Jumat 4 Juni 2021.
Ia mengatakan, mahasiswa berunjuk rasa hendaknya punya tanggungjawab yang baik, punya izin menyuarakan kehendaknya dan berdemo dengan kesopanan dan kesantunan.
“Tidak menyuarakan hak dengan merusak nilai-nilai demokrasi. Kami berharap pihak berwajib mengusut demo tersebut. Apakah benar datang dari keinginan mahasiswa atau ada pihak-pihak lain mencari keuntungan atas demo mahasiswa tersebut,” sambung Saiman lagi.
Sekretaris Forum Ormas Islam dan Pondok Pesantren (Foristren) Riau Drs. H Rasyidi Hamzah juga menyayangkan aksi yang berlangsung di gerbang depan kantor Kejaksaan Tinggi Riau tersebut. Walaupun akhirnya demo itu dibubarkan polisi karena tak memiliki izin.
“Demo tersebut berlangsung menurut saya dengan cara yang kurang beradap dalam budaya masyarakat Riau yang syarat tata krama dan kesopanan orang Melayu,” kata Rasyidi.
Massa yang mengaku mahasiswa itu, ujarnya, tidak mencerminkan nilai-nilai budaya yang baik dan terkesan tidak punya adab sebagai mahasiswa.
“Dalam menyuarakan kepentingan masyarakat dan negara sangat diharapkan. Tapi harus punya legalitas dan moral yang baik, beradab dan santun. Itulah budaya Melayu yang sesungguhnya. Demo yang dilakukan dalam kondisi daerah masih prihatin kondisi Covid-19 juga melanggar protokol kesehatan,” pungkas Rasyidi. ***






