Cerpen Ainul Mizan: Pesta Pora Orang Besar

MUSIM kemarau belumlah tiba. Tapi suasana panas semakin hari semakin menjadi. Betul, saat ini masih musim penghujan. Tidak perlu kuatir kekurangan air bersih.

Banyak tertempel poster dan plakat di pepohonan sepanjang jalan protokol. Butuh berapa banyak orang untuk menempel di pohon-pohon ya? Sepertinya habis minum air hujan jadi segar dan bersemangat. Maksudnya air hujan yang direbus. Kalau air mentah nanti sakit perut nggak jadi deh nempelin poster.

Di istana, terlihat Raja Trung dikelilingi oleh para hulubalangnya. Nampak serius dan tegang, hanya menambah panas saja. Sepertinya mereka serius membahas rencana pesta pora di Bulan Nopember mendatang.

“Aku harus menang lagi! “, suara Raja Trung menggelegar menyiutkan nyali.

“Ampun raja. Lawan paduka ini berat lho. Orangnya smart”, Senopati Sumonggo mencoba mengingatkan Raja Trung akan lawannya.

“Apa dia pakai smartfren? “, tanya Raja Trung.

“Sepertinya paduka. Maka kita perlu buat terobosan baru agar paduka menang di pesta nanti”, jelas Senopati Sumonggo.

“Bahkan kita perlu mengundang lembaga-lembaga survei negeri seberang. Mereka punya track record yang sangat licin”, Senopati Sumonggo menghentikan perkataannya.

“Hmm… Kalo aku kalah, aku merasa malu besar deh. Lebih baik aku pergi saja dari istana”, gerutu Raja Trung.

“Memang, kalau paduka kalah nggak berhak berada di istana”, sahut Senopati Sumonggo.

“Diam kamu…!!! “, bentak raja.

Senopati Sumonggo dan lainnya hanya bisa menunduk. Kalau Raja Trung sudah marah, pasti ia akan minta dibuatin makanan dan minuman yang paling enak di seantero kerajaan.

“Wes, gini saja. Kamu atur agar aku yang menang. Jika perlu kita bayar para influenzer seperti Abu Gosok, Abu Gosong, dan Abu Sekam. Mereka lihai memanaskan suasana”, perintah Raja Trung.

“Sendika Dawuh paduka”, pamit Senopati Sumonggo sesaat kemudian meninggalkan istana.

Semua penduduk sudah membicarakan pesta pora di Kerajaan Mriki. Dua jagoan akan bersaing memperebutkan hati penduduk. Raja Trung bersaing dengan Patih Joss Tenan. Kasak kusuk rakyat menjagokan Patih Joss Tenan lebih banyak dibandingkan Raja Trung. Bagi rakyat, Patih Joss Tenan sangat simpati. Orangnya cool banget. Sopan dan nggak gampang marah. Saat kampanye online saja, Patih Joss Tenan mengutip hadits Nabi Muhammad Saw.

Hari berganti pekan, dan pekan berganti bulan. Hari H pesta pora pun tiba. Kesibukan di atas panggung begitu luar biasa. Di kursi undangan sudah duduk tamu undangan dari berbagai lembaga survei dan para influencer. Nampak 2 kursi kebesaran di panggung.

“Ambilkan topengku.. !”, perintah Patih Joss Tenan.

“Topeng yang mana?” ujar pengawalnya.

“Yang topeng senyum ramah itu”, jelasnya.

Setelah dipakai, para pengawalnya keheranan. Wajah Patih Joss Tenan lebih sopan, murah senyum dan baik.

“Dengan topeng ini, aku akan menangkan pesta pora tahun ini. Haa haa haa”, teriak Patih Joss Tenan dengan congkaknya.

“Betul tuan. Semua orang tidak tahu bahwa Tuan hanya berkamuflase agar bisa meraih suara yang banyak”, komentar pengawalnya mendukung.

“Kunamakan, strategiku ini adalah strategi Soft Power”, Patih Joss Tenan mendeklarasikan politik pesta poranya.

Hari semakin beranjak siang. Penghitungan suara sudah dimulai. Jangan kuatir kekurangan kue dan makanan.

Terdengar nama Patih Joss Tenan lebih unggul. Bahkan ia berhasil meraih suara terbanyak. Merasa sudah akan kalah, Raja Trung berdiri. Sebelum ia meninggalkan pesta tersebut.

“Aku tidak terima dengan hasil pesta hari ini. Aku ini Raja yang sudah pengalaman”. Usai berkata demikian, Raja Trung pergi. Di belakang diikuti oleh seluruh lembaga survei dan para influencer yang diundangnya.

Di panggung yang tertinggal hanya Patih Joss Tenan. Rakyat sudah berkumpul di sekitarnya. Rakyat berjubel dan sambil berteriak yel-yel. Bahkan pesta hari ini disiarkan secara live ke seluruh pelosok dan kerajaan-kerajaan jajahan. Banyak pihak yang berharap agar ada pendekatan yang baik Kerajaan Mriki kepada seluruh kerajaan bawahannya. Harapan besar bertumpu di pundak Patih Joss Tenan.

“Hidup Joss Tenan, Hore… hore… “, yel-yel gembira membahana. Di tengah hiruk pikuk yang euforia tersebut, seketika Patih Joss Tenan berdiri.

“Wahai rakyatku, dengarkanlah…! Patih Joss Tenan membuka suara.

Segera suasana menjadi hening dan sepi.

Patih Joss Tenan lalu membuka topeng wajahnya. Rakyat di seantero negeri kaget bukan kepalang. Ternyata sosok yang dikenal cool, sopan dan baik ini, wajah aslinya tetap sama dengan Raja Trung. Sama-sama kejam. Bedanya hanya smart bila dibandingkan Raja Trung.

“Aku akan tetap memusuhi kelompok ekstremis agama. Aku tetap akan menggaungkan War on Terorisme. Kerajaan Mriki akan tetap mengutus para borjuis untuk menarik pajak dan kekayaan hasil bumi kerajaan-kerajaan bawahan. Program moderasi Islam harus tetap berlanjut”, demikian pidato pertama Patih Joss Tenan.

Rakyat masih ternganga. Mereka mengandaikan nasibnya seperti pindah dari mulut macan menuju mulut buaya. Rakyat bingung dan kalut. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Di arena pesta pora tersebut rakyat pingsan bebarengan.

Di rumah sakit, rakyat dirawat. Mereka sadar. Mereka ingat. Mereka sangat menyesal. Andai saja pesta pora tersebut hanya ada dalam dunia fantasi. Akan tetapi mereka bisa memegang badannya sendiri dan badan orang lain. Ternyata ini adalah nyata. Nyata dalam penderitaan dan terus terjajah oleh para raja. ***

*) Cerpen ini dikutip dari Cendekiapos.com

Baca: Cerpen Warits Rovi: Lebaran, Ibu, dan Seekor Kucing

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews