Cerpen Katarina Retno Triwidayati: Melukis Langit

SEORANG perempuan berjalan terseok-seok. Dari pakaiannya yang serbamini dan terbuka serta bibirnya yang bengkak, siapa saja bisa berprasangka buruk tentangnya. Tangannya menggenggam sebotol minuman keras, murahan. Sebatang rokok terjepit di jemari tangan kirinya.

Tas kecil merah dengan tali serupa rantai menggantung di bahu kanannya, sesekali melorot jatuh. Perempuan itu menariknya begitu saja seolah itu bukan barang penting. Sesekali ia berhenti. Dia berdiri dan menekan perut dengan botol atau menepuk-nepuk dadanya.

Perempuan itu melihat seorang gelandangan tidur beralas koran di emperan sebuah toko. Saat perempuan itu sampai di dekatnya, ia mendengar gelandangan itu mengatakan sesuatu. Mungkin mengigau? Memanggil seseorang?

Perempuan setengah mabuk itu berhenti. Dia berusaha mencermati. Namun, sesungguhnya ia menyadari pandangannya tak sepenuhnya jernih. Dari caranya meringkuk, sepertinya gelandangan itu kedinginan. Bisa juga kelaparan. Atau kesepian.

“Kau baik-baik saja?” tanya perempuan itu. Ia kemudian tertawa sendiri karena menyadari kata-katanya lucu. Jelas gelandangan itu meringkuk dengan merekatkan seluruh tubuhnya. Serupa janin di dalam rahim seorang ibu. Perempuan itu tersenyum patah menyadari hal itu.

Perempuan setengah mabuk itu berjongkok. “Hei, kau tampaknya butuh bantuan. Sebentar.” Perempuan itu mencari sesuatu di tasnya. Ia lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian dia duduk di sisi gelandangan tua itu.

Perempuan itu duduk bersandar di dinding. Tampaknya ia tak peduli apakah dinding atau jalanan itu kotor atau bersih. Dia duduk dan memandangi langit. Rokok di tangannya sudah habis dan dilemparkannya sembarangan ke jalanan yang sepi serupa jalan di kota mati.

Tak lama, seseorang datang membawa bungkusan makanan dan minuman. Perempuan setengah mabuk itu menerima lalu orang itu pergi. “Bangunlah,” kata perempuan itu.

Si gelandangan bergumam tak jelas. Perempuan setengah mabuk itu membantu gelandangan untuk duduk. Keduanya bersandar. Perempuan itu membuka plastik. Mula-mula ia mengulurkan minuman. “Ini … hm, ini kopi panas. Aku tidak tahu apakah ini baik untukmu atau tidak, tapi minum saja.”

Gelandangan itu bergumam lagi. Mungkin mengucapkan terima kasih. Ia menerima kopi panas. Menyesapnya sedikit. Matanya nyalang ketika aroma makanan menguar dan berputar-putar di antara mereka. Perempuan setengah mabuk itu tahu, gelandangan ini kelaparan. Mungkin sudah lama tidak makan. Ia lekas menyerahkan bungkusan itu. Setangkup roti dengan daging dan sayuran.

“Siapa namamu?” Gelandangan itu bertanya di antara kunyahannya.

“Re. Panggil aku begitu. Kau?”

“Ri. Panggil saja begitu.”

“Kau tidak punya keluarga?”

“Apa itu penting?”

Re, perempuan setengah mabuk itu, tertawa. Tangannya mencari sesuatu dari tasnya. Ia mengeluarkan rokok. Si gelandangan meremas kertas bungkus roti dan memasukkannya ke plastik. Keduanya duduk bersisian. Ri, gelandangan, meniup kopi dan menyesapnya kemudian. Re, perempuan setengah mabuk dengan pakaian serbaminim, mengisap rokok dan mengembuskannya perlahan.

“Kau selalu ada di sini?” Re memecah keheningan antara keduanya.

“Kau selalu lewat sini?”

Re mengisap rokoknya, melepaskan asapnya, lalu menjawab, “Entah. Hidupku berjalan begitu saja. Bisa jadi memang aku selalu lewat sini.”

Keduanya diam lagi. Re meraih botolnya dan menenggak isinya. Lalu melanjutkan merokok.

“Apa yang kaucari, Re?”

Re menoleh. Diamati lelaki kusut di sampingnya itu. Kepalanya tertutup topi. Jambangnya tak beraturan. Re bisa melihat lelaki itu memiliki bibir yang sedikit tebal. Hidungnya sedikit bangir.

“Apa yang kucari? Jelas mencari uang untuk makan. Kujual tubuhku dan aku menerima uang. Kenapa? Kau baru saja makan dari hasilku mengangkang. Apakah rasanya legit?”

Lelaki itu tertawa. “Kau tahu, makanan itu membuatku kenyang. Kurasa kau pantas mendapat lebih banyak kebaikan karena kau pun baik.”

“Aku tidak paham apa yang kaukatakan. Otakku tidak pernah kuatur untuk memahami hal-hal semacam itu. Aku hanya tahu kau butuh makan. Aku belikan. Kau makan dan kenyang. Selesai.”

“Kau benar. Aku berterima kasih padamu. Lihat di sana!” Lelaki itu menunjuk langit. Re merasa sedikit pusing dan dadanya kembali terasa sakit. Entah karena apa. Namun, ia mengikuti arah telunjuk lelaki itu.

“Di sana, ada bintang. Kau lihat? Kau tahu rasi bintang? Kita bisa menghubungkan titik satu dengan yang lain dan akan membentuk sesuatu. Hmmm … imajinasi mungkin, ya? Entahlah. Bayangkan saja, jika kau gerakkan jemarimu ke langit sana. Apa yang mau kaulukis?”

Re mengangkat tangannya. Telunjuknya mengacung dan bergerak perlahan. “Aku ingin melukis bayi. Bayi perempuan yang gemuk. Dengan rambut tebal dan ikal. Jemarinya mungil, bibirnya kemerahan. Hidungnya mungkin sedikit pesek. Matanya, nanti jika sudah bisa membuka mata, bulat dan jernih. Mata itu nanti akan menatapku penuh cinta ….”

“Seorang anak perempuan yang cantik. Kau tahu, aku bisa melihat lukisanmu. Aku akan tambahkan di sini, boneka beruang yang lembut.” Lelaki itu menggerakkan telunjuknya seolah melukis di langit. “Karena dia anak perempuan, aku akan memberi warna boneka beruang itu cokelat yang lembut. Kau tahu, aku menambahkan selimut dengan motif bintang dan bulan sabit untuk menutupi tubuhnya. Hei, anak perempuanmu itu agak aktif, lihat, kaki kirinya keluar dari selimut.”

“Namanya, Rin. Panggil dia Rin.” Re tersenyum. Ia menggerakkan jemarinya lagi dan berkata, “Aku ingin sekali menambahkan mainan di sini. Mainan yang bisa mengeluarkan musik yang sangat lembut. Musik yang bisa menenangkannya ketika ia gelisah, atau mungkin ketakutan. Ada gantungan … yah, aku setuju soal bintang dan bulan sabit. Aku ingin memberi mainan gantung berwarna biru muda, dengan hiasan bintang berwarna kuning, bulan sabit yang berkedip, dan musik. Ah, Rin akan tersenyum melihatnya nanti.”

“Hei, aku ingin menambahkan kursi goyang di sini, boleh? Di situ kau duduk setengah tertidur dan memandangi Rin dengan senyum bahagia. Kau ingin kulukis bersama seseorang? Seorang pria?”

“Untuk apa?”

“Untuk apa? Bukankah Rin ada karena ….”

“Rin ada begitu saja. Tentu saja aku bukan perempuan yang mengandung karena sesuatu yang ajaib. Bukan.” Re tertawa pahit. “Aku tahu siapa pendonor sperma itu. Namun, apa artinya?”

“Kenapa kau berpikir demikian?”

Re tidak menjawab pertanyaan Ri. Ia sibuk memandangi langit yang penuh dengan lukisan. Ada boks bayi dengan seorang anak perempuan tidur di dalamnya. Salah satu kakinya menyembul dari selimut itu. Re melihat di sisi boks bayi itu dirinya duduk setengah tertidur seraya memandangi Rin, bayi lucu itu.

“Kau rindu Rin?”

“Anak yang bahkan tidak bisa kutimang? Yang harus kuhancurkan sebelum dia berbentuk?” Ada perih mencengkeram perutnya. Seperti ada sesuatu dalam perutnya. Terasa panas juga pedih, seperti ada besi merah membara. Kepalanya terasa sakit seperti ditusuk paku yang teramat besar.

“Kenapa?”

“Kepalaku sakit. Perutku juga.”

“Karena apa?”

“Entahlah ….” Re mengangkat kedua kakinya. Benar-benar tak peduli orang akan melihat pahanya yang mulus. Tak peduli celana dalam merahnya. Tak peduli kaki belalangnya tak bisa menutup sesuatu yang mungkin seharusnya ditutup. Lelaki gelandangan itu membuka jaketnya yang kusam dan kotor. Ditutupnya bagian depan tubuh Re. Gadis itu perlahan menggigil.

“Kau kenapa?” Tangan Ri terulur dan terkejut karena kening perempuan di sebelahnya itu terasa panas.

“Nggak tahu. Aku kedinginan. Tapi ini aneh. Aku tak pernah kedinginan sebelumnya. Apa mungkin aku akan mati?”

“Kau merasa akan mati?”

“Mungkin aku ingin mati. Apa itu salah?”

“Entahlah. Kenapa tidak berusaha hidup?”

“Untuk apa? Untuk melanjutkan kehancuran?”

“Kau bisa memilih untuk tetap ….”

“Berpura-pura utuh meski sudah tak berbentuk?” Re memutus kata-kata Ri. Gemerisik dedaunan dibelai angin terdengar lirih. “Ri?”

“Hmm?”

“Apa surga itu ada?”

“Mungkin ada. Kenapa kau bertanya begitu?”

“Pikirkan ini, Ri. Jika bercinta itu adalah surga dunia, apakah kau pikir surga di sana berbayar, Ri? Aku biasanya mendapatkan uang dari bercinta.” Re terkekeh pelan. Ia menghisap rokoknya dan mengembuskan perlahan.

“Kita membayar dengan berbuat baik, Re. Sepertimu. Memberiku makan.”

Re tertawa. Tawa yang kering seperti tanah yang pecah berbongkah-bongkah. “Di sana akan ada Tuhan? Tuhan atau Tuan, Ri?”

Lelaki itu menggeleng. Ia mengangkat tangannya ke langit dan menggerakkan jemarinya. “Re, aku akan melukis lagi untukmu. Di sini, kau berdiri sangat cantik. Bagaimana dengan gaun berwarna putih?”

“Aku tidak suka warna putih, Ri. Aku suka warna merah. Merah darah.”

“Aku pun suka warna itu. Baiklah, lihat, Re. Lihat, jangan memejamkan mata. Lihat aku melukismu di sini. Dengan gaun berwarna merah. Merah darah. Dengan hiasan rambut dari bunga … kau suka bunga apa?”

“Apa saja, lukislah untukku.”

“Ah, tidak Re. Rambut bergelombangmu biarlah tergerai begitu saja. Kau saat ini memakai pakaian yang sangat minim, tapi aku akan melukismu dengan gaun panjang yang tertutup. Elegan. Kau bisa melihatnya, Re?”

Re mengangguk lemah. Nyeri di perutnya makin menjadi-jadi. Rasanya besi membara memang ada di perutnya. Besi itu menusuk-nusuk dan melepuhkan rahim, mungkin juga jantung, ginjal, atau apa pun yang ada di sana. Rasanya kepalanya pecah burai dengan darah muncrat di mana-mana. Darah berleleran dan keluar perlahan dari hidungnya yang mancung. Darah itu perlahan menyentuh bibirnya yang diberi pewarna merah menyala. Lalu darah yang lain mengalir dari ujung bibirnya yang terbuka. Mengalir perlahan menuruni leher jenjangnya, kemudian lenyap di lembah di antara kedua bukit ranumnya.

“Kau akan dijemput oleh pengantin laki-laki yang sangat tampan. Lihat Re, dia berambut ombak serupamu. Lihat jambangnya, senyum malaikatnya, juga bibirnya yang tipis, Re. Lihat tatapannya yang selembut kapas. Re, lihat! Dengar aku, Re! Pengantinmu mengulurkan tangan padamu. Kau bisa lihat dia punya luka di kedua telapak tangannya? Mungkin di telapak kakinya? Apakah mungkin dia juga punya luka di lambungnya? Re?”

Re melepaskan napas seperti membuang sesak di dada. Otaknya telah meledak dan berserakan. Diukirnya senyum dan ia mencoba melihat lukisan di langit. Meski sebenarnya dia hanya melihat dalam kekosongan sebab matanya memang perlahan kosong.

Malam sunyi. Tak ada suara napas Re. Bahkan tak terdengar desir angin malam menjelang dini hari di Oktober yang sepi.

“Re, terima kasih telah memberiku makan. Kita bertemu di sana.” Gelandangan itu menurunkan tangan perlahan. Sama seperti udara yang mengambang, ia berhenti melukis langit. ***

*) Cerpen ini telah ditayangkan di Tribunjabar.id pada 3 Januari 2021

——————-
Katarina Retno Triwidayati, M.Pd., merupakan ibu dua anak yang bekerja sebagai dosen di Univeritas Katolik Musi Charitas. Beberapa artikel dan cerita pendeknya telah dimuat di majalah/koran daerah/nasional.*

Baca: Cerpen Ainul Mizan: Pesta Pora Orang Besar

Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews